Seminar Psikologi Transpersonal

Seminar Psikologi Transpersonal.

Asesmen Pegawai

Asesmen Pegawai.

Proses Rekrutmen Karyawan

Proses Rekrutmen Karyawan.

Pelatihan Pembelajaran Bahasa Inggris Menggunakan Flash Card

Pelatihan Pembelajaran Bahasa Inggris Menggunakan Flash Card.

Pelatihan Psikologi Transpersonal Dalam Menjawab Realita Kehidupan

Pelatihan Psikologi Transpersonal Dalam Menjawab Realita Kehidupan.

Rabu, 19 Februari 2014

GANGGUAN MENTAL ORGANIK (Organic Mental Disorder)

I. PENDAHULUAN
                Psikosa (psychosis) merupakan bentuk gangguan mental yang ditandai dengan adanya diorganisasi kognitif, diorientasi waktu, ruang, orang, serta adanya gangguan dalam emosionalnya.  Keadaan tersebut menyebabkan penderita mengalami disintegrasi kepribadian, yang dapat menyebabkan terputusnya hubungan dirinya dengan realita, bahkan dapat menggangu fungsi sosialnya.  Pada beberapa kasus disertai adanya halusinasi dan delusi. 
Menurut Kartini Kartono (1989), psikosa dibagi dalam dua golongan, yaitu: organic psychosis (psikosa organik) dan functional psychosis (psikosa fungsional).  Organis psychosic disebabkan oleh adanya gangguan pada faktor fisik/organik dan faktor intern, yang menyebabkan penderita mengalami kekalutan mental, maladjusment, dan inkompeten secara sosial.  Pada umumnya penyakit ini disebabkan  oelh adanya gangguan pada otak serta fungsi jaringan-jaringan otak (terjadi organic brain disorder).  Hal ini mengakibatkan berkurangnya/rusaknya fungsi-fungsi pengenalan, ingatan, intelektual, perasaan dan kemauannya.
II. ORANIC MENTAL DISORDER
            Gangguan mental organik merupakan gangguan-ganguan yang dikaitkan dengan disfungsi otak secara temporer atau permanen.  Oeh karena itu, ganguan mental organik disebut juga organic brain syndromes, yang dikelompokkan dalam 7 tipe (Choca, 1980), yaitu :

No.
Nama Gangguan
Karakteristik utama
1
Demensia
Gangguan fungsi intelektual
2.
Delirium
Gangguan konsentrasi dan kesadaran
3.
Sindrom amnesic
Gangguan memori
4.
Sindrom delusi organic
Munculnya khayalan-khayalan
5.
Halusinasi organik
Munculnya halusinasi
6.
Sindrom mental organik
Gangguang pada fungsi emosi
7.
Intoksikasi
Gangguan intelektual dan fungsi motorik
8.
Withdrawals
Gangguan intelektual czn fungsi motorik

            Gambaran umum gangguan mental organik (Rathus & Nevid, 1991) yaitu :
1.      Penurunan fungsi intelektual dan memori
2.      Gangguan dalam bahasa (language) dan berbicara (speak)
3.      Disorientasi waktu, ruang, dan orang
4.      Gangguan motorik
5.      Gangguan dalam pembuatan keputusan tindakan
6.      Ketidakstabilan perasaan dan emosi
7.      Perubahan kepribadian

Sulit untuk melakukan diagnosa yang tepat pada perilaku abnormal yang disebabkan oleh faktor organik.  Kerusakan otak mengakibatkan simptom-simptom yang bervariasi, tergantung pada faktor lokasi dan luasnya area kerusakan, dan adanya kemampuan penderita dalam mengatasinya, serta adanya dukungan sosial (social support).
            Kerusakan pada struktur terntu atau bagian yang mempunyai fungsi tertentu, dapat menyebabkan terganggunya fungsi tersebut.  Misal, bila yang mendapat gangguan kerusakan adalah area bicara motoris, maka individu tersebut akan mengalami kesulitan untuk berbicara (secara motorik).
            Kerusakan pada area otak yang sama, tidak selalu mengakibatkan pola simptom yang sama; mungkin dikarenakan terjadinya perubahan minor pada tempat terjadinya kerusakan; mungkin karena faktor psikologis yang berinteraksi dengan faktor organik.  Dengan mengetahui luas dan lokasi kerusakan pada otak dapat membantu menentukan range dan beratnya kerusakan.  Makin meluasnya kerusakan otak, makin luas pula kerusakan pada fungsinya.
            Diagnosis dini dari simptom-simptom yang terjadi, memungkinkan beberapa gangguan kondisi organik dapat segera diobati atau dipulihkan, dengan menggunakan treatment yang tepat.  Misal, treatment yang tepat untuk tumor otak adalah dengan pembedahan/operasi, bukan dengan psikoterapi.
            Pada umumnya, gangguan mental organik disebabkan oleh kerusakan atau trauma otak, penyakit (disease), ketidakseimbangan nutrisi.
            Gambaran utama dari gangguan mental organik yaitu :
1.      Gangguan fungsi kognitif
Meliputi gangguan daya ingat (memory), daya pikir (intelect), daya belajar (learning)
2.      Gangguan sensorium
Misalnya, gangguan kesadaran (consciousness) dan perhatian (attention)
3.      Sindrom dengan manifestasi yang menonjol dalam bidang :
·         persepsi (halusinasi)
·         isi pikiran (waham/delusi)
·         suasana perasaan dan emosi (depresi, gembira, dan cemas)
(PPDGJ-III, 1999)

III. DELIRIUM
            Delirium berasal dari bahasa latin; de = dari, lira = garis/line: yang berarti menyimpang dari garis atau norma, dalam persepsi, kognitif, dan perilaku.  Delirium merupakan sindrom yang meliputi keadaan mental yang kacau dan kesulitan dalam meusatkan perhatian/konsentrasi (Rathus & Nevid, 1991); yang mungkin disebabkan oleh gangguan fisik seperti benturan pada kepala, infeksi otak, intoksikasi atau pasca penggunaan zat-zat psikoaktif.
1.      Diagnosa dan gambaran umum penderita
  1. Gangguan kesadaran
Yaitu dari taraf kesadaran berkabut sampai dengan koma
  1. Gangguan perhatian
Penderita mengalami penurunan kemampuan untuk mengarahkan, memusatkan, dan mengalihkan perhatian, sehingga penderita mengalami kesulitan untuk mengikuti pembicaraan yang berpindah topik pada waktu yang hampir bersamaan.  Penderita juga mengalami penurunan perhatian terhadap lingkungannya.
  1. Gangguan kognitif secara umum
·         Penderita mengalami halusinasi (terutama halusinasi visual), ilusi, dan distorsipersepsi Ikesalahan interpretasi pada stimuli sensori)
·         Mengalami hendaya daya ingat dan pengertian abstrak, dengan/tanpa waham yang bersifat sementara.  Tetapi sangat khas terdapat inkoherensi yaitu penderita tidak dapat mengorganisasikan pikirannya (mengalami kekacauan), yang diperlihatkan dengan berbicara melantur dan kacau (tidak mempunyai arti).
·         Mengalami hendaya daya ingat segera dan jangka pendek, namun daya ingat jangka panjang masih utuh.
·         Mengalami diorientasi waktu.  Pad kasus yang berat, terdapat juga disorientasi tempat dan orang.
  1. Gangguan psikomotor
·         Penderita mengalami hipo atau hiper-aktivitas yang tidak terduga.  Terjadi fluktuasi yang cepat antara keadaan gelisah (restlessness) dan keadaan  pingsan (stupor).
·         Waktu bereaksi yang lebih panjang
·         Arus pembicaraan yang bertambah atau berkurang
·         Reaksi terperanjat meningkat
·         Melakukan gerakan yang tidak ada tujuannya dan tidak tenang, misal memukul obyek yang tidak jelas.
  1. Gangguan siklus tidur-bangun
·         Penderita mengalami insomnia atau tidak bisa tidur samasekali (pada kasus yang berat); atau mengalami terbaliknya siklus tidur bangun, mengantuk pada siang hari.
·         Gejala-gejala makin memburuk pada malam hari dan dalam keadaan tidak bisa tidur
·         Mengalami mimpi buruk dan sering terjaga dari tidur.  Mimpi buruk tersebut dapat berlanjut menjadi halusinasi setelah bangun tidur.
  1. Gangguan emosional
Penderita dapat mengalami depresi, anxietas, lekas marah, euforia, apatis, atau merasa kehilangan akal.
  1. Onset biasanya cepat, perjalanan penyakitnya hilang-timbul sepanjang hari, dan keadaan itu berlangsung kurang dari 6 bulan.
(Rathus & Nevid, 1991; PPDGJ-III, kategori diagnosis F05)

2.      Faktor Penyebab
Delirium disebabkan oleh kombinasi gangguan menyeluruh pada proses metabolisme otak dan ketidakseimbangan neurotransmitter otak.  Delirium dapat terjadi secara tiba-tiba yang dikarenakan adanya trauma atau luka di kepala.  Dapat juga berkembang secara bertahap selama beberapa jam/hari yang secara umum disebabkan oleh infeksi, demam atau gangguan metabolisme.
Secara umum, delirium disebabkan oleh :
·         Infeksi
·         Trauma kepala
·         Gangguan metabolisme yang disebabkan oleh liver atau ginjal, hipoglikemia, kekurangan thiamine, efek pembedahan, intoksikasi dan pasca penggunaan zat psikoaktif.
 ·         Banyak faktor penyebab yangv tidak bisa diidentifikasi
(Rathus & Nevid, 1991)

3.      The DT’s (Delirium Tremens)
             Kasus delirium banyak terjadi pada pengguna drug yang secara tiba-tiba menghentikan penggunaannya, umumnya terjadi pada kasus alkoholik.
             Diagnosa dan gambaran umum penderita :
·         Penderita mengalami diorientasi
·         Penderita mengalami gangguan persepsi dan dapat menalami halusinasi hal-hal yang menakutkan
·         Penderita mengalami gangguan pemusatan perhatian dan gangguan bicara (speech)
·         Mengalami gangguan kesadaran
·         Tremor terjadi dalam beberapa jam pertama setelah menghentikan penggunaan drug.
·         Serangan kejang-kejang dapat terjadi setelah 24 jam
·         Delirium tremens dapat  sembuh setelah seminggu atau lebih

4.      Treatment
             Delirium dapat dipulihkan melalui treatment yang tepat dengan mendasari pada kondisi organiknya.  Treatment tersebut bisa sangat singkat, biasanya berkisar satu minggu, dan jarang lebih dari sebulan.  Jika kondisi fisik mengalami kemunduran, dapat terjadi koma atau kematian.
             Treatment terbaik di lakukan di rumah sakit, karena penderita dapat dipantau perkembangannya dan dapat dilakukan terapi obat (tranquilizers) untuk meringankan simptom-simptomnya terutama pada penderita delirium tremens; serta akan mendapat dukungan (suport) dari lingkungan.

IV.    SINDROM AMNESTIK (AMNESIA)
Sindrom amnestik atau disebut juga amnesia, memiliki karakteristik utama terjadinya kemunduran fungsi daya ingat (memoru) yang cukup tajam, baik memori jangka pendek (short-therm memory) maupun memori jangka panjang (long-term memory).
            Ada dua macam amnesia, yaitu :
1.      Amnesia disosiatif (PPDGJ-III:F44.0)
Yaitu amnesia yang memiliki ciri utama hilangnya daya ingat, biasanya mengenai kejadian penting yang baru terjadi (selective), misalnya kejadian yang traumatis atau stressful, yang bukan disebabkan oleh gangguan mental organik, dan terlalu luas untuk dijelaskan atas dasar kelupaan yang umum terjadi atau atas dasar kelelahan.
2.      Sindrom amnesik organik
Yaitu amnesia yang disebabkan oleh adanya ganguan organik/fisik, yang akan dijelaskan pada bagian berikutini :
Ada dua macam amnesia yang disebabkan oleh gangguan mental organik :
a.        Retrograde amnesia, yaitu hilangnya ingatan tentang kejadian-kejadian sebelum problem fisik yang menjadi penyebab amnesia
b.       Antedrograde amnesia, tidak dapat mempelajari atau mengingat kejadian-kejadian setelah terjadi kerusakan (Mulyani, 1999).

