Seminar Psikologi Transpersonal

Seminar Psikologi Transpersonal.

Asesmen Pegawai

Asesmen Pegawai.

Proses Rekrutmen Karyawan

Proses Rekrutmen Karyawan.

Pelatihan Pembelajaran Bahasa Inggris Menggunakan Flash Card

Pelatihan Pembelajaran Bahasa Inggris Menggunakan Flash Card.

Pelatihan Psikologi Transpersonal Dalam Menjawab Realita Kehidupan

Pelatihan Psikologi Transpersonal Dalam Menjawab Realita Kehidupan.

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Mei 2016

Sheila

About Dream and Sheila’s Story

“Ran.. gue pengen lanjut kuliah di UI”. “emang kenapa harus di UI, entar kalau lo masuk UI gue gak bisa nyusul dong. Gue kan gak sepinter lo”. Jawabku agak pesimis. “duh rani, gue pengen banget nikmatin perpustakaannya, disana kan udah lengkap perpustakaannya. Kalo soal lo masuk sana sih gampang, entar gue bantu ajarin deh” jawabnya.

Tret.. tret.. tret
Kulihat jam wekerku yang dari tadi berbunyi, ternyata pukul 02.00 dini hari. Rupanya aku salah menyetelnya sebelum tidur tadi. Sudah beberapa hari ini aku selalu bermimpi tentang sahabatku Sheila yang tak tahu dimana, dia dikabarkan menghilang dan sampai sekarang belum ada yang menemukannya. keluarganya sudah menganggapnya meninggal sejak empat tahun yang lalu, dia memang tinggal dengan ibu kandungnnya bersama ayah tirinya. Semua mimpi-mimpiku berisi kenangan-kenangan yang pernah kulalui bersamanya sewaktu SMA, beruntung aku hanya punya kenangan indah bersamanya.

Perpustakaan UI, ini adalah tempat impian Sheila. Sekarang aku sudah kuliah di UI fakultas Hukum. Aku mencoba untuk melanjutkan impian sahabatku itu. “Mba.. novel yang judulnya Diatas Awan ada yang minjem gak?”. “entar ya saya cek dulu.. em.. belum ada yang minjem kok de”. “oh iya makasih” jawabku putus asa, padahal aku sudah sangat ingin membaca kelanjutan cerita dari novel itu. Saat hendak kembali mengambil buku-buku yang akan kupinjam, gantungan tempat pensilku jatuh. Aku menunduk dan melihat sekitar kolong meja, dan gantungan itu jatuh dekat sebuah buku tebal yang sepertinya familiar. Betapa bahagianya ternyata buku yang kucari-cari itu ada di bawah meja tempatku membaca tadi. Kuputuskan untuk meminjam buku itu.

Keluar dari perpustakaan, aku mengecek hpku. Ada sebuah pesan dari “My Reno: Ran, ak gak bsa jemput. Tp ntar mlam ak k rmah kmu skalian ktmu orangtua kmu. Oke? See u”. Dulunya reno adalah pacar sheila, namun setelah sheila pergi dia mulai menjalin hubungan spesial denganku. Itu pun baru berjalan satu tahun. Sebenarnya aku belum terlalu yakin, dulu sheila pernah bilang padaku jika suatu hari dia pergi, aku harus menggantikannya untuk merawat dan menyayangi reno.

“sheila.. apa sih yang bikin lo bisa pinter” Tanyaku bego. “Cinta mungkin, hahah bercanda”. “Reno lagi ya… ganteng sih, cocok buat lo, si pinter dan si ganteng. Perfect banget”. “apaan sih”. Kami diam sesaat sebelum sheila angkat bicara “Ran, entar kalau gue udah pergi, lo harus sama reno. Dia cowok baik-baik gak sama kaya cowok lo tuh sih Ditan”. “emang kenapa sama ditan?”. “ditan tuh bukan cowok baik-baik, gue bisa lihat kok dari gerak-gerik dia. Sorot mata dia, dan segala yang ada sama dia itu wrong! Percaya deh”. “tau deh..” jawabku tak memperdulikan perkataannya. “lo janji kan bakal sama reno, gue percaya Cuma sama lo. Gue gak bisa bayangin bakalan bahagia di alam baka kalau dia jadi milik orang lain”. “iya-iya, kalau lo mati duluan, gimana kalau yang mati duluan itu gue? Mau gak nikah sama ditan?”. “gak deh, makasih”.

Lagi-lagi mimpi tentang sheila. Kupikir apa yang membuatku terbangun kali ini. Ternyata suara mama yang membangunkanku. “sayang.. reno udah datang tuh. Mandi gih. Tadi kamu ketiduran di sofa, jadi mama pindahin ke sini”.
“Ren udah lama nunggu ya?”. “em.. lumayan sejam kali” jawabnya sambil memperhatikan novel yang kubaca di sofa sampai ketiduran. “Ini novel…”. “iya.. novel kesukaan sheila, kamu masih ingat?”. “ya.. dulu dia sering cerita, kutipannya tentang ‘apa yang kau lihat dengan matamu, belum tentu dapat menjelaskan keadaan’” jawabnya santai. “Eh.. ren gue mau cerita sesuatu sama lo. Udah beberapa hari gue terus mimpiin tentang sheila. Tentang kejadian-kejadian waktu di SMA dulu. Dari pertama ketemu, tentang pesan-pesan dia dulu, tentang mimpi-mimpi dia, dan tentang pikiran-pikiran dia tentang ditan yang sering dia ceritain. Gue gak ngerti kenapa” jelasku panjang lebar. “mungkin lo rindu kali sama dia, biasanya kalau kita udah mulai rindu sama orang-orang yang udah gak ada, kita bakal bawa dia ke dalam mimpi. Gak usah terlalu dipikirin, entar dia sedih loh. lo gak boleh capek, ingat Seminggu lagi acara tunanagan kita”. “ya.. aku ingat”.

Bebarapa hari kemudian masih sama, aku tetap memimpikan tentang sheila. Awalnya aku bahagia bisa mengingat wajahnya kembali tanpa melihat fotonya, namun lama-kelamaan aku merasa ada yang aneh. Apalagi dengan perpustakaan kampus. Aku selalu merasa ada yang mengikutiku, tapi bukan perasaan takut yang kurasakan melainkan perasaan rindu yang teramat dalam.