1.      Diagnosa dan gambaran umum penderita
a.. Ketidakmampuan daya ingat
·         Hendaya memori jangka pendek, yaitu mengalami ketidakmampuan untuk mengingat hal-hal baru (lemahnya kemampuan belajar materi baru).  Penderita tidak mampu mengingat orang atau nama orang yang baru ditemui lima atau sepuluh menit yang lalu.
·         Hendaya memori jangka panjang, yaitu mengalami ketidakmampuan untuk mengingat hal-hal atau pengalaman di masa lalu dalam urutan terbalik menurut kejadiannya.
·         Daya ingat segera (immediate memory/recall) masih berfungsi dengan baik , misal masih dapat untuk mengulang menyebutkan deret angka.
c.       Penderita tidak mengalami gangguan perhatian (attention) dan kesadaran (consciousness).  Fungsi intelektual secara umum masih baik.
d.      Keadaan amnesia ini membuat penderita merasa terganggua karena hilangnya identitas diri.  Untuk menutupi hal ini, penderita mungkin mengingkari problem memorinya ini atau kadang mengakuinya tapi tampak bersikap tak acuh dan ditutup dengan obrolan.
(Rathus & Nevid, 1991; PPDGJ-III, kategori diagnosis F04)

2.      Faktor Penyebab
Amnesia dikategorikan sebagai akibat ganguan organik, secara umum disebabkan oleh :          
  1. Traumatic event, yaitu terjadi benturan pada kepala (trauma kepala), electric shock, dan operasi
  2. Penyebab non-tramatic event, yaitu :
·         Tumor kepala
·         Efek sekunder dari pembedahan pada otak
·         Infeksi (meningitis tuberkulosis, post-encephalitis, herpes simplex)
·         Hypoxia (kekurangan oksigen pada otak secara tiba-tiba)
·         Infarction (ganguan pembuluh darah otak sehingga terganggu pula proses suplai zat-zat penting ke otak) yang lebih dikenal dengan penyakit stroke.
  1. Penyebab lainnya yaitu akibat pemakaian alkohol yang kronis

3.      Alcohol Amnestic Disorder
Gangguan amnesia dapat juga disebabkan oleh penggunaan alkohol yang kronis.  Diagnosis pada sindrom amnesik organik alkoholik adalah :
a.       Sindrom amnesik yang disebabkan oleh zat psikoaktif harus memenuhi kriteria umum untuk sindrom amnesik organik (PPDGJ-III: F04), yaitu seperti yang tersebut di atas.
b.      Syarat utama untuk menentukan diagnosis adalah :
1)      Adanya gangguan daya ingat jangka pendek, gangguan sensasi waktu (gangguan pada penyusunan kembali urutan kronologis, peninjauan kejadian yang berulang menjadi satu peristiwa, dll).
2)      Tidak mengalami gangguan daya ingat segera (immdiate memory/recall)
3)      Adanya riwayat atau bukti yang obyektif dari penggunaan alkohol atau zat yang kronis (terutama dengan dosis tinggi)
(PPDGJ-III: F10.6)
            Menurut DSM-II-R (Rathus & Nevid, 1991), penyebab umum sindrom amnesia adalah defisiensi thiamine yang disebabkan oleh penggunaan alkohol yang kronis.  Seorang alkoholis cenderung tidak memperhatikan kebutuhan nutrisi tubuhnya, terutama thiamine. 
            Alcohol amnestis disorder sehingga menyebabkandefisiensi thiamine, sering juga disebut dengan Korsakoff’s syndrome, meskipun korsakoff’s syndrome itu sendiri tidak hanya terbatas pada alkoholik.
            Korsakoff’s syndrome seringkali diikuti oleh serangan akut gangguan lain, yaitu Wernicke’s disease, yang memiliki karakteristik :
·         mengalami kebingungan (confusion) dan disorientasi
·         Ataxia, yaitu gangguan keseimbangan motorik kaki, terutama bila sedang berjalan
·         Paralysis (kelumpuhan) otot-otot  yang mengontrol gerakan mata.
Apabila simptom pada Wernike’s disease hilang, penderita akan kembali pada keadaan korsakoff’s syndrome dan mengalami gangguan daya ingat.  Menurut    DSM-III-R, korsakoff’s syndrome ini akan dialami sepanjang hidup, meskipun kondisinya sedikit membaik (Rathus & Nevid, 19991).  Kebanyakan penderita korsakoff’s syndrome mengalami gangguan daya ingat jangka panjangnya.

4.      Treatment
Deteksi dan diagnosis dini terhadap penyabab masalah gangguan ingatan sangat penting bagi kesembuhan penderitas sebesar 20-30%.  Dapat atau tidsknya penderita untuk sembuh tergantung pada faktor penyebab amnesia, tetapi biasanya tidak dapat sembuh secara tuntas.  Terutama apabila gangguan tersebut disebabkan karena adanya kerusakan pada bagian subkortikal otak, tidak dapat disembuhkan, meski gangguan ini jarang terjadi.
Treatment yang umum dilakukan pada penderita amnesia adalah dengan pemberian obat-obatan yang dapat memperbaiki peredaran darah pada otak (terutama korteks), sehingga suplai nutrisi ke otak dapat tercukupi.  Disamping dengan pengobatan, terapi ingatan dapat membantu kesembuhan.

V. DEMENSIA
            Demensia berasal dari kata de = keluar dan mens = mental.  Demensia merupakan gangguan kognitif yang memiliki ciri menonjol adanya kemunduran ingatan secara progresif, terganggunya kemampuan berbahasa (language) dan kordinasi motorik.
            Menurut PPDGJ-III, demensia merupakan suatu sindrom akibat gangguan otak yang biasanya, bersifat kronik-progresif, dimana terdapat gangguan fungsi luhur kortikal yang multipel, termasuk di dalamnya: daya ingat, daya pikir, orientasi, daya tangkap (comprehension), berhitung, kemampuan belajar, berbahasa, dan daya nilai.  Umumnya disertai, dan ada kalnya diawali dengan kemerosotan dalam pengendalian emosi, perilaku sosial, atau motivasi hidup.
            Proses kemunduran mental atau fungsi intelektual pada demensia tidak dapat disamakan dengan proses perubahan kemampuan intelektual pada manula, karena pada kasus demensia lebih mengacu pada gangguan degeneratif otak.
            Demensia terjadi pada usia 65 tahun atau sebelumnya disebut presenile dementia.  Simptom-simptomnya mulai berkembang cepat pada usia 40-50 tahun.  Terjadi perubahan mental dan kerusakan-kerusakan otak dari tingkat ringan sampai tingkat berat.  Menunjukkan adanya riwayat keluarga yang berpenyakit Alzheimer (PPDGJ-III: F00.0).  Sedangkan demensia yang terjadi di atas usdia 65  tahun disebut senile dementia, yang ditandai dengan kemunduran fisik dan mental secara lamban dan progresif, dengan gangguan daya ingat sebagai gambaran utamanya (PPDGJ-III: F00.1).  Meskipun demikian, demensia dapat saja terjadi pada semua tingkat umur.
1.      Diagnosis dan gambaran umum penderita
  1. Adanya kemunduran mental, seperti daya ingat, daya pikir atau kemampuan problem solving, dan berpikir abstrak, yang semuanya itu dapat menggangu fungsi sosial dan fungsi keseharian, seperti : mandi, berpakaian, makan, kebersihan diri, dll.
  2. Kehilangan ingatan, mula-mula agak ringan, makin lama makin parah sampai mereka tidak dapat mengingat informasi baru.  Dan makin lama tidak dapat mengingat fakta mengenai dirinya dan kehidupannya.
  3. Afasia, yaitu kehilangan kemampuan menggunakan bahasa karena kerusakan pada daerah bahasa di otak.  Ada dua macam afasia :
·         Wernicke afasia     : dapat mengucapkan kata-kata, tapi tidak ada artinya
·         Broca afasia          : gangguan pada produksi, tapi pengertiannya masih ada
  1. Apraxia, yaitu kehilangan kemampuan melakukan gerakan badan yang terkoordinasi yang disebabkan karena kerusakan otak.
  2. Agnoria, yaitu ketidakmampuan mengenal obyek atau pengalaman yang akrab, meskipun ada kemampuan untuk mengamatinya
  3. Tidak ada gangguan kesadaran
  4. Gejala dan disabillity sudah nyata untuk paling sedikit 6 bulan.
(PPDGJ-III; Mulyani, 1999; Rathus & Nevid, 1991)
2.      Faktor penyebab
Penyebab utama demensia adalah kerusakan otak yang progresif dan parah.  Sedangkan penyakit fisik yang dapat menyebabkan demensia adalah :  
·         Penyakit otak : Alzheimer dan Pick
·         Multi-infarct demensia
·         Infeksi otak
·         Intoksikasi
·         Tumor kepala
3.      Treatment
Dalam beberapa kasus, demensia dapat disembuhkan, terutama demensia yang disebabkan oleh tumor, infeksi yang dapat disembuhkan, depresi, alkoholik.  Treatment yang tepat/sesuai dapat membantu proses kesembuhan.  Kecuali pada demensia yang disebabkan penyakit Alzheimer, tidak dapat disembuhkan.

4.      Demensia tipe Alzheimer
Penyakit Alzheimer disebabkan karena sebagian besar jaringan pada korteks otak mengalami degenerasi, juga syaraf mengalami degenerasi dan membentuk gumpalan jaringan saraf yang abnormal (Mulyani, 1999).  Keadaan tersebut menyebabkan kemunduran fungsi mental secara progresif, termasuk daya ingat, kemampuan bahasa (language), kemampuan problem solving.
5.      75 % dari kasus demensia disebabkan oleh Alzheimer dan lebih banyak terjadi pada perempuan. Alzheimer dapat terjadi pada awal usia 40 tahun, dan resiko meningkat tajam seiring dengan bertambahnya usia, terutama di atas 75 tahun. Alzheimer merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di Amerika.

Diagnosa dan Gambaran Umum Penderita
·         Terdapat gejala demensia
·         Onset bertahap, dengan deteriorasi lambat
·         Gangguan progresif pada fungsi kognitif bersamaan dengan perubahan kepribadian dan hubungan interpersonal.  Yaitu kehilangan ingatan, disorientasi, penurunan kemampuan membuat pendapat, kemunduran ketrampilan sosial, dan perubahan atau mendatarnya afek.
·         Simptom lain yang dapat mengikuti : agitasi, keluyuran, halusinasi, delusi, agresif, insomnia, tidak mampu untuk menyesuaikan dengan lingkungannya.
·         Perkembangan Alzheimer biasanya 5-10 than, dan berakhir dengan kematian melalui perkembangan penyakit kompilasi seperti pneumonia
(PPDGJ-III: F00; Mulyani, 1999)

Treatment
Sampai dengan saat ini belum ada pengobatan atau treatment yang efektif untuk menyembuhkan penyakit Alzheimer.  Yang ada hanyalah teratment pengobatan untuk mengontrol gejolak emosi dan perilaku-perilaku yang tidak tepat, serta pemberian obat untuk mencegah semakin menurunnya kadar ACh di otak.

Kemungkinan penyebab penyakit Alzheimer
            Meskipun sampai dengan saat ini belum ditemukan pengobatan atau treatment yang benar-benar efektif untuk menyembuhkan penyakit Alzheimer, namun beberapa kemungkinan penyebab dapat diidentifikasi.  Ada beberapa pendapat yang berusaha menjelaskan tentang kemungkinan faktor penyebab Alzheimer, yaitu :
·         Pendapat terdahulu yang menyatakan bahwa faktor penyebab Alzheimer adalah slow-acting virus.  Ada juga yang mengajukan dugaan karena kerusakan genetik atau karena trauma otak.
·         Hasil penelitian lainnya mengemukakan adanya ketidaseimbangan neurotransmitter di otak, terutama acetylchloline (Ach), yang mungkin akibat dari rusaknya sel otak yang menghasilkan Ach.
·         Ketidakseimbangan metabolisme otak, yaitu metabolisme glucose dan oksigen
·         Terganggunya peredaran darah di otak sihingga menghambat suplai nutrisi penting ke otak, yaitu terutama glucose dan oksigen.
·         Transmisi genetik diduga sebagai salah satu penyebabnya.
Bukti menunjukkan bahwa pada penderita Alzheimer terdapat penurunan kada Ach di otak dan aktivitas gelombang otak relatif lambat (dideteksi dengan EEG)

5.      Pick’s Disease
5 % dari kasus demensia disebabkan oleh penyakit Pick.  Penyakit ini berkembang pesat pada usia 60 70, dan kondisi penderita akan semakin menurun setelah 70 tahun.   Penyebab gangguan ini belum diketahui pasti, tetapi ada dugaan karena adanya transmisi genetik.  Kelurga daru penyakit Pick Disease, mempunyai resiko 17% terkena penyakit pick pada usia sekita 75 tahun.  Laki-laki memiliki probabilitas resiko lebih tinggi terkena pick  daripada perempuan.
Diagnosa dan gambaran umum penderita
·         Adanya gejala demensia yang progresif
·         Adanya gangguan perilaku dan emosi, sehingga secara sosial tidak terkendali, yaitu perilaku sosial yang kasar, euforia, emosi tumpul, disinhibisi, dan apatis atau gelisah.
·         Manifestasi gangguan perilaku pada umumnya mendahului gangguan daya ingat (PPDGJ-II:F02.0).