Tiba di hari pertunanganku dengan reno, aku merasa gugup. Aku memang mencintainya, namun aku belum sepenuhnya yakin dengan keputusanku ini. Acara ini dihadiri keluarga dan kerabat dekat kami. Saat hendak bertukar cincin, aku menarik nafas dan kulihat sosok gadis cantik berdiri di belakang reno. Itu Sheila, sheila menangis. Aku melihat dia menangis dan membuatku tak jadi memasangkan cincin di jari reno. Aku hanya mengatakan maaf dan berlari ke kamar. Sebelum kejadian ini, keponakanku datang bercerita padaku bahwa ada seorang kakak yang bercerita padanya bahwa sahabatnya akan bertunangan sebelum menemukannya dan hidup kekal sambil menangis tersedu-sedu. Kuyakin kakak yang dimaksud keponakanku itu sheila, dan sahabatnya adalah aku.

Pertunanganku bukannya gagal namun ditunda sampai aku benar-benar siap. Reno kecewa begitu pula keluarga kami. Untung reno adalah laki-laki yang benar-benar baik, dia tak juga meninggalkanku.

Saat duduk di perpustakaan aku berpikir tentang segala kejadian yang terjadi padaku, dari mimpi-mimpi itu sampai pesta pertunanganku. “Kenapa kau harus menggangguku?” kataku dalam hati. “Hey…” seseorang menepuk pundakku. “aku disini.. aku selalu ada untukmu”. Aku menahan tangisku, sheila datang menghampiriku. “Kenapa lo pergi?” tanyaku. “gue gak pergi kok, gue cuman istirahat doang”. “trus lo ngapain disini?”. “gue pengen liat lo, gue kangen banget sama lo”. “mba.. mba.. bangun mba…”. ternyata cuman mimpi, tadi aku ketiduran. “maaf ya, maaf”.

Sebuah pesan masuk di hpku membuatku terkejut “My Reno: Ran gw mau crita sesuatu, penting! Ktmuan d yummy skrg”. Ada apaan nih? Kayanya penting banget. “oke” balasku.
“ran.. kemarin gue dari kampung kakek gue, trus gue temenin dia ngambil susu kedelai di rumah tetangga. Gue liat foto sheila di rumah itu. Gue yakin itu emang beneran dia” jelasnya. “trus?”. “gue nanya ke kakek gue, katanya tuh cewek dia temuin di jalan, dengan tubuh yang lemas dan penuh darah, seperti habis diperk*sa. Tetangga kakek gue itu emang gak punya cucu, dan emang kesepian karena ditinggal anaknya. Jadi cewek yang gue yakin sheila itu dia rawat, tapi tragisnya cewek itu gak mau bicara. Dan beberapa hari kemudian bunuh diri”. “gak mungkin.. sheila pasti masih hidup, dia gak mungkin mati” aku mulai meneteskan airmata. “gimana kalau kita ke kampung sekarang? Siapa tau aja nenek tersebut bisa memberikan keterangan”. Aku tak menjawab namun kuikuti semua yang dia katakan.

Saat dalam perjalanan, aku memimpikan sheila. Dia berkata “Rani.. bukankah sudah kukatakan bahwa apa yang kau lihat dengan matamu belum tentu dapat menjelaskan keadaan? Kau tak juga mengerti? Hati-hati.. aku menyayangimu”.

“Nek.. nenek kenal dengan gadis ini?” tanya reno. “kenal, dia cucu saya yang udah meninggal empat tahun yang lalu”. “dia teman kami nek, apa nenek punya barang-barang yang dia tinggalkan?”. “ada, tunggu sebentar… ini”. Sebuah tas yang sering dia gunakan diberikan nenek itu padaku. “boleh saya bawa nek?” tanyaku. “boleh”. “makasih, sebenarnya kami ingin pergi melihat makamnya, tapi sudah malam. Besok kami akan datang lagi, bolehkan?” kata reno. “terserah kalian, kapan saja kalian bisa mampir”.

Karena sudah tengah malam, kami memutuskan untuk istirahat di rumah keluarga reno. Setelah membersihkan tubuh, aku membuka tas sheila. Ada pakaian yang terakhir kali dia pakai dulu sebelum dia meninggal, entah mengapa, saat mencium baju itu baunya sama seperti bau parfum sheila dulu. Aku lihat beberapa fotoku dan dia, dan foto-fotonya bersama… ditan. Kulihat semuanya, aneh, tak ada satu pun fotonya bersama reno. Dan sepucuk surat,

“Rani, maafkan aku. Sebenarnya aku sudah lama berpacaran dengan ditan. Oleh karena itu aku selalu bilang dia bukan cowok baik-baik. Maaf. Dia selalu melindungiku saat aku dipukuli dan disiksa ayah tiriku. Saat aku sedih, dia selalu meminjamkan pundaknya untukku. Dan tentang reno, kutarik kembali kata-kataku yang mengatakan bahwa dia adalah orang baik. Sebaiknya jangan kau dekati dia, dia berbahaya. Setelah surat ini sampai padamu, jangan pernah berhubungan dengan laki-laki yang bernama reno. Aku telah memutuskan untuk lari dari rumah, aku tak bisa terus hidup dengan ayah tiriku yang sangat kejam. Ingat apa yang kau lihat dengan matamu belum tentu dapat menjelaskan keadaan. Dengan kata maaf belum tentu bisa menghapus tentang kenangan buruk ini, namun skali lagi aku ingin tetap mengucapkan maaf yang sedalam-dalamnya. Love, Sheila”.

Aku menangis membaca surat itu, ternyata dia punya banyak rahasia dan pergumulan hidup yang dia simpan sendiri. Dan ditan, aku memutuskannya memang karena memergokinya selingkuh dengan adik kelasku, tapi itu terjadi sebelum sheila menghilang. Berarti pandangan sheila tentang ditan juga salah, dia juga tak sebaik apa yang dia pikirkan. Andai waktu dapat terulang ingin menjelaskan banyak kekeliruan di antara kita. Reno.. kenapa sheila bilang dia bukan orang baik? Apa yang salah?.

Tok.. tok.. tok..
“siapa…” tiba-tiba mulutku disekap. “lo udah baca suratnya? Dia menderita sendirian, dan lo dimana? Dia selalu lari ke cowok lo, bukan ke gue? Dia ngehianatin gue sama lo tau gak. Makanya gue paling malas ngeliat lo nangis karena dia. Dan satu hal yang sama dari lo berdua, yaitu mudah gue bohongin. Sama-sama masuk perangkap gue, dasar bego. Dia juga pernah nangis disini sama kaya lo. Bedanya dia nangis karena bokap tirinya dan pengen putus dari gue. Oh ya lo dulu putus sama ditan itu karena gue, gue yang ngatur semua itu, lo gak perlu tahu lah detailnya. Yang gue pengen lo jadi millik gue saat itu. Ditan tuh anak yang baik-baik, saking baiknya dia tuh sama begonya sama lo sama sheila” dia tertawa. Aku kaget mendengar semuanya, aku memberontak, kutendang dia dan sesegera mungkin lari. Untung pintunya belum dikunci. Aku berlari di jalan yang gelap dan becek, dan aku menyadari inilah yang dimaksudkan sheila dalam mimpi.

Aku terus berlari, dan jurang di depan mata. Aku bingung, reno sudah tinggal selangkah lagi akan meraihku. Aku berdoa “ya Tuhan lindungilah aku”. Dan kuputuskan melompat ke jurang. Sakit.. aku tak ingat apakah aku merasakan sakit itu. “Rani.. ini aku sheila. Maaf terlambat, namun lebih baik terlambat daripada tidak sama skali. Aku selalu mencoba mengatakan rahasia itu saat kau di perpustakaan, namun dunia kita begitu jauh walau kau selalu lewat di depan mataku. Maaf aku selalu menyelinap di dalam mimpimu. Aku sedih tiap kali kau tak memperdulikan kata-kataku. Namun aku bahagia kau bisa melihatku saat hari pertunangan itu. Pulanglah rani, sekarang aku sudah tenang. Masih banyak masalah yang harus kau selesaikan”. Begitu terang, aku tak bisa melihat, tapi kuyakin itu adalah malaikat yang menolongku.
“rani.. kau sudah sadar. Sudah tiga bulan kau koma”. “minum ma…”. “ini sayang”. “reno mana ma?”. “reno? dia dalam pemeriksaan, dia sudah dalam status tersangka. Tinggal menunggu kamu sadar untuk memberikan keterangan. Apakah dia yang mencoba membunuhmu?”. “ma…” kata-kataku tertahan. “gak usah dilanjutin, istrahat aja dulu”.

Akhirnya reno dipenjara, dengan kasus percobaan pembunuhan padaku dan sheila. Aku tak menyangka dialah penyebab semua ini. Dengan rapi empat tahun dia menyembunyikannya dariku dan dialah yang membongkar semuanya. Makam sheila terpaksa dibongkar untuk melakukan pemeriksaan ulang. saat memberitahukan semuanya pada orangtua sheila, ibunya sempat pingsan. Namun akhirnya dia bisa menerima semuanya. Ayah sheila juga dalam pemeriksaan, karena didapat beberapa bukti yang membuktikan bahwa ayahnya melakukan penganiyayaan pada sheila. Ditan, aku bertemu ditan sebulan yang lalu. Dia berada di rumah sakit jiwa, bukan karena menjadi dokter atau perawat namun dia mengalami gangguan mental empat tahun yang lalu. Menurut orangtuanya dia menjadi seperti itu karena ditinggalkan kekasihnya. Yang kuyakin kekasih yang dimaksud orangtuanya itu adalah sheila, karena dia terus memanggil-manggil namanya. Kasihan dia, aku akan mencoba mengembalikan ingatannya.

Sesering aku mengurus urusanku di kantor polisi, sesering itu pula aku bertemu dengan joe kakak tiri sheila. Aku mulai jatuh cinta padanya. Setahun kemudian aku menikah dengannya. Dan sekarang telah mempunyai anak kembar sepasang, ini adalah hadiahku untuk sheila.
“Apa yang kau lihat dengan matamu, belum tentu dapat menjelaskan keadaan”