6.      Multi-infarct Dementia
Merupakan demensia yang disebabkan oleh multipel sroke yang terjadi pada waktu yang berlainan (terjadi berulang-ulang) atau bentuk kerusakan otak lainnya. Stroke yang terjadi secara berulang ini dapat menyebabkan luasnya efek pada fungsi mental.  Penyakit stroke ini terjadi karena adanya gumpalan-gumpalan darah yang iasanya disebabkan karena adanya proses pengapuran.  Dapat juga karena adanya proses penebalan dinding-dinding pembuluh darah otak, yang biasanya disebabkan oleh kolesterol.  Keadaan tersebut menyebabkan terhambatnya suplai darah ke seluruh bagian otak, sehingga bagian yang tidak terlairi darah akan terhenti fungsinya, dan timbul gangguan biasanya pada fungsi motorik, fungsi bicara (speech), atau fungsi kognitifnya.  Kematian bisa saja terjadi bila jika keadaan semakin parah.
Multi-infarct dementia mempunyai simptom yang sama dengan penyakit Alzheimer, yaitu adanya gangguan daya ingat dan kemampuan bicara, gejolak emosi, ketidakmampuan penderita untuk emnjalankan fungsi-fungsi keseharian.  Gangguan pada fungsi-fungsi mental dan kemampuannya tergantung pada area kerusakan yang mempunyai fungsi tertentu.  Ketidakmampuannya  kognitif biasanya tidak merata, mungkin terdapat hilangnya daya ingat, gangguan daya pikir, atau gejala neurologis fokal.  Namun daya tilik diri (insight) dan daya nilai (judgement) secara relatif tetap baik (PPDGJ-III: F01).
Terjadinya onset cenderung lebih lambat, biasanya setelah serangkaian episode iskemik minor yang menimbulkan akumulasi dari infark pada parenkin otak (PPDGJ-III: F01.1).

VI.  PENYAKIT PADA BASAL GANGLIA (Disease of  The Basal Ganglia)
            Basal ganglia adalah kumpulan sel-sel saraf (simpul saraf) yang terletak di bawah korteks (subkortikal), yang mengontrol gerakan motorik manusia.  Penyakit yang termasuk dalam penyakit basal ganglia :

1.      Penyakit Parkinson
Penyakit ini pertama kali dideteksi oleh James Parkinson pada tahun 1818.  Faktor penyebab parkinson adalah terjadinya proses degerasi sel-sel saraf dari basal ganglia, mungkin juga ada kerusakan pada bidang-bidang yang menyebar pada korteks serebral (mulyani, 1999).  Kerusakan tersebut khususnya terjadi pada substansia negra (“black substance”).
Dugaan penyebab lainnya, rusaknya basal ganglia tersebut akibat dari penggunaan obat (7% dari kasus Parkinson).  Dugaan lainnya adalah disebabkan oleh virus, keracunan (enviromental toxins), dan arteriosclerosis.  Namun sampai dengan saat ini belum diketahui secara pasti penyebab penyakit Parkinson, terutama penyebab terjadinya kerusakan  pada basal ganglia (Rathus & Nevid, 1991).

Diagnosa dan gambaran umum penderita
a.       Gangguan parkinson biasanya bersifat progresif dan menunjukkan gambaran yang parah, termasuk gangguan motorik yang bermacam-macam dengan karakteristik :
·         tangan, kaki, atau kepala dapat bergetar (tremor) tanpa dapat dicegah
·         Terjadi kekakuan otot-otot sehingga sulit melakukan gerakan (arkinesia)
·         Aktivitas motorik menjadi lamban (bradykinesia)
·         Tidak mengontrol gerakan tubuh, misal, sulit untuk memulai berjalan dan juga sulit untuk berhenti
·         Kehilngan koordinasi, yaitu tidak dapat mengkoordinasikan dua gerakan pada waktu yang sama
·         Biasanya  terjadi poerubahan postur tubuh yaitu badan condong ke depan
·         Mukanya tidak berekspresi, simptom akibat terjadinya degenerasi sel-sel saraf yang mengatur otot-otot wajah.
·         Bicaranya terganggu dan kehilangan ritme normal
b.      Terjadi gangguan kognitif, misal, sulit mengucapkan kata (gangguan bahasa).
c.       Perhatian (attention), konsentrasi, dan daya ingat tetap baik pada tahap awal penyakit ini.  Tapi pada tahap lanjut terjadi penurunan.
d.      Akibat gangguan fisik yang parahb ini, seringkali membuat penderita mengalami penurunan harga diri dan menjadi depresi.
e.       Demensia dapat terjadi pada penderita Parkinson yang sudah parah (PPDGJ-III:F02.3)
(Mulyani, 1999: PPDGJ-III, 1999: Rathus & Nevid, 1991)
Treatment
            Pada penderita Parkinson ditemukan adanya penurunan jumlah neurotransmitter dopamine.  Oleh karena itu, defisiensi dopamine pada otak dijadikan dasar untuk treatmentnya.  Pemberian obat L-dopa (pertama kali digunakan pada tahun 1970-an) dapat memberikan harapan pada penderita, yaitu dapat meningkatkan kadar dopamine dalam otak.  *0% penderita menunjukkan kemajuan yang berarti pada pengurangan simptom tremor dan motoriknya, setelah dilakukan terapi L-dopa.  L-dopa terbukti dapat mengurangi simptom-simptom pada penyakitParkinson dan menghambat perkembangan penyakitnya.  Namun, L-dopa tidak berarti dapat menyembuhkan penyakit ini.  Sebagian besar penderita yang melakukan terapi L-dopa, tetap menunjukkan kemunduran secara bertahap.

2.      Penyakit Huntington
Penyakit ini pertama kali diidentifikasikan oleh George Huntington pada tahun 1872.  Penyakit Huntington disebabkan adanya kerusakan yang meluas pada subkorteks otak, dan bagian-bagian pada korteks frontal, yang mengontrol gerakan motorik korpus kolasum (Mulyani, 1999).  Kerusakan progresif pada subkorteks yang mempengaruhi sel-sel saraf yang memproduksi Ach dan GABA (Rathus &Nevid, 1991).
Penyakit Huntington dapat terjadi pada anak-anak, tapi umumnya terjadi pada orang yang berumur 30-50 tahun.  Penyakit ini terjadi melalui transmisi genetik (diduga terjadi kerusakan pada kromosom no. 4).  Seseorang yang mempunyai orang tua yang menderita penyakit Huntington, akan memiliki probabilitas resiko sebesar 50%.  Penyakit ini lebih banyak terjadi pada perempuan daripada laki-laki.

Diagnosa dan Gambaran Umum Penderita
a.       Ditandai adanya gangguan gerakan choreiform (berasal dari bahasa Yunani choreia yang berarti “menari”) yang tidak teratur dan kronis yaitu melilit-lilit dan kejang-kejang tanpa koordinasi dari kedua lengan dan kaki.  Karena itu penyakit ini disebut juga Huntington’s Chorea.  Adanya gerakan koreoform yang involunter, terutama pada wajah, tangan, dan bahu atau cara berjalan yang khas, yang merupakan gejala awal.  Gejala ini biasanya mendahului gejala demensia (PPDGJ-III:F02.2)
b.      Gejala demensia ditandai dengan gangguan fungsi lobus frontalis pada tahap dini, dengan daya ingat relatif masih baik, sampai saat selanjutnya (PPDGJ-III:F02.2)
c.       Gangguan ini juga menyebabkan gangguan kognitif dan kepribadian.  Gangguan kognitif: mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas yang memerlukan kecepatan atau jalan pikiran, dan yang membutuhkan persepsi dan respon yang kompleks.  Gangguan kepribadian: mudah marah, cemas, umumnya tidak dapat diprediksikan; mengalami gangguan dalam membuatpendapat; menjadi agresif atau impulsif secara seksual.  Karena gangguan ini, penderita menjadi depresif dan apatis
d.      Penyakit Huntington yang kronis dan progresif selalu diakhiri dengan psikosa (kegilaan) dan kematian.
(Mulyani, 1999; PPDGJ-III, 1999; Rathus & Nevid, 1991; Kartono, 1989)

Treatment
            Sebab-sebab penyakit ini belum diketahui dengan jelas.  Sejauh ini diduga karena adanya faktor keturunan.  Dan cara penyembuhan yang efektif jga belum diketemukan.  Oleh karena itu, sikap pencegahan lebih bermanfaat, yaitu bila ada seorang anggota keluarga yang menderita penyakit ini, lebih baik tidak menikah atau tidak menurunkan anak.

VII. INFEKSI OTAK
            Terjadinya infeksi atau peradangan pada otak dapat menimbulkan kerusakan pada sel-sel saraf otak, dan dapat mempengaruhi keadaan fisik dan mental penderita.  Beberapa tipe utama infeksi otak adalah encephalitis, meningitis, neurosyphillis dan AIDS dementia complex.



1.      Encephalitis
Encephalitis  merupakan penyakit yang diakibatkan oleh adanya peradangan pada jaringan-jaringan otak yang disebabkan oleh virus yang dibawa oleh serangga seperti nyamuk, kutu, dan serangga lainnya.
Diagnosa dan Gambaran Umum Penderita
a.       Penderita mengalami kelesuan dan mengantuk yang diikuti oleh periode iritabiltas dan eksitabilitas.
b.      Dapat terjadi delirium selama fase akut
c.       Terjadi perubahan perilaku emosional yang ditandai oleh labilitas emosional, kegembiraan yang dangkal dan tidak beralasan (euforia), mudah berubah menjadi iritabilitas (cetusan amarah) dan agresi yang sejenak.  Pada beberapa keadaan, apati dapat merupakan gambaran yang menonjol.
(PPDGJ-III:07.0)

2.      Meningitis
Meningitis merupakan infeksi atau peradangan  akut yang terjadi pada sistem syaraf pusat, yaitu peradangan pada meninges atau membran (selaput luar otak) yang melapisi urat syaraf tulang belakang dan otak.
Penyakit  ini disebabkan oleh mikroba seperti virus, bakteri, dan protozoa.  Frekuensi terbanyak disebabkan oleh bakteri meningococcus.  Jika pada terapi awal dilakukan dengan obat antibiotik, kemungkinan penyakit ini dapat disembuhkan.  Tapi jika tidak dilakukan terapi apapun, dapat terjadi koma dan akhirnya kematian.
Diagnosa dan Gambaran Umum Penderita
·         Penderita mengalami panas tinggi, kejang-kejang, sakit kepala yang hebat, rasa sakit dan kekakuan otot-otot, muntah-muntah, rasa kantuk, gangguan konsentrasi, iritabilitas, dan gangguan daya ingat.
·         Retardasi mental dapat terjadi
·         Karena penyakit meningitis sangat menular, maka sebaiknya penderita dikarantinakan untuk mencegah terjadinya penularan.

3.      Neurosyphillis
Sipilis (syphillis) adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri treponema pallidum.  Sipilis ini dapat ditularkan melalui kontak genital, oral, atau anal dengan penderita sipilis.  Dapat juga ditularkan oleh ibu kepada bayi yang dikandungnya melalui plasenta.
Jika tidak dilakukan treatment pada penyakit sipilis, maka penyakit ini akan mengalami perkembangan.  Penyakit ini bermula dari organ tempat masuknya bibit penyakit (chancre), sampai akhirnya berkembang dan bakteri sipilis mulai menyerangbagian tubuh yang lain, termasuk sel-sel saraf tulang belakang yang mengontrol respon motorik.  Kadang dapat menyerang jaringan saraf otak.
Makin meluasnya infeksi dimana otak diserang secara langsung sehingga terjadi general paresis yaitu suatu bentuk kemunduran mental.
Dignosa dan Gambaran Umum Penderita
·         Terjadi simptom fisik seperti tremor, berbicara tidak jelas (slurred speech), gangguan koordinasi motorik, dan akhirnya dapat terjadi paralisis (kelumpuhan).
·         Simptom psikologis berupa terjadinya perubahan perasan, emosinya datar atau tidak ada respon emosi pada hal yang menyenangkan ataupun menyedihkan, dan iritabilitas (cetusan amarah): delusi: terjadi perubahan kebiasaan seperti menjadi tergantung kepada orang lain dalam menjalankan  fungsi keseharian (memelihara dan merawat diri sendiri); terjadi kemunduran intelektual secara progresif, termasuk gangguan daya ingat yang berat, gangguan daya nilai dan pemahaman.  Kadangkala terjadi euforia, dan beberpa kasus terjadi depresi dan lethargic (keadaan kesadaran yang menurun dan seperti tertidur lelap).  Akhirnya penderita menjadi apatis.
·         Dalam kondisi parah, kematian dapat saja terjadi
(Rathus & Nevuid, 1991)
Treatment
           Deteksi lanjut dan terapi dengan pemberian obat antibiotik dapat menurunkan keadaan general paresis tersebut.  Pemberian treatment tergantung pada tahapan atau keparahan infeksinya.  Antibiotik dapat mencegah atau membendung perkembangan infeksi dan mencegah kerusakan lebih lanjut.  Pemberian obat tersebutf tidak dapat memulihkan fungsi-fungsi yang rusak.