Cerpen Karangan: Sherly Yulvickhe Sompa


Sihir Hitam

Sihir Hitam

Belum sempat Mia menaruh tas yang dijinjingnya, terdengar suara teriakan dari rumah sebelah. Rumah yang ditinggalkan pemiliknya sebulan lalu.
“Tolong, tolong, tolong…!!!”
Mendengar suara itu dia lantas bergegas menuju asal suara. Mia melihat rumah itu dengan pintu yang terbuka. Ketika hendak masuk, Mia dikejutkan dengan seonggok tubuh manusia yang tergeletak di ruang tamu dengan darah segar yang mengalir. Terlihat jelas dari posisi Mia yang terpaku tepat di tengah pintu. Refleks dia menjerit sejadi-jadinya.
“Aaaaaaaa…!!!”
Darah masih mengalir dari lehernya, sehingga lantai putih itu menjadi merah bersimbah darah. Mengalir di sela-sela ruang dan menggenang di sudut tembok. Ada sebuah pisau dapur mengkilap tepat di muka mayat. Barangkali pisau itu yang telah digunakan untuk menghabisi nyawanya. Mia sangat takut dengan kejadian ini apalagi orangtuanya baru saja dia antar hendak pergi ke luar kota. Dia panik, lantas dia ke rumah Pak RT berharap secepatnya kasus ini terselesaikan.
“Pak tolong, ada mayat di rumah nomer 13”, bibirnya yang masih bergetar, dengan nafas yang tidak teratur.
“Benarkah?”
“Iya Pak, benar”
“Ayo kalau begitu kita bergegas ke tempat kejadian”
Pak RT lekas menghidupkan mesin motornya. Mereka buru-buru menuju tempat kejadian. Motor Pak RT sudah tua ngambek, sehingga kami terpaksa jalan kaki dengan langkah sangat cepat. Selama ini Mia belum kenal dengan pemilik rumah itu. Pemilik rumah yang sangat tertutup. Tapi sebenarnya warga komplek ini telah hafal dengan tabiatnya. Pemilik rumah itu datang dan pergi begitu saja. Wajar jika tidak ada yang mengenalnya. Aku memperkirakan pembunuhan ini berlatar belakang perampokan.
Mereka sudah sampai di depan rumah. Tapi Mia heran dengan pintu yang sekarang tertutup, tadi dia yakin pintu itu terbuka. Ketika Pak RT membukanya, sontak mereka dikejutkan dengan sesosok wanita yang tengah duduk di sofa dengan buku di tanganya. Kontras dengan pemandangan yang Mia lihat tadi. Kontras dengan apa yang Mia katakan pada Pak RT. Dia tampak terkejut melihat kedatangan Mia dan Pak RT. Bukan wanita itu yang membuat Mia tercengang, terlebih karena di samping sofa itulah tadi Mia melihat sesosok mayat terbaring bersimbah darah.
“Oh ada tamu ya ternyata, silahkan masuk!”, wanita itu menyapa sambil berdiri membenarkan rok lebarnya. Suara wanita itu aneh, terdengar menakutkan meski dengan suara yang lembut.
“Mmm… Maaf, tadi ada pembunuhan di rumah ini, apa Ibu sudah tahu?”
“Saya dari tadi duduk di sini, jangan mengada-ada dong”
“Saya tidak mengada-ada Bu, benar tadi ada. Mayatnya tadi ada di lantai tepat di samping sofa itu…” , Mia menunjuk tempat yang dia yakin di sanalah mayatnya tergeletak.
“Kenyataanya tidak ada. Tidak ada apa-apa di sini!”, wanita itu mulai meresa terusik dengan kelancangan Mia.
“Sudah! biar saya periksa dulu”, ujar Pak RT menengahi pembicaraan.
Mia berfikir sejenak hendak membenarkan apa yang wanita itu katakan. Tapi dia belum pikun, dan dia benar-benar masih ingat mayat itu mati di samping kursi tempat wanita itu duduk. Pak RT masuk ke dalam rumah. Memeriksa semua ruang yang ada di rumah itu. Ruang yang sangat lebar. Dia lihat semua sisi dari ruangan itu. Dan Mia masih terpaku di tempatnya dia takut masuk ke dalam, hanya terpaku di pintu masuk. Beberapa saat kemudian Pak RT kembali.
“Tidak ada apa-apa”, Pak RT berbicara pada Mia, tapi dengan mimik muka yang berbeda dengan tadi sebelum dia memeriksa rumah. Mia merasa ada yang aneh dengan sikap Pak RT.
“Yakin Pak tidak ada?”
“Iya. Tidak ada”
Lalu Mia dan Pak RT hendak pergi dari rumah itu. Setelah meminta maaf pada wanitu itu. Tapi sebenarnya bukan karena mereka telah yakin tidak apa-apa di sana. Bukan itu, tapi seperti ada sesuatu yang masuk pada pikiran mereka, sesuatu yang membuat mereka tidak berani untuk lebih jauh mencurigainya.
“Loh tidak duduk dulu?”, sahut wanita itu dengan nada yang masih aneh, lembut tapi menakutkan.
Saat Mia menoleh, dia jadi salah tingkah sendiri melihat sorot mata itu menusuk dan secara perlahan-lahan menggerogoti kejengkelannya. Ia merasa seperti ada yang memukuli jantungnya untuk berdegup lebih cepat dan lebih keras lagi. Apalagi ketika wanita itu berkata, “Loh tidak duduk dulu?”
Mia takut dia segera pulang begitu pula Pak RT. Tapi tetap saja wajah dan sikap Pak RT berubah semenjak dia masuk ke rumah itu. Entah apa yang dia lihat. Mia tidak tahu apa yang dia lihat, sebab tidak ada kata yang Pak RT ucap untuk menjelaskannya.

Gelap mulai merayap menyelimuti rumah-rumah yang ada di komplek itu. Tak terkecuali rumah yang penuh misteri. Misteri yang baru Mia peroleh beberapa jam yang lalu. Dan masih meninggalkan bekas yang mendalam di benaknya. Wanita dengan tatapan aneh.
Mia duduk di sofa ruang tengah. Tampak kedinginan meski sebenarnya hawanya tidak sedingin itu. Dia mulai jengah menanti Rina yang berjanji menemaninya malam ini, sekedar untuk mengurangi rasa takutnya.
Pintu rumah Mia diketuk keras dan tidak sabaran. Mungkin itu Rina yang berjanji akan menemaninya malam ini. Hati Mia mulai rada tenang, meski belum tahu siapa yang sedang berada di balik pintu.
“Ya, sebentar!”, teriak Mia.
Sebelum membuka pintu, Mia membuka gorden meyakinkan siapa yang datang. Tidak kelihatan, mungkin dia di sisi yang tidak terlihat dari dalam. Lantas Mia buka pintunya. Berdiri seorang wanita pemilik rumah itu menyodorkaan rantang dengan tatapan yang sama ketika terakhir melihatnya tadi siang.
“Untuk Mia…”
Mia hanya diam terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa kecuali meraih rantang yang ada di depanya. Tenggorokan Mia tertahan tidak bisa dia mengucap sepatah kata pun. Perempuan itu menatapnya sejenak lalu membalikan badan melangkah pergi perlahan meninggalkan Mia yang sedang ketakutan.
Ketika perempuan itu sudah menghilang ditelan gelap. Barulah Mia sadar ada rantang di tangannya. Dia takut bukan main, lalu dia lempar rantang itu ke tanah. Sungguh mengejutkan ratang itu berisi sepasang bola mata dan sepasang telinga dengan kuah darah berwarna merah pekat. Berbau anyir.
Pemandangan yang menjijikan, darah itu mulai meresap ke tanah.
Rasanya Mia mau muntah, tetapi tidak ada yang keluar dari perutnya. Ia berjuang keras meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang terlihat, dan terbaui olehnya itu, sebetulnya hanyalah sesuatu yang hanya dia khayal saja. Tapi tidak, darah itu masih merah, bola mata itu masih di tanah seperti menatap tajam, dan dua telinga yang terserak.
Mia meuntup pintu dengan keras berharap rasa takutnya rontok bersama dengan hentakan pintu. Dia kembali ke sofa, tubuhnya menggigil, wajahnya pucat pasi. Dia gigit kain selimutnya, tak terasa keringat dingin menetes melalui pori-porinya. Mia sangat ketakutan.
Angin malam berhembus pelan masuk melalui cela dan menerpa tubuh Mia. Bulu romanya mulai bergidik. Jantungnya terpompa, keringat dingin membasahi pakainya.
“Grrrhhhuuekkhhh…”
Ada suara berdahak di dalam kamar mandi. Padahal hanya Mia yang berada di rumah ini.
“Grrrhhhhuuekkkhhh…” lagi-lagi saura itu terdengar diikuti suara air kran yang mengucur.
Mia tidak tahan dengan kejadian-kejadian ini. Dia berusaha bangkit dan memberanikan diri, memeriksa siapa yang ada di kamar mandi. Dengan langkah yang mengendap-ngendap. Tubuhnya masih menggigil, dia lihat ada sesosok perempuan di balik pintu kaca kamar mandi yang transaparan. Dia semakin mendekat, dia buka pintu itu meski ragu-ragu.
“Grrrhhhuuekkkhhh…”, seorang wanita berpakaian serba putih berdahak memuntahkan darah merah. Dengan spontan menatap Mia, sorot mata yang merah merembas darah dari matanya. Sorot mata yang sangat menakutkan. Kran juga mengalir darah. Kamar mandi itu menjadi banjir darah. Mia hafal wajah itu, dia adalah pemilik rumah yang menakutkan tapi dia sudah berubah semakin manakutkan.
“Bruuk”, Mia banting pintunya dia lari sekuat tenaga hendak keluar rumah. Namun lampu-lampu rumah satu per satu padam, hanya beberapa lampu remang berwarna kuning yang masih menyala.
Pintu untuk keluar terkunci, entah siapa yang menguncinya. Dia tarik sekuat tenaga tapi tidak berguna. Hanya sia-sia, pintu tetap terkunci, lantas Mia menangis sejadi-jadinya bersandar di tembok dekat pintu. Tubuhnya menggigil hebat. Hanya keringat dingin yang menerjemahkan keadaannya.
Wanita itu muncul dari balik kegelapan dan mulai mendekat, wanita dengan rambut berantakan dan pakaian serba putih. Pakaian yang pajang, sehingga wanita itu melangkah dengan menyeret pakaianya. Wajahnya penuh luka, kadang terdengar suara merintih, kadang suara tawa keluar dari mulutnya.
“Aku butuh bola matamu, aku butuh telingamu, aku butuh darahmu…”, suaranya pelan tapi jelas terdengar di telinga Mia.
“Tidak, tidak, tidak…!!!”, teriak Mia ketakutan.
Wanita itu semakin dekat sangat dekat, Mia palingkan mukanya dia takut menatap wanita dengan darah yang merembes dari matanya, mata yang merah. Tapi tiba-tiba wanita itu menghilang. Lampu-lampu menyala kembali.
Dan pintu yang disandarinya tiba-tiba terbuka. Sontak dia terkejut.
“Aaaaaaaa…!!!”
“Hey Mia, ada apa?”, ternyata dia adalah Rina, lantas dia goyang-goyangkan tubuh Mia yang kaku ketakutan.

Pagi yang kelabu, awan berwarna abu-abu. Sesekali terdengar suara gagak melintasi rumah. Mereka duduk di serambi dan Rina masih memeluk Mia. Tubuhnya kaku, masih terlihat semburat pucat di wajahnya. Mia tidak mengucap sepetah kata pun pada Rina semenjak dia datang. Mulutnya kaku.
Bukan hanya langit yang kelabu, bukan hanya awan yang berwarna abu-abu. Warga komplek pun dikejutkan dengan kabar yang kelabu. Pak RT meninggal dengan cara yang tragis. Sepasang bola mata dan telinganya hilang. Dan pisau dapur berada tepat di depan mayatnya sebelum polisi memeriksa.
Pagi itu bukan hanya Pak RT yang membuat warga komplek terkejut. Terpampang dalam surat kabar diberita utama bahwa.
Ditemukan mayat wanita dan laki-laki di lereng gunung Merapi. Diperkirakan mayat itu sudah mati sebulan yang lalu. Tapi anehnya kelopak mata dan telinga mayat wanita masih terlihat segar meskipun anggota tubuh yang lain sudah membusuk. Dan juga ditemukan sebuah kitab sihir di sisi perempuan itu.
Setengah misteri Mia mungkin telah terungkap. Namun tidak pula membuat rasa takutnya berkurang. Justru dia semakin takut. Dia merasa mungkin saja berikutnya dialah yang kehilangan bola mata dan telinga. Dengan apa dia akan melihat warna dunia ini jika matanya hilang. Dan dengan apa pula dia mendengar deburan ombak jika telinganya hilang. Oh biarlah. Biar Mia saja yang menanggung ketakutan.
Cerpen Karangan: Rendi Mahedra


Senin, 30 November 2015

Demi Uang

Nando menatap Sandi untuk meminta kepastian.

            “Bagaimana? Kau berminat?”

            Sandi termenung. Ia memikirkan ajakan Nando yang mungkin bisa melepaskannya dari tunggakan uang sekolah, tapi beresiko tinggi.

            “Kau hanya perlu melakukannya sekali saja untuk melunasi tunggakan uang SPPmu itu, San.”

            Sandi menatap temannya itu. Teman yang selama ini menjadi tempatnya berbagi.

            “Resikonya tinggi, Nan. Bagaimana kalau aku ketangkap. Kau tahu sendiri kan kalau akhir-akhir ini polisi sering melakukan razia. Apalagi yang kita lakukan itu ilegal.”

            Nando menarik napas berat lalu membuangnya keras-keras. “Tapi tidak ada cara lain lagi. Seandainya aku punya uang, aku pasti akan membantumu. Tapi, kau tahu sendiri bagaimana kondisi keluargaku. Ayahku hanya pegawai rendahan yang uangnya cukup makan dan membiayai sekolahku dan adikku, Nindi.”

             Sandi ikut menarik napas. Nando benar. Ia tidak punya cara lain lagi untuk mendapatkan uang yang jumlahnya lumayan besar dalam waktu yang singkat, selain cara yang diusulkan Nando.

            “Seperti yang kubilang tadi, kau hanya perlu sekali untuk ikutan, pasti tidak bakalan ada razia. Bagaimana?” tanya Nando sekali lagi.

            “Aku pikirkan dulu, Nan,” jawab Sandi.

            Nando menepuk bahu temannya itu. “Kau pikirkan saja dulu. Tapi, kalau kau setuju, kau bisa datang ke rumahku. Biar kita sama-sama pergi ke tempat itu.”

            Sandi mengangguk dengan senyuman hambar.

***

            Sandi sampai rumah dalam keadaan benar-benar lelah. Cuaca yang sedang terik membuat perjalanan dari sekolah ke rumah terasa amat panjang baginya. Kini seragamnya sudah basah oleh keringat.

            Sandi segera menuju dapur. Ia butuh minuman segar untuk mengganti ion tubuhnya yang hilang karena perjalanan pulang tadi. Ternyata di dapur sudah ada Ibu yang sedang mengaduk adonan bakwan, risoles, pastel, dan lain-lainnya untuk dijual nanti sore.

            Sandi baru saja menghabiskan satu gelas air saat Ibu menyadari kehadirannya.