4.      AIDS Dementia Complex
Virus AIDS, yaitu treponema pallidum, yang menyerang sistem saraf pusat dapat menimbulkan penyakit AIDS dementia complex (ADC).
Diagnosa dan Gambaran Umum Penderita
·         Terjadi kemunduran mental dan fungsi motorik secara progresif.  Lebih dari separuh penderita AIDS akhirnya akan mengalami gangguan mental atau demensia, yang meliputi gangguan kemampuan bahasa (language-skills), daya ingat, dan kemampuan berpikir.
·         Penderita AIDS yang menunjukkan gejala ADC cenderung mengalami penurunan kondisi dan terjadinya kematian lebih cepat, dari pada  penderita AIDS tanpa ADC
·         Tanda awal terjadinya ADC adalah adanya ekspresi wajah depresi; gangguan konsentrasi; apatis; menarik diri dari lingkungannya; mengalami gangguan daya ingat jangka pendek; ketiadaan respon emosi
·         Tanda neurologis awal yaitu mengalami problem dalam berjalan, koordinasi otot-otot (ataxia), dan refleknya
·         Penurunan fungsi kognitif secara cepat dalam waktu dua bulan
·         Demensia akan makin parah, seoiring dengan perkembangan penyakit ini, dimana terjadi delusi, diorientasi, gangguan daya ingat dan daya pikir
·         Penderita yang menyadari keadaan dirinya, biasanya menjadi depresi
·         Pada akhirnya penderita dapat mengalami koma dan meninggal.
(Rathus & Nevid, 1991)

VIII. TRAUMA OTAK
            Trauma pada otak biasanya karena adanya luka pada otak yang disebabkan oleh benturan keras atau terputusnya jaringan otak, akibat dari kecelakaan atau penganiayaan.  Beberapa tipe trauma otak meliputi :
1.      Concussion
Concussion ini banyak dialami oleh pemain sepak bola dan petinju, karena profesi mereka memiliki resiko tinggi untuk mengalami trauma otak.
Diagnosa dan Gambaran Umum Penderita
·         Hilangnya kesadaran beberapa saat (beberapa detik atau menit) karena pukulan atau benturan pada kepala.  Dan dapat pulih dengan baik tanpa ada efek yang membekas.
·         Dalam kasus berat, dapat terjadi delirium dan agitasi (kegelisahan)
·         Dapat pula terjadi amnesia
·         Dalam beberapa kasus, sindrom post-traumatic dapat berlangsung selama beberapa minggu atau bulan seiring dengan lukanya.
·         Karakteristik sindrom ini yaitu terjadi sakit kepala, anxiety (kecemasan), insomnia, depresi, dan penurunan daya ingat.  Kerusakan permanen pada otak jarang terjadi.
(Rathus & Nevid, 1991)

2.      Contusion
Contusion ini merupakan trauma otak yang lebih serius, yang dikarenakan benturan atau pukulan pada tengkorak kepala cukup keras sehingga menyebabkan jaringan lunak otak mengalami memar.
Diagnosa dan Gambaran Umum Penderita
·         Terjadi koma akibat adanya trauma tersebut, yang dapat berlangsung selama beberapa jam atau bulan
·         Operasi pada kepala dilakukan apabila terjadi pendarahan pada otak
·         Setelah sadar, penderita mungkin akan mengalami problem pada fungsi kgnitif dan bicara.  Biasanya fungsi tersebut akan pulih kembali kira-kira setelah satu minggu
·         Pengulangan kejadian concussion dan contusion dapat menyebabkan kerusakan otak, gangguan kognitif permanen, dan ketidakstabilan emosu.
·         Simptom kognitif dan fisik meliputi : bicara tidak jelas (slured specch); cara berjalan yang gemetar dan tidak tegap; mengalami problem emosi; kemunduran daya ingat; kepeningan dan tremor.
(Rathus & Nevid, 1991)

3.      Laceration
Trauma otak yang paling parah adalah laceration yang terjadi karena adanya luka yang disebabkan oleh benda asing yang menembus tengkorak kepala dan merusak jaringan otak.  Tingkat dari kerusakan pada otak ditentukan oleh lokasi dan luasnya luka pada otak.
Laceration yang berat dapat menimbulkan kematian mendadak.  Penderita yang dapat bertahan hidup, akan menglami kerusakan otak permanen, yaitu gangguan mayor pada fungsi mental dan fisik.  Kadang, penderita hanya mengalami gangguan minor atau tidak ada efek permanen (Rathus & Nevid, 1991)

IX. GANGGUAN CEREBROVASCULAR
            Otak sangat tergantung pada sirkulasi darah pada otak yang membawa oksigen dan glucose (proses metabolisme otak).  Gangguan pembuluh darah otak terjadi bila suplai darah ke otak terputus karena adanya gumpalan pada pembuluh darah otak.  Gangguan ini disebut juga cerebrovascular accident (CVA) atau stroke.  Pecahnya pembuluh darah menyebabkan kebocoran darah yang dapat merusak jaringan sensitif otak.

1.      Stroke
Pada stroke dengan tipe cerebral thrombosis, gumpalan bekuan darah yang berada pada pembuluh darah otak dapat menimbulkan penyempitan bahkan dapat terjadi penutupan (occlusion) sirkulasi darah di otak.
Tipe lainnya adalah artherosclerosis, yaitu terjadinya penyempitan pembuluh darah otak karena penebalan pembuluh darah yang disebabkan oleh timbunan lemak pada dinding-dinding pembuluh darah otak.
Stroke dengan tipe cerebral embolism terjadi akibat adanya bekuan darah atau sumbat lainnya yang dibawa mengalir oleh darah sampai ke pembuluh darah yang kecil )kapiler) dan mengendap sehingga menyumbat aliran darah pada otak.  Sumbat tersebut antara lain gelembung udara (air bubble) atau butiran lemak (fatty globule).

Diagnosa dan Gambaran Umum Penderita
·         Penderita dapat mengalami paralisis atau hilangnya sensasi pada satu sisi tubuh
·         Terjadi afasia (hilangnya kemampuan bahasa)
·         Gangguan daya ingat
·         Beberapa penderita tidak dapt berjalan
·         Kondisi tersebut membuat penderita menjadi depresi dan mudah marah

2.      Pendarahan Otak (Cerebral Hemorrhage)
Pendarahan pada otak tersebut disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah pada otak sehingga terjadi kebocoran di dalam jaringan otak dan merusak jaringan tersebut.
  Rentannya pembuluh darah tersebut terhadap resiko pecah, mungkin karena faktor bawaan, atau karena hipertensi yang semakin lama dapat memperlemah dinding-dinding pembuluh darah.
Diagnosa dan Gambaran Umum Penderita
·         Terdapat pembuluh darah yang pecah di otak
·         Hilangnya kesadaran dengan tiba-tiba dan dapat menjadi koma yang disertai kejang-kejang
·         Meluasnya pendarahan dapat menyebabkan kematian dalam waktu satu atu dua minggu
·         Simptom-simptom yang dapat terjadi: gangguan motorik, afasia: gangguan daya ingat dan daya nilai
·         Efek dari pendarahan otak tergantung pada besarnya pembuluh yang pecah dan area pada otak

X. TUMOR OTAK
            Tumor jinak (benign) dan tumor ganas (malignant) pada otak dapat mempengaruhi sindrom mental organik yang serius.  Tumor ganas atau kanker otak yang bermula pada otak disebut faktor penyebab primer.  Sedangkan kanker otak yang terjadi akibat penyebaran kanker dari bagian tubuh lainnya disebut faktor penyebab sekunder.
            Treatment pada tumor otak dapat dilakukan  dengan pengangkatan tumor melalui operasi.  Sedangkan pada kanker dapat dilakukan treatment radiasi atau kemoterapi.
Diagnosa dan Gambaran Umum Penderita
·         Buktu adanya tumor yang dapat dideteksi dengan CAT scan
·         Gangguan daya ingat dan sakit kepala yang berulang-ulang, merupakan tanda awal
·         Berkembangnya tumor dapat memperburuk simptom-simtomnya, yaitu terjadi sakit kepala yang hebat; terjadi disorientasi dan gangguan daya ingat; muntah-muntah; gangguan pandangan; gangguan koordinasi motorik; dan berapa kasus terjadi halusinasi.
·         Simptom-simptom tumor otak tergantung pada ukuran tumor dan lokasinya

XI. DEFISIENSI NUTRISI
            Ketidakseimbangan nutrisi atau defisiensi nutrisi juga dapat mempengaruhi fungsi mental
1.      Pellagra
Defisiensi vitamin B atau niacin dapat menyebabkan timbulnya gangguan pellagra
Diagnosa dan Gambaran Umum Penderita
·         Simptom fisik : terjadi diare, kelainan pada kulit
·         Simptom psikologis : kecemasan (anxiety), depresi, gangguan memory jangka pendek, gangguan konsentrasi
·         Jika tidak dilakukan treatment, maka dapat terjadi halusinasi dan delirium, serta dapat terjadi kematian.
Treatment
            Treatment dengan diet yang kaya vitamin B (niacin) dan vitamin penting lainnya, dianggap sangat efektif.

2.      Beriberi
Beriberi merupakan gangguan yang disebabkan adanya defisiensi thiamine
Diagnosa dan Gambaran Umum Penderita
·         Adanya gangguan saraf : kesulitan dalam konsentrasi dan daya ingat
·         Terjadi iritabilitas, letargi/kelesuan yang ekstrim, ketidaan nafsu makan, insomnia, adanya perasaan letih dan tidak bergairah.

XII.          GANGGUAN ENDOKRIN
Tinggi atau rendahnya aktivitas kelenjar endokrin dapat mempengaruhi aspek psikologis, bila hormon-hormon tertentu terbawa oleh darah dan mengalir ke seluruh tubuh, termasuk pada jaringan otak.
1.      Gangguan pada kelenjar thyroid
Kelenjar tyroid menghasilkan thyroxin yang berfungsi mengatur metabolisme tubuh.  Hyperthyroidism (disebut juga Grave’s disease) disebabkan oleh kelebihan produksi thyroxin, yang dapat mempercepat metabolisme tubuh.  Sehingga timbul gejala”bug eyes” (mata yang membelalak), menurunnya berat badan (weight loss).  Efek psikologis yang terjadi adalah excitability, insomnia, anxietas, kegelisahan (restlessness).  Dapat terjadi halusinasi atau delusi.

Hypothyroidism yang disebabkan oleh rendahnya kadar thyroxin, yang menyebabkan cretinism pada masa anak-anak dini, yang ditandai dengan hambatan pertumbuhan fisik dan perkembangan mentalnya sehingga penderita menjadi kerdil dan kecerdasannya menjadi terbelakang (retardasi mental).  Pada masa dewasa (disebut juga myxedema) terjadi metabolisme yang lamban dan dihubungkan dengan perubahan fisik seperi kulit kering, bertambahnya berat badan.  Perubahan psikologis yang terjadi adalah keletihan dan lembam; gangguan konsentrasi dan daya ingat; depresi.  Treatment terhadap gangguan ini adalah dengan pemberian garam yodium untuk mencegah defisiensi thyroid.

 2.      Gangguan pada kelenjar Adrenallin
Kelenjar adrenalin terletak di bawah ginjal, yang terdiri dari lapisan luar (cortex) dan inti bagian dalam (medulla).  Korteks adrenal memproduksi steroid, yang dapat mempertinggidaya tahan (resistance) terhadap stress dan mengatur metabolisme karbohidrat.
Aktivitas kortikal yang rendah dapat menimbulkan Addison’s disease, yang ditandai dengan adanya penurunanberat badan, tekanan darah rendah, keletihan, iritabilitas, ketiadaan motivasi, penarikan diri dari lingkungan (social withdrawal) dan depresi.  Sedangkan aktivitas kortikal yang tinggi dapat menimbulkan Cushing’s syndrome, yang memiliki simptom fisik seperti terjadinya penambahan berat badan, keletihan, kelemahan otot-otot.  Simptom psikologis yang terjadi adalah timbulnya keadaan perasaan yang negatif, yang dapat terjadi fluktuasi antara depresi dan kecemasan.

XIII.       EPILEPSI
Penyakit epilepsi atau ayan merupakan penyakit pada kesadaran, karena terdapat gangguan pada otak.  Sebab-sebab epilepsi yang jelas belum diketahui.  Dari segi biologis dijelaskan bahwa adanya predisposisi dan faktor keturunan, sehingga terjadi gangguan pada otak, terutama pada kulit otak (cortex).
Hilangnya kesadaran disebabkan karena instabilitas dari neuron-neuron korteks.  Sepertiga dari jumlah penderita epilepsi mempunyai riwayat keluargaberpenyakit epilepsi.  Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak berumum 6-24 bulan.  Jika serangan epilepsi sudah dialami sebelum umum 7  tahun, maka akan mengakibatkan kelemahan mental, dan fungsi-fungsi kejiwaan lainnya juga mengalami hambatan.
Sebelum terjadinya serangan epilepsi, terdapat gejala aura, yaitu penderita merasa pusing, merasa tidak enak pada perut dan punggungnya dalam beberapa detik.  Penderita menjadi bingung dan merasakan getaran-getaran dingin, sehingga dia tidak dapat mempersiapkan diri terhadap serangan kekdjangan.  Lalu penderita mengalami aura-stupor, yaitu rasa seperti terbius dan tidak berdaya, serta merasakan kelumpuhan atau kekakuan pada sebagian anggota badannya.
Ada 3 tipe epilepsi menurut serangan kekejangannya, yaitu :
1.      Grand mal (tonic-clonic epilepsy)
Serangan ini merupakan yang paling berat.  Sewaktu terjadi serangan kesadaran hilang dan penderita mengalami kejang-kejang.  Nafasnya terhenti, mulutnya bergetar, dan rahngnya terkatup kuat.  Lengan dan kaki terlentang kaku dan kejang-kejang, serta tangannya mengepal.  Kemudian penderita terjatuh.  Mungkin juga penderita merasa sakit, lalu menangis dan mengerang-erang, kemudian jatuh pingsan, tidak ingat sesuatupun juga.  Mukanya menjadi kelam, lalu jadi pucat.  Saat serangan terjadi, penderita dapat kehilangan kontrol diri, sehingga dapat kencing atau buang air besar yang tak terkendali, atau menggigit lidahnya.
Dengan masuknya oksigen dalam paruparu, kejang dan kekakuannya menurun.  Tangan dan kaki tetap bergerak-gerak tapi mulutnya berbuih.  Kejadian ini berlangsung selama kira-kira 1 menit.  Setelah sadar, penderita mengalami kebingungan dan keletihan, dan dapat tertidur.  Saat terjaga, penderita mungkin tidak ingat kejadian saat terjadi serangan, meski lidahnya sakit atau mengompol.
Penderita yang mengalami kekejangan tesebut memiliki resiko mendapatkan kecelakaan,seperti melikai diri sendiri, menggigit lidahnya hingga putus, atau tenggelam, terluka, atau terbakar.
2.      Petit mal epilepsy (small illness)
Biasanya penderita tidak kehilangan kesadarannya.  Ia berhenti sebentar, memandang kosong ke depan atau ke lantai, lalu berjalan kembali.  Seringkali terdapat gerakan-gerakan pad kening dan alis, atu gerak ritmis pada kelopak mata, dekat telinga, bibir dan hidung.  Barang yang sedang dipegannya, dapat terjatuh.
Petit mal ini banyak dialami oleh perempuan, terutama mereka yang sedang mengalami periode sekitar pubertas.
 3.      Jacksonism (Jacksonian epilepsy)
Srangan seperti pada grand mal.  Hanya sersngan tersebut bermula pada sebagian badan dengan kekejangan otot atau ganguan indera, seperti merasa bingung, tidak dapat mendengar, tidak dapat merasakan apa-apa, merasa dingin atau panas, dan lain-lain.
Gangguan otot dan indra tersebut kemudian meluas ke seluruh  badan.  Pada awal serangan, penderita seringkali masih sadar.  Kesaran hilang, saat serangan tersebut meluas, penderita pingsan dengan disertai kejang-kejang.  Jika kekejangan tersebut jarang terjadinya, maka fungsi inteleknya tidak terganggu.  Tapi jika kekejangan sering menyerang, dapat melemahkan fungsi intelek dan fungsi kejiwaannya.
Secar psikologis, kekejangan merupakan mekanisme untuk meredusir ketegangan.   Pada orang yang mempunyai predisposisi herediter, ketegangan dan konflik psikis dapat menyebabkan timbulnya epilepsi Jacksonisme pada dirinya.
Treatment
Treatment fisik :
·         Dengan diet tertentu dan pemberian obat-obatan
·         Dapat juga diberikan elektroshock, yaitu kejutan-kejutan listrik
Treatment psikologis
·         Sebaiknya dilakukan psikoterapi untuk menghilangkan ketakutan dan kecemasan, rasa malu dan terhina, hasrat untuk menarik diri atau mengasingkan diri (withdrawal), rasa penolakan dan konflik bathin lainnya.
·         Penderita dijaga perasaannya dari konflik-konflik batin supaya tidak terjadi kambuhnya serangan epilaepsi.
·         Memperlakukan atau menerima penderita seperti layaknya orang normal (meskipun harus dijaga agar penyakitnya tidak kambuh) karena penderita epilepsi biasanya masih dapat menjalankan  keseharian, seperti belajar, bekerja, atau menikah (meski ini tidak disarankan).

  
KESIMPULAN

           Dengan memahami gangguan mental organik, kita dapat mengetahui bahwa faktor fisik damn mental/psikis tidak dapat dipisahkan.  Adanya penyakit atau gangguan pada fisik manusia ternyata dapat menimbulkan efek psikologis, mulai dari yang ringan sampai yang berat.
           Gangguan mental organik merupakan gangguan pada mental yang disebabkan oleh adanya gangguan atau penyakit pada fisik.  Umumnya disebabkan oleh adanya gangguan pada otak serta fungsi jaringan-jaringan otak.  Hal ini mengakibatkan berkurangnya tau rusaknya fungsi-fungsi kognitif, yaitu antara lain daya ingat, daya pikir (intelektual), daya belajar 9learning), daya nilai (juggment), daya konsentrasi dan perhatian; juga dapat mempengaruhibemosi dan motivasinya.  Beratnya gangguan dan kekalutan mental tersebut tergantung  pada parahnya kerusakan organis otak.
           Gangguan mental organik ini merupakan efek sekunder dari ganguan yang sebenarnya.  Dengan kata lain, efek gangguan pada mental menyertai atau merupakan akibat adanya gangguan utama pada fisiknya (primer).  Gangguan pada mental ada yang dapat sembuh dan ada yang tidak. Terutama pada kerusakan otak yang permanen, cenderung meninggalkan efek mental yang permanen pula.
           Treatment yang baikadalah yang sesuai dengan kebutuhan penyembuhan atau untuk emngurangi simptom-simptom yang terjadi.  Disamping terapi fisik yang biasanya dengan obat-obatan, terapi psikologis sangat penting untuk mendukung kesembuhan atau mengurangi efek mental pada penderita.  Biasanya, penderita akan mengalami depresi mental setelah menyadari adanya kekurangan atau gangguan yang terjadi pada dirinya, yang justru akan memperburuk keadaannya.  Disamping psikoterapi, penerimaan lingkungan sosial terhadap keadaan penderita, dapat mendukung keberhasilan psikoterapi tersebut.

Daftar Pustaka


Choca, James, 1980, Manual for Clinical Psychology Practicums, New York: Brunner/Mazel.Inc.
Duke, Marshall P., dan Nowicki, Stephen, Jr., 1986, Abnormal Psychology, New York: CBS College Publishing
Kartono, 1989, Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual, Bandung: Mandar Maju
Maslim, Rusdi, 1999, Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan ringkas dari PPDGJ-III, Jakarta
Mulyani, Sri Martaniah, 1999, Psikologi Abnormal, Yogyakarta
Ramali, A., dan Pamoentjak, 1987.  Kamus Kedokteran, Jakarta: Djambatan

Rathus, A. Spencer, dan Nevid, S. Jeffrey, 1991, Abnormal Psychologi, New Jersey.Euglewood Cliffs.

Autisme

Si kecil Ludin suka bermain sendirian sejak berumur dua tahun. Ia sering marah dan gusar bila ditemani bermain. Awalnya, ibunda Ludin, Nyonya Imroatus, menganggap putranya tak punya kelainan. Ia menyangka, putranya cuma ogah ditemani.

Tetapi, setelah Ludin berumur tiga tahun, kebiasaan itu tak kunjung berubah. Bocah ini malah cenderung cuek terhadap lingkungannya. Ludin tak mau menyahut bila dipanggil. Ia ogah berkomunikasi dengan siapa pun. Bocah ini cenderung asyik dengan dirinya sendiri.

Nyonya Imroatus mengkhawatirkan perkembangan putra semata wayangnya. Ia lantas membawa si kecil ke ahli psikiatri. Hasil analisis psikiater, Ludin mengalami autisme. Nyonya Imroatus kaget bukan kepalang setelah mengetahui kondisi putranya, mengingat selama ini anak autisme tergolong sulit ditangani.

Nyonya Imroatus tak patah arang. Demi masa depan putranya, apa pun dia lakukan. Kini Nyonya Imroatus rajin membawa si buah hati berobat dan berkonsultasi dengan dokter ahli di Rumah Sakit Soetomo, Surabaya.

Selama tiga bulan terakhir ini, Ludin menjalani terapi di rumah sakit itu. Perkembangannya lumayan pesat. Ludin mulai mau mengucapkan sejumlah kosakata sederhana: "bapak", "ibu", dan "makan". Nyonya Imroatus tak habis pikir, mengapa anaknya menderita autisme.

Padahal, di lingkungan keluarganya tak satu pun yang menderita autisme. Baik keluarga dari pihak ayah atau ibu Nyonya Imroatus maupun keluarga suaminya. Karena itulah, ia kaget setelah membaca berita bahwa autisme bersifat genetik. "Yang dialami anak saya itu yang pertama di keluarga kami," kata Nyonya Imroatus.

Kaitan genetik dengan autisme muncul dari pernyataan Steven Scherer, peneliti di Universitas Toronto, Kanada. Ia bersama para ilmuwan dari sejumlah negara melakukan penelitian tentang autisme yang didanai Autism Genome Project Cabang Kanada. Scherer bersama para ilmuwan dari sembilan negara mengumpulkan gen dari 1.168 keluarga.

Tiap-tiap keluarga itu memiliki minimal dua anak autis. Scherer memeriksa kromosom X yang berjumlah 23. Ternyata, pada masing-masing kromosom ada beberapa gen yang abnormal. Dari situlah ia berkesimpulan bahwa autisme bersifat genetik. Dan pada kromosom nomor 11 itulah yang paling menonjol kelainannya.

"Fakta ini menunjukkan bahwa 90% penyebab autisme adalah gen," kata Scherer, seperti dikutip ABCnews.com, Senin pekan silam. Ia menyatakan bahwa studi itu belum kelar. Kemungkinan Scherer bisa merampungkan penelitiannya ini paling singkat tiga tahun lagi.

Lewat penelitian itu, Scherer berharap, nanti bisa diketahui berapa banyak gen abnormal yang terlibat dan punya keterkaitan di antara gen-gen. "Jika hal itu sudah diketahui, kemungkinan akan dapat dibuat obatnya," kata Scherer.

Dokter Bridget Fernandez, selaku Ketua Autism Genome Project, memperkuat temuan Scherer. Menurut dia, autisme --seperti juga asma-- berkaitan dengan faktor keturunan. Ia yakin, faktor gen berperan, meski autisme tidak akan muncul dalam satu jenjang keturunan. Artinya, autisme bisa tak diturunkan dari orangtua, melainkan bisa juga melalui garis dari buyut.

Temuan Scherer tentu saja membuka harapan penyembuhan autisme. Sebab jumlah penyandang autisme kian hari kian bertambah. Dokter Nining Febriana, psikiater anak yang bekerja di Rumah Sakit Dokter Soetomo, mengungkapkan bahwa jumlah anak autis cenderung bertambah, Dalam sebulan, ia rata-rata menerima lima pasien baru yang menderita autisme.

Anak autis yang ditangani Dokter Nining dalam sepekan mencapai 40 anak. "Makin hari makin banyak. Mungkin para orangtua mulai sadar," kata Nining. Makin bertambahnya kasus anak autis juga terlihat dari bermunculannya sekolah-sekolah khusus penyandang autisme.

Di Jakarta Selatan ada sekolah Mandiga. Lalu di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, telah berdiri Indonesia Centre for Autism Resource and Expertise (Indocare). Indocare akan menjadi pusat percontohan bagi pengembangan sumber daya dan pelatihan khusus untuk anak yang mengalami gangguan spektrum autisme.

Di Indonesia, diperkirakan lebih dari 400.000 anak menyandang autisme. Sedangkan di dunia, pada 1987, prevalensi penyandang autisme diperkirakan 1 berbanding 5.000 kelahiran. Sepuluh tahun kemudian, angka itu berubah menjadi 1 anak penyandang autisme per 500 kelahiran. Pada tahun 2000, naik jadi 1:250.

Tahun lalu, jumlah anak autis bertambah banyak. Diperkirakan 1:100 kelahiran. Prevalensi penderita autisme kini lebih banyak ketimbang anak-anak penyandang sindroma down, yang ditandai dengan muka Mongoloid.

Temuan Scherer menyingkirkan dugaan-dugaan penyebab autisme yang selama ini mendominasi. Ada yang bilang, autisme merupakan dampak buruk merkuri. Bahkan sejumlah vaksin dan obat-obatan pernah disebut-sebut sebagai penyebab autisme.

Teori itu tidak mengada-ada, karena kadar merkuri dalam darah penyandang autisme cukup tinggi. Bahkan sebuah penelitian menemukan, kadar merkuri pada rambut anak autis cukup tinggi. Ada peneliti yang mementahkan teori itu, tapi banyak yang mengiyakan.

Dugaan lain, autisme disebabkan oleh faktor pemberian nutrisi sewaktu bayi masih di dalam kandungan. Makanan yang mengandung bahan pengawet yang dikonsumsi ibu hamil berpengaruh terhadap pertumbuhan janin.

"Makanan yang mengandung bahan pengawet, seperti makanan cepat saji, sangat buruk bagi pertumbuhan janin. Makanan laut yang tercemar merkuri juga berbahaya bagi janin," kata Dokter Nining Febriana kepada Ari Sulistyo dari Gatra.

Selain makanan instan, ditemukan banyak unsur kasein dan gluterin pada tubuh pasien autisme. Kasein banyak terdapat pada susu sapi, sedangkan gluterin pada terigu. Maka, penyandang autisme dilarang mengonsumsi susu sapi dan makanan yang terbuat dari tepung terigu.

"Jika itu dipatuhi, jumlah anak autis berangsur-angsur bisa berkurang," ujar Nining. Menanggapi temuan Scherer, Nining mengatakan bahwa faktor genetik dulu memang menjadi dugaan. Segala kemungkinan faktor penyebab autisme masih bisa muncul, termasuk faktor genetik.

Dokter Tjin Wiguna, psikiater anak pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, juga mengamini soal peran kelainan genetik. Ada kemungkinan, keluarga yang punya anak autis akan memiliki anak lagi yang kena penyakit yang sama. "Risikonya 3% lebih tinggi ketimbang dari keluarga normal," katanya. Namun belum dapat digeneralisasi bahwa semua kasus anak autis terjadi karena kelainan gen.