            “Kau sudah pulang, San?” Sandi mengangguk sambil meletakkan gelas di atas meja.

“Kau makanlah. Tadi Ibu sudah masak sambal teri goreng dan tumis kangkung kesukaanmu. Kau pasti sudah lapar kan?” lanjut Ibunya sambil tersenyum. Tapi, Sandi bisa melihat kelelahan di wajah Ibunya.

Melihat ibunya Sandi jadi teringat kejadian di sekolah. Tadi, pada jam istirahat ia dipanggil ke ruang guru oleh wali kelasnya. Ia dipanggil karena belum melunasi kewajibannya selama tiga bulan. Wali kelasnya mengatakan Sandi harus segera melunasi uang SPPnya yang menunggak. Sekolah tidak bisa lagi memberinya keringanan. Kalau dalam minggu ini Sandi tidak membayar uang SPPnya, pihak sekolah terpaksa meliburkannya sementara waktu sampai ia melunasi uang sekolahnya itu. Inilah yang membuat Sandi pusing.

Dulu, Sandi tidak pernah merasa sepusing ini memikirkan uang sekolahnya. Bapaknya selalu membayarkannya tepat waktu di setiap bulannya. Tapi, setahun Bapak meninggal. Saat hendak pergi bekerja, Bapak ditabrak oleh anak pejabat yang mengemudikan mobil ugal-ugalan dalam kondisi mabuk. Sejak kepergian Bapak kehidupan mereka menjadi sulit. Tidak ada lagi kini yang menjadi tulang punggung bagi keluarga mereka.

Memang, Pejabat itu memberi uang duka sebagai permintaan maaf. Dan, anak pejabat itupun bebas dari tuntutan hukum. Beginilah kehidupan di negar ini sekarang, yang berkuasa dan punya uang selalu menang. Yang miskin, terpaksa menerima takdir diri.

Begitupun keluarga Sandi. Berbekal uang duka dari pejabat tersebut mereka menyambung hidup. Namun, uang yang diberikan itu tidak cukup di tengah harga barang yang serba melejit. Sekarang, untuk membiayai kehidupan keluarga Ibu terpaksa bekerja sebagai penjual gorengan. Sandi pernah mengutarakan pada Ibu untuk berhenti sekolah saja agar ia bisa membantu Ibu bekerja. Tapi, Ibu menolaknya tegas. Ibunya ingin Sandi tetap sekolah. Karena hanya itu yang nantinya akan mengubah nasib keluarga mereka.

Tapi sekarang, apakah Sandi akan bisa tetap bersekolah jika kehidupan mereka terus-terusan seperti ini? Jangankan untuk membiayai sekolahnya, untuk makan saja mereka susah. Gorengan yang dibuat Ibu akhir-akhir ini sering tidak laku.

“Kau sedang memikirkan apa, San?” tanya Ibunya membuat Sandi tersadar dari lamunannya.

“Tidak ada, Bu,” jawab Sandi memilih untuk berbohong.

“Kalau tidak ada, segeralah kau makan.”

Sandi mengangguk. Ia berjalan menuju rak untuk mengambil piring. Saat Sandi hendak menyendok nasi ke dalam piring, Ibunya berkata, “San, bulan ini sepertinya Ibu belum bisa membayar uang sekolahmu. Kalau gurumu nagih, kau minta tangguh lagi, ya. Bilang Ibu akan membayarnya bulan depan.”

Sandi tidak jadi menyendok nasinya. Ia menoleh pada Ibu, dan melihat rasa bersalah di wajah ibunya. Hal itu membuat dada Sandi sesak.

“Iya, Bu,” akhirnya hanya itu yang bisa ia katakan dengan suara serak.

Kini ia kembali menatap nasi, sambal teri goreng dan tumis kangkung di hadapannya. Mendadak selera makannya hilang.

***

“Jadi kau setuju?” tanya Nando saat sore hari Sandi datang ke rumahnya. Saat itu mereka sedang duduk di teras rumah Nando yang teduh karena dilindungi pohon mangga.

Sandi mengangguk. Ia tidak punya cara lain lagi. Jadi, kalau ia ingin tetap bersekolah, ia harus melakukan ini. Meski beresiko tinggi.

“Kalau begitu nanti kita ke sana jam 7 malam. Masalah motor, kau jangan risau. Kau pakai saja motorku ini. Cuma itu yang bisa kulakukan untuk membantumu, San.”

Sandi tersenyum. “Makasih, Nan. Kau memang teman terbaikku.”

“Kau sudah izin sama Ibumu akan pulang malam, kan?” tanya Nando.

“Sudah. Tadi aku bilang belajar kelompok di rumahmu.”

Sekarang masih jam setengah enam. Jadi, masih ada waktu satu jam lebih sebelum mereka pergi ke tempat yang telah mereka sepakati.

Tepat jam 7 mereka sudah bersiap-siap. Setelah minta izin pada orangtua Nando dengan alasan belajar di rumah Sandi mereka berangkat. Tentu saja orang tua Nando percaya karena selama ini Nando memang sering belajar di rumah Sandi, begitupun sebaliknya.

Ternyata tempat yang mereka datangi adalah terminal bus yang pada malam hari ramai oleh anak-anak muda untuk mengikuti balapan liar. Saat mereka datang, beberapa orang langsung menyambut mereka. Ternyata mereka teman-teman Nando.

“Sudah mulai balapannya?” tanya Nando pada cowok jangkung yang tadi menyambut mereka.

“Belum. Sebentar lagi sepertinya. Kau sudah kangen ingin balapan lagi, ya?” tanya cowok itu sambil mengisap rokoknya.

“Bukan aku, Don. Tapi, temanku ini.” Nando menunjuk Sandi. Cowok itu hanya mengangguk.

Beberapa menit kemudian orang-orang mulai membariskan motor mereka. Balapan akan segera dimulai. Cowok jangkung tadi ikut membariskan motornya.

“Kau siap?”

Sandi menelan ludah. Tiba-tiba ia ragu. Apakah ia yakin untuk melakukan hal beresiko seperti ini demi mendapatkan uang?

 “San,”

Sandi menatap Nando. Ia tidak mungkin mundur lagi. Akhirnya ia mengangguk. Nando menyerahkan kunci motornya pada Sandi. Sandi menerimanya lalu ikut berbaris. Hatinya berdebar-debar saat melakukan ini.

Sebelum acara balapan dimulai, seorag cowok berkepala plontos mengenakan jaket kulit hitam menerangkan tentang rute balapan. Lalu ia juga menyebutkan bahwa hadiah bagi pemenang balapan ini adalah uang sebesar 1 juta rupiah.

Setelah mengumumkan hal itu, cowok itu menepi. Ia memberi aba-aba untuk memulai acara balapan.

Satu. Dua. Tiga ….

Puluhan motor yang tadi berbaris melaju dengan kecepatan tinggi. Termasuk Sandi. Dengan kemampuannya yang pas-pasan ia melajukan motor Nando secepat mungkin. Ia harus memenangkan balapan ini. Ia harus mendapatkan hadiah uang itu untuk tetap bisa bersekolah.

Baru saja balapan memasuki lap kedua, tiba-tiba terdengar suara serine mobil polisi yang melakukan razia penertiban. Para pembalap yang tadi melaju mengikuti rute, kini berhamburan ke segala arah. Sebisa mungkin mereka menyelamatkan diri. Para penontonpun ikut berlarian ke sana-sini menyelamatkan diri dari tangkapan polisi.

Sandi juga begitu. Ia juga tidak lagi memikirkan tentang balapan dan uang hadiah. Sekarang yang ia inginkan hanya menyelamatkan diri dari kejaran polisi. Tapi kedatangan polisi yang mendadak membuat pikiran Sandi kalut. Ia tidak tahu harus lari kemana agar selamat. Ia bahkan tidak peduli dengan Nando yang entah pergi kemana.

Tapi, kemanapun mereka lari percuma. Ternyata polisi telah merencanakan kegiatan razia ini. Balapan liar yang dilakukan di terminal itu sudah jadi incaran mereka karena sering membuat warga sekitar resah. Makanya razia malam ini mereka telah mengepung titik-titik yang kemungkinan menjadi jalan bagi para pembalap melarikan diri.

            Sandi yang sudah berusaha untuk kabur ternyata tertangkap juga. Dirinya diringkus bersama tiga orang pembalap liar lainnya. Motor Nando yang ia pakai sudah diamankan polisi. Saat dirinya dibawa untuk naik ke mobil patroli ia bertemu dengan Nando. Ternyata Nando juga tertangkap. Temannya itu menatapnya ketakutan dan tubuh gemetaran. Sama seperti dirinya.

            Mobil patroli kini membawa mereka ke kantor polisi. Selama perjalanan kepala Sandi tertunduk. Ia teringat tentang masalah yang ia hadapi, teringat tentang ibunya yang sudah bekerja keras untuk kehidupan mereka selama ini, dan juga teringat dengan uang untuk membayar SPPnya jika memenangkan balapan ini.

            Tapi kini semua sia-sia. Ia tidak akan mendapatkan uang sepeserpun. Ia pasti akan diberhentikan karena telah melakukan balapan liar yang termasuk tindakan criminal karena telah mengganggu keamananan dan kenyamanan masyarakat.. Lebih buruknya lagi ia akan membuat ibunya sedih dan kecewa karena keputusannya yang memilih jalan pintas untuk mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat.

            “Biarpun kita orang susah, San, jangan sesekali berpikiran untuk mendapatkan uang secara jalan pintas dengan tindakan kriminal, seperti mencuri atau menipu orang. Jangan sesekali melakukan itu. Karena ibu pasti akan kecewa.”

            Sandi teringat kembali pesan yang sering disampaikan Ibu padanya. Air mata sandi jatuh. Ia menangis. Sandi menyesal telah menyetujui Nando untuk ikut balapan liar ini demi mendapatkan uang.

            Tapi, semua sudah terjadi. Dan, penyesalan tidak pernah mengubah keadaan.

Aku Telah Pergi

Aku hanyalah manusia kerdil yang di pandang orang sebelah mata, aku hanyalah      manusia nista yang di caci maki orang di luar sana. Aku bagai sampah yang di        

ludahi, di tindas, lalu di lenyapkan. Kala rintik hujan mulai turun kaki ku membaur darah di mana-mana, serpihan beling menancap pedih di dasaran kaki hingga terkadang tak ku lihat lagi darah segar yang bermuncratan dari kaki ku. Apa sebab? Karna darah ku telah bersatu dengan tanah yang ikut menjadi kawan pilu di setiap langkah ku. Aku ini hanya lah seorang pemulung kecil yang terpaksa terjun ke hamparan tanah dengan kaki telanjang dan baju setia yang selalu melekat di tubuhku.  Tak ada ibu apa lagi bapak. Aku bagai butiran telur yang di biarkan menetas sendiri, tak ada kehangatan yang menyelimuti, hanya setitik cahaya yang mampu menerangi jalan hingga aku seperti ini.

       Tapi aku masih bisa tersenyum manis di atas kepahitan yang mendera hidupku. Sebab aku tak sendiri, Tuhan memberi ku teman untuk menyusuri petualangan hidup yang sesempit ini. Nina mampu membuatku tersenyum meski sengaja luka ku harus terselubung. Ya, dia adik ku yang ikut merangrang duka bersamaku. Usia nya masih enam tahun dan aku empat tahun lebih tua dari nya, kami sepasang kakak adik yang terlantar dari orang tua, ibu ku telah pergi sejak iya memperkenalkan Nina ke dunia. Sedang bapak ku. Ah aku tak peduli? Karna iya pun tak peduli dengan aku dan Nina. Setelah empat tahun ibu pergi meninggalkan kami, bapak telah menemukan penggantinya. Secepat itu memang bapak melenyapkan ibu dari memory otak nya. Mungkin dia layak di sebut sebagai orang yang tak memiliki otak. Sebab kala adik ku memasuki umur empat tahun dengan seenak hasrat nya iya meninggalkan kami. Dan bayangkan, kala itu usia ku masih delapan tahun, di mana usia seperti itulah aku membutuhkan kehadiran sosok ayah. Aku memang tak menuntut kehadiran ibu kala itu, karna aku menyadari bahwa ibu tak akan mungkin kembali bersama kami.