Aries Kelana dan Elmy Diah Larasati
[Kesehatan, Gatra edisi 16 Beredar Kamis, 1 Maret 2007]

Materi Gangguan Kepribadian

NAMA MATA KULIAH  : PSIKOLOGI ABNORMAL
TOPIK    : GANGGUAN KEPRIBADIAN
PENGAMPU    : DRS. SUBANDI, MA            MEI 2000
________________________________________________________________

PENDAHULUAN:
Gangguan kepribadian secara garis besar dibagi menjadi 3 kelompok:
A. Gangguan kepribadian yang ditandai dengan tingkah laku aneh.  Termasuk di sini gangguan (1) kepribadian paranoid, (2)  Skizoid dan (3) Skizotipal.
B. Gangguan kepribadian yang ditandai dengan tingkah laku yang  berlebih-lebihan. Termasuk disini adalah gangguan kepribadian  (4) borderline, (5) histrionik, (6) narsisistik dan (7)  antisosial
C. gangguan kepribadian yang tungkah lakunya ditandai dengan  kecemasan dan ketakutan. Termasuk di dlamnya adalah gangguan  (8) kepribadian menghindar (avoidant), (9) tergantung  (dependant),  (10) obsesif-kompulsif dan (11) pasif-agerif. 

1. GANGGUAN KEPRIBADIAN PARANOID
Orang dengan gangguan kepribadian paranoid cenderung menginterpretasikan tingkah laku orang lain sebagai hal yang mengancam dirinya. Oleh karena itu mereka tidak bisa mempercayai orang lain. Mereka selalu menaruh rasa curiga. Mereka mempertanyakan kesetiaan dan ketulusan orang lain dalam hubungan sosial. Jangan-jangan informasi yang ada digunakan untuk menjebaknya. 
Orang paranoid merasa ada komplotan atau konspirasi yang berusaha menjelekkan, menyakiti atau menjatuhkan dirinya. 
Ciri-ciri gangguan kepribadian paranoid secara lebih jauh digambarkan dalam PPDGJ III, yaitu:
(a) Kepekaan yang berlebihan terhadap kegagalan dan penolakan
(b) kecenderungan untuk tetap menyimpan dendam, misalnya menolak  untuk memaafkan suatu penghinaan dan luka hati atau masalah  kecil
(c) kecurigaan dan kecenderungan yang mendalam untuk mendistorsikan  pengalaman dengan menyalah-artikan tindakan orang lain yang  netral atau bersahabat sebagai suatu sikap permusuhan atau  penghinaan.
(d) perasaan bermusuhan dan ngotot tentang hak pribadi tanpa  memperhatikan situasi yang ada
(e) kecurigaan yang berulang, tanpa dasar tentang kesetiaan seksual  dari pasangannya.
(f) kecenderungan untuk merasa dirinya penting secara berlebihan  yang bermanifestasi dalam sikap yang selalu merujuk  ke diri  sendiri
(g) preokupasi dengan penjelasan-penjelasan yang bersekongkol dan  tidak substantif dari suatu peristiwa, baik yang menyangkut  diri pasien sendiri maupun dunia pada umumnya.

2. GANGGUAN KEPRIBADIAN SKIZOID
Gambaran utama orang dengan kepribadian skizoid adalah bahwa mereka kurang mempunyai minat terhadap hubungan sosial. Mereka lebih suka menyendiri dan lebih suka memilih aktivitas yang dilakukan sendirian. Ada preokupasi dengan fantasi dan introspeksi yang berlebihan.  Oleh karena itu mereka hampir tidak punya teman dekat. Jika ada mungkin hanya satu atau dua. Memang mereka tidak ada keinginan untuk menjalin hubungan akrab. Meskipun mereka selalu menjaga jarak, tetapi mereka tetap memiliki kontak dengan realitas yang lebih baik dibandingkan dengan skizophrenia.  Emosi orang skizoid dangkal dan mendatar. Mereka jarang terlihat mengekspresikan kehangatan dan kelembutan atau kemarahan terhadap orang lain. Seakan mereka tidak perduli terhadap pujian dan kecaman.

3. GANGGUAN KEPRIBADIAN SKIZOTIPAL
Orang yang memiliki gangguan kepribadian skizotipal sering disebut sebagai suatu bentuk skizophrenia sederhana (simple schizophrenia). Mereka memiliki tingkah laku, cara berpikir, keyakian dan persepsi yang aneh.
Seperti pada skizoid, orang skizotipal tidak berminat terhadap hubungan sosial.  Mereka lebih suka menyendiri. Emosinya dangkal dan tumpul. Mereka kurang bisa menyambut ekspresi senyum orang lain. Tetapi kadang dia malah tersenyum dan tertawa sendiri ketika ada sesuatu  yang lucu dalam pikirannya. Orang skizoid memang sering tenggelam dalam fantasi dan pikirannya sendiri. Bahkan ketika bersama-sama dengan orang lain, misalnya dalam suatu kuliah atau pesta, tampak dia berbicara dengan dirinya sendiri. Mereka senang sekali berpikir hal-hal yang bersifat magis dan supernatural. Misalnya mereka yakin bahwa dirinya memiliki indera keenam. Tetapi mereka masih bisa mengontrol dirinya dan masih memiliki kontak dengan realitas.
4. GANGGUAN KEPRIBADIAN BORDERLINE
Istilah borderline personality sebenarnya digunanakn untuk menggambarkan orang yang tingkah lakunya beraada di ambang/perbatasan (border) antara neurosis dan psikosis. Mereka lebih parah dari neurosis tapi tidak separah psikosis, karena mereka masih memiliki kontak dengan realitas yang cukup baik. Tetapi tampaknya sekarang gangguan ini lebih dekat pada klasifikasi gangguan suasana perasaan hati (mood disorder). Mereka memiliki kemiripan dengan gangguan depresi dan bipolar.
Ciri pokok orang yang memiliki gangguan kepribadian Borderline adalah adanya kegagalan mengembangkan citra diri (self-image) yang stabil dan utuh. Hal ini diwujudkan dalam bentuk ketidak-pastian terhadap tujuan hidup, sehingga hidupnya seperti tidak punya arah. Karier atau pekerjaannya sering berubah secara mendadak. Mereka juga tidak memiliki kepastian terhadap nilia-nilai hidupnya. Kadang dia tampak memiliki moralitas tinggi, tapi kemudian berubah total.  Loyalitas dan hubungan interpersonalnya labil. Meskipun sebenarnya mereka tidak tahan sendirian. Perasaan terhadap orang lain bisa berubah dengan cepat. Mereka cepat sekali marah. Suatu saat teman dekatnya dianggap orang yang paling baik di dunia, saat lain jadi yang paling jelek. Ini karena dalam melihat orang lain, dia cenderung hitam - putih. Orang lain itu baik dalam segala hal atau jelek dalam segala hal. Oleh karena itu mereka tidak bisa menjalin hubungan dekat dengan orang lain dalam waktu yang cukup lama.
Alam perasaan orang borderline tidak menetap. Mereka mudah sekali berubah dari normal keadaan normal menjadi depresi atau cemas. Mereka juga mudah marah. Hal ini menyebabkan tingkah lakunya sulit diprediksi. Bahkan ada kecenderungan menyakiti atau mencederai diri sendiri. Apalagi ketika mereka dilanda perasaan  kosong dan bosan hidup yang memang sudah kronik.

5. GANGGUAN KEPRIBADIAN HISTRIONIK
Istilah histrionik berasal dari bahasa Yunani, histrio, yang artinya aktor, yang biasanya menjadi pusat perhatian orang. Orang histrionik memang selalu berusaha mencari perhatian orang dengan berbagai cara. Misalnya dengan menunjukkan ekspresi emosi yang berlebihan. Ketika dia sedang mengalami kesedihan sedikit saja sudah ditunjukkan dengan menangis terisak-isak.
Orang histrionik suka mendramatisasi hal-hal yang menimpa dirinya supaya orang lain menaruh perhatian. Hal yang sepele saja sering dibesar-besarkan. Misalnya kalau dia mengalami sakit sedikit saja, sudah menunjukkan sepertinya dia mengalami sakit berat.  Demikian juga dalam memberikan reaksi terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya juga berlebihan.  Oleh karena itu mereka bisa jengkel dan marah secara tidak rasional.
 Hubungan interpersonal dengan orang lain meski tampak hangat dan menarik, tetapi sebenarnya hubungan itu dangkal saja. Mereka kurang bisa berempati dan cenderung egosentrik. Mereka hanya memperhatikan kepentingannya sendiri dan kurang mau memperhatikan kebutuhan orang lain. Bahkan terhadap orang lain mereka lebih banyak menuntut. Terutama berkaitan dengan keinginannya untuk dipuji dan diperhatikan. Kalau dia memakai baju baru dan orang lain tidak menghiraukannya, maka dia akan marah besar.
Orang-orang histrionik akan sangat tertarik sekali dengan profesi yang berkaitan dengan pemberian perhatian dan pemujaan, seperti aktris bintang film, foto model atau peragawan/wati. Tetapi meskipun di luar dia tampak sukses, banyak dipuji orang, ternyata mereka kurang bisa merasakan makna hidup.  

6. GANGGUAN KEPRIBADIAN NARSISISTIK
Istilah ini berasal dari nama seorang pemuda dalam mitologi Yunani, yaitu Narkisos, yang jatuh cinta dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu orang yang memiliki gangguan kepribadian narsisistik memiliki kebanggan dan kecintan yang berlebihan tentang keunikan/kelebihan diri. Seperti pada orang histrionik, orang narsisistik juga membutuhkan perhatian dan pujian orang lain. Tetapi hal itu lebih di arahkan sebagai dukungan pada dirinya sendiri, sehingga dia lebih bangga dan cinta terhadap diri sendiri.
Untuk meningkatkan kebanggaAn dirinya, mereka memiliki preokupasi yang berlebihan dengan sukses, kekuasaan, cinta dan pasangan ideal. Atau ingin terkenal karena kecemerlangan pikiranatau karena kecantikan. Jika mereka mendapatkan hal itu, maka akan meningkatlah nilai dirinya di depan dirinya sendiri. 
Oleh karena itu seperti pada orang histrinik, orang narsisistik cenderung menyenangi pekerjaan yang membuat orang memujinya dan memperhatikannya, misalnya bintang film, foto model atau dalam dunia politik.
Orientasi yang berlebihan terhadap diri sendiri membuat mereka tidak memiliki empati terhadap orang lain dan menjadi sangat egoistik. Dalam berhubungan dengan orang lain mereka lebih banyak menuntut perlakuan istimewa dari pada memberikan sesuatu pada orang lain. Bahkan ada kecenderungan dia mengeksploitasi orang lain utnuk kepentingannya sendiri.

7. GANGGUAN KEPRIBADIAN ANTI SOSIAL (di bagian akhir tulisan ini)

8. GANGGUAN KEPRIBADIAN MENGHINDAR (AVOIDANT)
Orang dengan kepribadian menghindar sangat terganggu terhadap penolakan dan kritik orang lain, sehingga mereka tidak mau mengadakan hubungan sosial jika tidak yakin bahwa dia akan diterima. Di sini tampak bahwa sebenarnya orang dengan kepribadian menghindar tidak seperti orang skizoid yang tidak memiliki kehangatan hubungan sosial. Di sini mereka memiliki minat dan perasaan hangat untuk mendapatkan kasih sayang. Tetapi rasa takut ditolak membuat dia melakukan penarikan diri dari hubungan sosial. Mereka sangat takut dipermalukan dihadapan umum, sehingga mereka tak mau mengunjungi acara-acara berkumpul bersama tema-teman. Di sini mereka tampak memiliki rasa rendah diri. Mereka lebih suka  menjaga jarak dan mengambil peran perifer.  
Gangguan kepribadian menghindar memiliki beberpa kesamaan dengan orang yang mengalami soisal phobia. Keduanya takut ditolak dan dikritik orang lain. Tetapi dalam phobia sosial orang takut pada situasi bersama yang spesifik. Misalnya dalam pesta atau ketika diminta berbicara di depan umum. Pada orang dengan kepribadian menghindar cenderung menghindari hubungan interpersonal. Menurut Mark (dalam Rathus, 1983) kepribadian menghindar tidak bisa menjaga hubungan sosial untuk jangka yang cukup lama karena pada umumnya mereka tidak memiliki ketrampilan sosial (social skill)

9. GANGGUAN KEPRIBADIAN DEPENDANT
Ciri utama orang yang memiliki gangguan kepribadian dependant adalah bahwa mereka sangat sulit melakukan suatu perbuatan yang dipilihnya sendiri. Mereka selalu berusaha mencari nasehat dan dukungan orang lain untuk melakukan perbuatan kecil sekalipun. Misalnya apakah mau pergi ke luar kota dengan naik bis atau naik kereta api. Pada anak-anak dan remaja mereka akan meminta orangtuanya untuk memilihkan pakaian, memilihkan makanan atau mencari sekolah. Pada orang dewasa mereka akan meminta orang lain untuk memilihkan karier yang cocok untuknya. Bahkan kadang mereka minta tolong untuk memilihkan pasangan hidupnya. Jika merke sudah menikah, mereka akan menggantungkan diri pada pasangan hidupnya dalam memilih untuk melakukan sesuatu mislnya kemana akan pergi ke rekreasi atau bagaimana mengatur keuangan. 
Perilaku yang pasif seperti di atas tampaknya dilandasi oleh perasaan tidak berani bertanggung jawab. Mereka akan menghindari peran-peran sosial di mana mereka harus banyak memikul tanggung jawab. Mereka cenderung memilih posisi sebagai bawahan yang hanya mengikuti perintah atasannya.  Mereka memang sangat memperhatikan kebutuhan orang lain yang digantungi itu. bahkan kadang tidak memperhatikan kepentingan dirinya sendiri supaya dia tetap mendapatkan tempat bergantung. Mereka sangat penurut dan suka mengalah, sehingga kadang banyak dimanfaatkan oleh orang lain.
Mereka kurang percaya pada kemampuan diri (merasa tak mampu, merasa bodoh dsb.), sehingga mereka umumnya memiliki prestasi yang jauh di bawah kemampuan yang sebenarnya mereka miliki. Mereka tidak suka dengan persaingan. Lebih menyukai ketenangan dan ketenteraman.

10. GANGGUAN KEPRIBADIAN OBSESSIVE KOMPULSIVE
Ciri utama orang yang memiliki gangguan obsesif kompulsif adalah adanya kecenderungan perfeksionistis. Ingin melakukan sesuatu dengan benar dan takut membuat kesalahan dalam melakukan suatu pekerjaan. Mereka sangat memperhatikan hal-hal kecil dan detail. Preokupasi dengan aturan, urutan, jadwal dan daftar. 
Aturan bagi orang yang memiliki gangguan obsesif kompulsif menjadi teramat penting untuk diperhatikan. Mereka menjadi orang yang sangat disiplin. Tidak pernah datang terlambat ke sekolah atau ke tempat kerja atau melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal. Mereka juga akan mengatur rumahnya dengan rapih dan bersih. Jika ada hal yang tidak beres sedikit membuatnya jengkel.  Jadwal kegiatannya  sehari-hari telah tersusun dalam daftar yang rapi. Mereka mempunyai preokupasi terhadap pekerjaan. Bahkan ada kecenderungan lebih mementingkan untuk berkarya dan karier daripada menjalin persahabatan.
   Hubungan sosial ornag obsesif kompulsif memang menjadi sangat kaku karena segala seuatu telah diatur secara rapi. Mereka tidak memiliki dan tidak mampu mengekspresikan  kehangatan dan kelembutan perasaan. Selanjutnya hal ini akan mempengaruhi kemampuannya berempati yang mnjadi rendah. Dia tidak bisa mersakan apa yang dirasakan orang lain. Atau memang dia tidak mau perduli dengan perasaan orang lain. Yang lebih mereka perhatikan dalam hubungan sosial adalah aturan dan tata krama. Mereka selalu menjaga formalitas setiap saat, sehingga tampak selalu serius.
Dalam pergaulan mereka berpegang teguh pada hierarki sosial. Orang yang lebih rendah kedudukannya dari dia tidak selayaknya duduk sejajar dengannya. Dalam situasi ini dia akan merasa superior dan cenderung bersikap otoriter. Mereka mendesak orang lain melaksanakan pekerjaan sesuai dengan caranya.
11. GANGGUAN KEPRIBADIAN PASIF AGRESIF
Orang dengan kepribadian pasif-agresif tidak mengekspersikan agresifitas dengan orang lain secara terbuka, tetapi dengan cara-cara yang pasif. Untuk menunjukkan permusuhan dan kejengkelannya dia bukannya marah-marah ataupun memukul orang yang menjengkelkannya, tetapi justru sebaliknya dia akan menjadi diam, pura-pura tidak mendengar jika disuruh, sengaja melakukan kesalahan sengaja "lupa". Misalnya seorang suami yang merasa jengkel karena disuruh membantu istrinya mencuci piring, tidak menyatakan terus ternag kejengkelannya itu tetapi ketika disuruh dia pura-pura tidak mendengar sampai istrinya jengkel. Kemudian ketika dia terpaksa mencuci piring untuk membalas kejengkelan itu dia kemudian memecahkan piring dengan sengaja.
Penampilan luar orang dengan kepribadian pasif agresif adalah keras kepala dan bandel. Dalam bekerja sering berlambat-lambat atau tidak efisein dengan sengaja. Dalam berhubungan sosial mereka sulit diajak kerja sama. Selalu melawan dan bersikap negativistik. Suka mencari kesalahan orang lain dan mengkritiknya. Tetapi dia sendiri merasa jengkel jika dikritik. Lebih banyak mengutarakan keluhan-keluhan kepada orang lain.

7.  GANGGUAN KEPRIBADIAN ANTI SOSIAL
Istilah yang pertama kali digunakan untuk menyebut gangguan kepribadian ini adalah 'Psikopat'. Sebagai klasifikasi psikiatris konsep psikopat bermula dari label yang diberikan Philip Phinel kepada pasiennya yang menderita: "manie san delire". Pasien ini berasal dari keluarga bangsawan yang kaya. Meskipun demikian, dia tidak pernah puas terhadap semua keinginannya, mudah marah dan melakukan tindakan agresip.
Label lain diberikan oleh Pritchard yaitu 'moral insanity'. Sedangkan Rush menyebutnya sebagai 'moral dearangement'. Konsep yang lebih profesional berawal dari anggapan bahwa tingkah laku ini bersifat herediter. Kemudian Koch mengusulkan istilah 'Psychopatie inferiority'. Tetapi ternyata bahwa orang psikopat ini tidak mempunyai gangguan fisik maupun psikopatologis seperti yang dikenal, misalnya: neurosis, psikosis maupun retardasi mental, maka beberapa ahli berpendapat bahwa sebenarnya mereka bukan sakit dalam arti fisik dan psikologis, tetapi 'sakit' dalam pengertian sosial, sehingga timbullah istilah 'Sosiopat'. (Ullmann and Krasner, 1969).
Istilah yang sekarang banyak digunakan adalah 'anti sosial'. PPDGJ II juga menggunakan istilah ini, dan menggolongkan dalam kategori gangguan kepribadian dengan kode 301.7.

PENGERTIAN
Dibanding dengan jenis keabnormalan yang lain, gangguan kepribadian psikopat ini agak sulit untuk dikenal. Sebab seorang psikopat tidak menunjukkan gejala yang jelas seperti pada neurosis, retardasi mental ataupun psikosa. Buss mengatakan bahwa gejala pokok psikopat adalah ketidakmampuan mereka mengendalikan diri, sehingga menimbulkan sikap yang asosial dan immature. Ini sangat berlawanan dengan orang neurotis yang mempunyai kontrol diri berlebihan. Jadi jika orang normal mempunyai kpntrol diri yang cukup baik, dan neurotis mempunyai kontrol yang berlebihan, maka psikopat hampir tak ada kontrol sama sekali (Siti Meichati,1970).
Menurut Eysenk dan Mcili (1972) psikopat adalah orang yang impulsip, tak bertanggungjawab, hedonistik dan memiliki kepribadian ganda yang tak mampu menghayati hubungan interpersonal. Mereka tak punya rasa bersalah, rasa penyesalan, empati, afeksi serta tak ada perhatian sungguh-sungguh untuk kebaikan orang lain. Meskipun dia pandai berkata tentang hal-hal yang emosional, tetapi semuanya hanya dibuat-buat saja.
Demikian juga Maslow dan Mittleman (1951) mengatakan bahwa istilah psikopat menunjuk kepada suatu kondisi dimana seseorang mengalami kesulitan menghayati hubungan interpersonal, hubungan sosial maupun menghayati nilai-nilai moral. Coleman (1976) menambahkan bahwa semua ini menyebabkan psikopat senantiasa berkonflik dengan masyarakat.
Jadi psikopat atau kepribadian anti sosial adalah suatu gangguan kepribadian yang membuat seseorang tidak mempunyai kemampuan mengendalikan diri dan menghayati kehidupan emosional, sehingga menimbulkan tindakan yang antisosial.

KARAKTERISTIK
Coleman (1976) memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kepribadian antisosial:    
1. Perkembangan hati nurani yang tidak baik dan kurang memiliki  rasa bersalah.
Mereka tidak memahami dan menghayati nilai-nilai moral dan etika secara sungguh-sungguh. Mungkin saja dia pandai berbicara tentang masalah moral dan keagamaan, tetapi semuanya hanya berifat verbalistik, hanya omongan saja. Demikian juga kalau dia melakukan kesalahan atau tindakan agresip, mungkin saja dia pandai meyakinkan bahwa dia sudah merasa bersalah dan menyesal, tapi di lain waktu juga melakukan lagi, sebab pada dasar mereka tidak punya rasa bersalah, berdosa atau penyesalan yang dalam.

2. Tingkah lakunya impulsip dan tak bertanggungjawab. Toleransi  frustasinya rendah.
Kepribadian psikopat sama sekali tidak masak. Seperti seorang kanak-kanak, mereka tak punya kontrol diri. Mereka selalu ingin bersenang-senang. Semua keinginan harus terpenuhi, maunya menang sendiri. Sikapnya sangat Egosentris, tak pernah mempedulikan hak-hak dan kepentingan orang lain. Kalau keinginannya tidak terpenuhi maka mudah timbul frustasi. Mereka juga tak mampu bertanggungjawab atas segala tindakannya. Amat mudah bagi mereka melakukan tindakan yang melanggar hukum, tanpa mempedulikan akibatnya.
3. Pandai bermuka manis untuk menekan dan memanfaatkan orang lain  demi kepentingan sendiri.
Memang benar bahwa orang psikopat itu biasanya mempunyai intelegensi yang tinggi. Penampilannya sangat meyakinkan, pandai bermuka manis, pandai berbicara dan merayu, tapi semua itu digunakan untuk menipu orang lain, demi tercapainya keinginan sendiri. Mereka terkenal sebagai penipu dan pendusta yang patologis dan lihai. Sangat pandai memutarbalikkan fakta dan membuat berbagai macam alasan, sehingga terhindanr dari kesalahan.
4. Menolak otorita dan tak mampu mengambil pelajaran dari  pengalaman.
Mereka ingin bebas dan tak mau diatur. Bahkan aturan-aturan dan norma dalam masyarakat itu seakan-akan tak ada, sehingga melakukan pealnggaran hukum itu suatu hal yang biasa. Jadi kalau mereka melakukan tindakan kriminal itu sifatnya bukan profesional, karena bagi mereka itu hal yang biasa. Dan kalaupun diberi hukuman berkali-kali mereka tetap melakukannya. Mereka tak bisa mengambil pelajaran dari tindakannya di masa lalu maupun memikirkan akibat tindakannya di masa mendatang. Yang penting adalah hari ini dan di sini 'saya' senang.
5. Tidak mampu membina hubungan interpersonal yang baik.
Karena sifatnya yang egosentris, orang psikopat tak bisa menenggang rasa pada orang lain. Mereka tak bisa merasakan cinta, kasih sayang, simpati, persahabatan, kesetiaan. Orang lain hanya dianggap sebagai obyek untuk memuaskan keinginan-keinginannya saja.

Benyamin Kleinmuntz (1980) secara lebih jelas dan sistematis menyebutkan beberapa karkteristik kepribadian psikopat:
 1. Tidak mampu membentuk hubungan yang penuh loyalitas, dan  memperlakukan manusia seperti benda.
 2. Tidak mempunyai rasa bersalah (guilty feeling), penyesalan yang  dalam tapi pandai meyakinkan orang lain dengan omongannya  bahwa dia betul-betul merasa bersalah.
 3. Tidak mampu mengambil pelajaran dari pengalaman, dan berulang- ulang melakukan tindakan kriminal.
 4. Cenderung menuruti keinginan dan mencari kesenangan saja.
 5. Sikapnya impulsip dan kekanak-kanakan.
 6. Agresifitasnya tinggi, cenderung destruktif jika frustasi.
 7. Penampilan sangat meyakinkan dan inteligen, tapi hanya  superfisial saja.
 8. Tidak mampu bertanggungjawab.
 9. Pembohong yang patologis.
10. Miskin perasaan, tidak bisa menghayati emosi.
11. Egosentris.
12. Kurang memiliki insigtt, tidak mampu melihat diri sendiri seperti yang dilihat orang lain.
13. Tingkah laku seksualnya ganas, tak bisa merasakan cinta.

TEORI-TEORI PSIKOPAT (ANTI-SOSIAL) 
Ada beberapa teori yang berusaha mengungkap timbulnya kepribadian antisosial/psikopat, baik yang bersifat biologis, psikologis, maupun sosiokultural.

1. Teori Biologis:
Termasuk dalam teori ini adalah adanya anggapan bahwa kepribadian psikopat bersifat herediter, suatu bentuk kelainan yang diturunkan dan dibawa sejak lahir. Tetapi menurut penelitian Mc Crod & Mc Crod dapat disimpulkan bahwa faktor genetik & konstitusional dari psikopat ternyata tidak cukup meyakinkan. Sehingga hubungan antara hereditas dan psikopat tak dapat dipertahankan (Ullman & Krasner, 1969).
Pandangan yang bersifat biologis lainnya timbul setelah ditemukan adanya kelainan getaran otak pada psikopat. Ternyata hasil EEG mereka menunjukkan keabnormalan, yakni pada bagian lobus temporalis, gelombang otaknya sangat rendah. Hare menyimpulkan  bahwa kelainan semacam itu menunjukkan tidak berfungsinya mekanisme pertahanan pada susunan saraf sentral, sehingga membuat orang itu mengalami kesulitan dalam belajar mengontrol tingkah lakunya (Coleman, 1976). Tetapi hasil penelitian yang lain menyatakan bahwa tidak semua psikopat mengalami kelainan EEG, sebagian juga normal.

2. Teori Interpersonal:
Teori ini meletakkan titik pangkal gangguan kepribadian psikopat pada hubungan interpersonal, terutama hubungan antara ibu dan anak pada masa kanak-kanak.
Pandangan psikoanalisa menganggap bahwa psikopat muncul karena adanya kesalahan dalam perkembangan super Ego. Aspek pengontrol perilaku manusia ini tidak timbul dengan baik. Demikian juga Ego tidak berkembang sebagaimana layaknya. Id yang paling berkuasa. Baik Ego maupun Super Ego tunduk mengikuti kemauan Id (Siti Meichati, 1970).

Berdasarkan pada penelitian empiris, Coleman (1956 dan 1976) menyebutkan beberapa bentuk hubungan dalam keluarga, yang bisa menimbulkan kepribadian psikopatik:
a). Kehilangan orangtua di masa kanak-kanak dan adanya deprivosi  emosional.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa sebagian besar psikopat mempunyai pengalaman traumatik di masa kanak-kanaknya, karena ditinggal orangtuanya atau kedua orangtuanya bercerai. Tetapi menurut Hare bukan kehilangan orangtua itu yang menjadi kunci persoalannya, melainkan karena gangguan-gangguan emosional (emotional turbances) dengan adanya hubungan antara anggota keluarga yang patogenik.

b) Penolakan orangtua atau orangtua yang tidak konsisten.
Menurut Mc Cord dan Mc Cord, penolakan orang tua yang berat dan kurangnya afeksi orangtua merupakan penyebab utama timbulnya psikopat. Selanjutnya Buss mengemukakan dua tipe perilaku orangtua yang menyertai timbulnya kepribadian ini, yaitu :
Pertama, orangtua bersikap dingin dan hubungan dengan anak terlalu jauh. Tidak ada kehangatan emosional, cinta dan kasih sayang. Hal ini akan tetap dibawa oleh anak pada masa dewasanya, sehingga dia pun bersikap dingin terhadap orang lain, tak bisa berempati atau terlibat secara emosional.
Kedua adalah tipe perilaku orangtua yang tidak konsisten baik dalam memberikan afeksi maupun dalam memberikan hadiah dan hukuman. Biasanya orangtua itu sendiri tidak konsisten terhadap peraturan yang dibuatnya. Misalnya anak dilarang berbohong, tetapi orangtua sendiri tak dapat dipercaya omongannya. Hal ini membuat anak kehilangan model yang mantap untuk mengadakan imitasi dan gagal mengembangkan identitas diri yang jelas. Demikian juga kalau orangtua tidak konsisten dalam memberikan hadiah dan hukuman. Misalnya anak mencuri uang, mestinya harus dihukum tetapi ternyata ibu mudah merasa iba setelah anak menyatakan penyesalan (meskipun hanya pura-pura) sehingga tak tega menghukumnya. Hal ini terjadi berulangkali. Dari sini anak belajar, bahwa dengan pernyataan sesal saja dia sudah lepas dari hukuman. Disiplin yang tidak konsisten ini akan menimbulkan rendahnya perkembangan hati nurani.

c) Model orangtua dan interaksi dalam keluarga yang salah.
GREEACRE melaporkan hasil penelitian terhadap psikopat dari keluarga kelas menengah. Ternyata kebanyakan ayahnya adalah orang yang sukses dan terpandang di masyarakat tetapi dingin dan menaruh jarak pada anaknya. Sedangkan ibunya pemalas dan pecinta kenikmatan. Sebenarnya keluarga ini penuh dengan konflik dan skandal, tapi mereka tetap mempertahankan penampilan di depan masyarakat sebagai keluarga yang harmonis. Dengan demikian anak mempelajari bahwa yang penting itu adalah penampilan bukan kenyataan yang sebenarnya. Dia juga mempunyai sikap dingin seperti ayahnya.


3. Teori Sosio-kultural:
Beberapa kondisi sosiokultural dalam masyarakat ternyata juga dapat mengakibatkan timbulnya psikopat. Terutama masyarakat yang norma dan aturan-aturan hidupnya sudah berantakan, tidak teratur, dan masanya terasing dari masyarakat lebih luas bahkan bersikap bermusuhan degan mereka. Ini adalah tempat yang subur bagi timbulnya orang-orang yang hati nuraninya tidak berkembang dengan baik, yang kurang perhatian pada orang lain dan cenderung bertingkah laku destruktif.

TREATMENT
Karena memang individu dengan kepribadian psikopat ini bukan termasuk dalam kategori psikopatologi seperti retardasi mental, neurosis ataupun psikosis, maka mereka jarang mendapat perhatian dari rumah sakit jiwa. Mereka yang nyata melanggar hukum, biasanya dimasukkan dalam program-program rehabilitasi di lembaga-lembaga tertentu, tapi sejauh ini belum efektif.
Kleinmuntz (1980) menyebutkan beberapa treatment yang pernah dicobakan pada psikopat:
1. Psikoterapi tradisional:
Tehnik psikoterapi tradisional dengan memberikan konsultasi ternyata gagal karena mereka pandai berpura-pura, kurang mempunyai insight, impulsip, sikapnya meremehkan dan kurang motivasi terhadap treatment.
2. Somatic Treatment:
Ini dilakukan  berdasar pada teori biologis yang telah disebutkan, yaitu dengan memberikan shock-therapy secara berkala. Ada pasien yang tingkah laku maupun EEGnya menjadi baik, tapi ada juga yang EEGnya justru bertambah buruk. Tehnik ini masih meragukan.
3. Pendekatan Farmakologis:
Yaitu dengan memberikan obat-obatan pada para psikopat. Tetapi hasilnya juga masih dipertanyakan. Demikian juga pembedahan otak, ternyata tidak efektif.
4. Modifikasi Perilaku:
Tehnik ini dilaksanakan dengan memberikan hadiah pada tingkah laku prososial dan memberikan hukuman pada tingkah laku antisosial. Meskipun tampaknya tehnik ini sedikit memberi harapan untuk memperbaiki psikopat, tapi hanya diterapkan untuk mengubah tingkah lakkkku delinquent, dan tidak pada kepribadian antisosial itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA 
Coleman, J.C. Abnormal Psychology and Modern Life, 5th
Edition, Taraporevala Sons & Co, Private Ltd, India
1956

Kleinmuntz, B. Essential of Abnormal Psychology. Second
Edition. Harper & Row Publishers, San Fransisco.
1980

Maslim, R. 1996. Buku Saku Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan  Jiwa. Jakarta: 

Rathus, S.A. & Nevid, J.S. 1991. Abnormal Psychology. Engelwood  Cliff, New Jersey: Prentice Hall.

Siti Meichati. Psikologi Abnormal dan Psikopatologi. Fa
kultas Psikologi UGM, Yogyakarta. 1970

Ullmann & Krasner. A Psychology Approach to Abnormal Be
havior. Prentice-Hall, Inc, Engelwood Cliffs, New 
Jersey. 1969.     


KASUS-KASUS
Suatu hari Tina, seorang siswa SMA, sedang makan sambil nonton film Knigh Rider di TV. Ibunya yang sedang didapur memanggil-manggil dan menyuruhnya membantu mencuci piring. Tapi Tina pura-pura tidak mendengar. Ia tetap asyik dengan makanan dan totntonannya. Berkali-kali ibunya memanggil, tapi tidak ada jawaban. Karena jengkel, ibunya menghampiri Tina.
"Apa kamu tidak punya kuping?" kata ibunya jengkel.
Tina diam saja pura-pura tidak tahu.
"Mama kan dari tadi memanggil kamu. Kamu kok diam saja kayak anak bego."
"Kan Tina baru makan dan nonton TV, Ma," Tina membikin alasan.
"Habis makan nanti bantu Mama cuci piring. Ngerti?"
Tina diam saja.
"Ngerti, nggak?" Ibunya tambah jengkel.
"Ya......ngerti, Ma," jawab Tina malas.
Ketika ibunya pergi ke dapur, Tina asyik kembali dengan makanan dan Knigh Rider-nya seakan tidak ada apa-apa sebelumnya. Dengan sengaja ia mengulur-ulur waktu, supaya kalau dia sudah selesai makan, ibunya juga selesai mencuci piring.
Ibunya memanggil dari dapur sekali lagi.
Tina diam seribu bahasa.
  
******


Ketika Heru, seorang mahasiswa Psikologi, akan mencari tempat kost baru ia mengetuk pintu kamar yang ada di situ. Beberapa kali diketuk pintu tak ada jawaban. Padahal Heru terdengar suara radio berbunyi dari luar, pasti ada orangnya di dalam. 
Beberapa saat kemudian seraut wajah laki-laki muncul dengan menyibakkan sedikit korden jendela. Heru agak terkejut melihat wajah yang agak menakutkan itu. Sorot matanya tajam penuh selidik.
"Mau cari siapa?" tanya orang itu dengan penuh kecurigaan.
"Mau cari kost. Apa masih ada kamar kosong?"tanya Heru.
"Itu tempat ibu kost-nya. Tanya sendiri ke sana," kata orang itu tetap dari balik korden jendela.
Heru menjadi terkesan dengan penghuni kamar itu. Ketika dia sudah beberapa hari pindah di tempat kost itu, dia mencoba mengadakan pendekatan. Dengan masih menaruh kecurigaan orang itu mempersilahkan Heru bertamu ke kamarnya. Heru agak heran melihat ada sebuah kayu besar dibalik pintu.
"Untuk apa kayu ini?" tanya Heru 
"Banyak orang jahat di sekitar ini." kata penghuni kamr itu.  Heru hanya tersenyum saja melihat keanehan perilaku tteman barunya.


Tomo adalah seorang eksekutif muda yang sukses. Ia sangat serius dengan kariernya. Baginya karier adalah yang paling utama dalam hidupnya, sehingga meskipun dia sudah berumur 35 tahun, masih tetap sendirian.
Ia dikenal bawahannya sebagai pimpinan yang sangat disiplin dengan waktu. Jam 8 pagi tepat sudah sampai di kantor dan pulang ke rumah tepat jam 5 sore tepat. Seluruh kegiatannya sudah terjadwal dengan ketat dan dia selalu tepat waktu. Kalau mengerjakan suatu pekerjaan harus sesuai dengan urutannya. Demikian juga ia selalu menekankan kepada bawahannya supaya seperti dia dalam melakukan pekerjaan
Kalau orang masuk ke dalam kantornya akan terkesan dengan kerapihannya. Segala sesuatu diatur. Tak ada satu barangpun yang terkesan semrawut. Berkas-berkas yang ada di atas mejanya tertumpuk dengan rapi. Kalau anak buahnya menaruh dokumen tidak di tempatnya dia akan marah-marah. Buku-buku yang ada di rak tersusun rapi sesuai dengan yang paling besar sampai yang kecil. 

Contoh Informed Consent Klien Psikolog

INFORMED CONSENT
SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama              : ........................................................................
Jenis kelamin  : ........................................................................
Alamat            : ........................................................................

Saya yang tersebut di atas menyatakan SETUJU dan BERSEDIA untuk terlibat dan berpartisipasi aktif dalam proses psikoterapi yang diselenggarakan oleh Sdr. Aswendo Dwitantyanov, S.Psi selaku penyelenggara program. Proses psikoterapi akan dipandu oleh Ibu Amalia Rahmandani, S.Psi, M.Psi, Psi dan dibantu oleh Sdr. Wakhid Mustofa, S.Psi.

Dalam kegiatan ini, saya telah menyadari, memahami, dan menerima bahwa:
1.      Saya bersedia terlibat penuh dan aktif selama proses terapi berlangsung.
2.      Saya diminta untuk memberikan informasi yang sejujur-jujurnya berkaitan dengan masalah yang saya hadapi.
3.      Identitas dan informasi yang saya berikan akan DIRAHASIAKAN dan tidak akan disampaikan secara terbuka kepada umum.
4.      Saya menyetujui adanya perekaman proses psikoterapi berupa tulisan rekaman percakapan selama proses terapi berlangsung dengan jaminan informasi pribadi saya dirahasiakan.
5.      Guna menunjang kelancaran proses yang akan dilaksanakan, maka segala hal yang terkait dengan waktu dan tempat akan disepakati bersama.

Dalam menandatangani lembar ini, Saya TIDAK ADA PAKSAAN dari pihak manapun sehingga Saya bersedia untuk mengikuti proses terapi ini dari awal hingga selesai serta menerima segala hal terkait dengan pelaksanaan kegiatan ini.




Mengetahui
Penyelenggara


(.........................................................)
Yogyakarta, ...........................................
Partisipan



(...........................................................)

jadwal-sholat