    Aku melihat ibu pergi saat detik-detik kelahiran adikku, dan itu nyaris membuat hidup ku pupus. Meskipun usiaku sangat belia tapi aku merasakan kedukaan itu. Dan saat orang-orang mengangkat jasad ibu hingga memasukan nya ke tanah liat yang terkesan berbentuk balok itu, aku hanya bisa melihat nya dari atas dengan sesekali aku menitihkan air mata. Kecil-kecil saja aku telah di perlihatkan dengan kematian. Sungguh ironi memang! Kendati begitu aku tak pernah mengeluh pada kehidupan, aku jalani sekuat ragaku, sepanjang hembusan nafas ku. Hingga akhirnya aku membesarkan nina dengan kedua tangan ku sendiri, meski aku terlahir sebagai seorang lelaki tapi aku mengerti bagaimana cara mengurus adikku. Dengan pekerjaan ku yang hanya seorang pemulung, ku rasa aku mampu memberi sebungkus nasi untuk Nina. Meski terkadang aku rela tak makan karna nya. Aku menyanyangi Nina melebihi segala nya. Dia adik satu-satu nya yang aku punya hingga kini. Dan kami hidup di sebuah gubuk kecil di pinggiran jalan. Hanya gubuk itu satu-satu nya tempat yang dapat kami tumpangi, meski terkesan tak layak untuk di tinggali, tapi aku rasa itu sangat layak untuk aku dan Nina hidup untuk masa ke depan nya.




     Kala awan gelap turun lebih cepat dan langit jingga tak tampak lagi menyinari, hingga matahari kembali beradu di ufuk barat. Aku masih berjalan diiringi kegelapan, aku melangkah menyusuri sampah demi sampah yang menggunung. Mencari sesuap nasi yang akan ku bekali untuk adikku, Nina. Meski kini aku tak bersama Nina. Iya sengaja ku tinggalkan sendiri di rumah tanpa iya harus mencariku, karna dari sejak iya berumur empat tahun itu aku telah mengajarinya kemandirian tanpa bergatung pada orang lain.  Mungkin kini iya hanya sedang berbaring menunggu kedatangan ku. Aku tau kalau tindakan aku ini tak sepantasnya ku lakukan pada nya. Tapi apa lah daya, aku ini tak memiliki apa-apa, tak mengerti apa-apa, kecuali hanya mencari tumpukan sampah.   Aku pun berjanji pada nya akan pulang jika aku telah membelikan makanan untuk nya. Oleh karna itu, aku masih menyusuri jalan dengan kedua kaki ku yang telanjang tanpa alas. Dan aku Singgah dari tempat satu ke tempat lain, mengharap mendapatkan tumpukan sampah yang bernilai guna.

       Tak lama aku menyusuri jalan yang tajam ini, keranjang sampah ku terasa berat. Ku rasa ini sudah cukup untuk membelikan sebungkus nasi untuk Nina. Dengan hati sedikit lega, ku langkahkan kaki  untuk menukarkan sampah itu agar menjadi lembaran uang. Ya, aku melihat di seberang jalan ada pasar yang menerima sampah-sampah bekas seperti ini. Segera ku susuri jalan dengan hati yang senang. Namun aku merasakan gelagat lain, jantung ku tiba-tiba berdenyut kencang, kaki ku mendadak kaku, dan tubuhku terasa sangat dingin. Aku pun tak meneruskan langkah, aku berhenti sejenak di pinggiran jalan. Tapi mata ku tak tahan untuk segera menyebrangi jalan itu, aku terbayang sosok adikku yang menunggu kelaparan, hingga akhir nya  ku turuti kehendak mataku itu. Aku mulai menggerakan kaki ke ruas jalan. Dan apa yang ku dapat! Tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna biru metalik melaju dengan kencang nya hingga mampu membuat mataku menjadi suram. Aku seperti berada di depan cahaya yang teramat terang. Kaki ku kini menjadi mengeras bagai es di kutub utara, aku tak bisa bergerak, mata ku samar menatap, tubuhku mendadak lemas, dan aku terhempas. Semua orang berbondong-bondong menghampiri jasad ku. Aku melihat banyak mata memandang duka ke arah ku. Aku tak mengerti? Aku seperti telah terbang, kaki ku yang tadi nya bersentuh tanah kini tak ku rasa lagi. Badan ku terasa ringan. Aku pun mengawang, terbang ke atas langit. Pertanda apakah ini? Dimanakah aku sekarang? Dan sekelebat cahaya putih menghampiri ku. Wajah nya terlalu bersih berseri, iya mengenakan baju putih suci. Dia berkata padaku :

Sekarang sudah waktunya kamu ikut bersamaku?

Ikut bersamamu?

Iya.

Memang kita mau kemana?

Kita akan menuju hidup yang abadi?

Tidak! aku tak ingin ikut dengan mu, masih ada seorang adik yang sangat membutuhkanku, aku tak akan mungkin ikut dengan mu.

Tapi ini sudah saat nya, kamu bukan lagi manusia seutuh nya. Kamu adalah roh yang keluar dari jasad mu itu? Kata nya sembari menunjuk ragaku yang terbaring bersimbah darah di tengah jalanan.

Apa? Jadi aku telah mati?

Ya.

Tapi, berilah aku waktu untuk kembali menemui adik ku. Dia pasti sedang menungguku.

Baiklah, tapi waktumu hanya sebentar.


      Aku pun segera berlari meski kaki ku tak menyentuh tanah, bisa di bilang aku seperti terbang. Sesampai aku di gubuk tua itu. Aku melihat sepasang bola mata yang sangat redup terpancar dari raut adikku. Aku coba mendekati nya hingga hasrta ku ingin sekali mendekap nya. Namun sia, tangan ku menembus badannya. Aku sedih, hingga aku menangis di hadapan nya. “Maafkan, aku dik! Aku tak bisa lagi menemanimu seperti dulu, Aku tak bisa lagi membelikanmu sebengkus nasi, kini dunia kita telah berbeda . Tapi aku janji akan selalu menjaga mu dari atas sana.” Aku berucap sembari minitihkan air mata. Aku merasa kehilangan sosok nya. Dan ku lihat adik ku seperti kelaparan iya meremas perut nya dan berbaring sampai akhir nya aku melihat jasad nya untuk yang terakhir kali. Dan aku kini telah pergi jauh mengangkasa.

Aku Telah Pergi

Aku hanyalah manusia kerdil yang di pandang orang sebelah mata, aku hanyalah      manusia nista yang di caci maki orang di luar sana. Aku bagai sampah yang diludahi, di tindas, lalu di lenyapkan. Kala rintik hujan mulai turun kaki ku membaur darah di mana-mana, serpihan beling menancap pedih di dasaran kaki hingga terkadang tak ku lihat lagi darah segar yang bermuncratan dari kaki ku. Apa sebab? Karna darah ku telah bersatu dengan tanah yang ikut menjadi kawan pilu di setiap langkah ku. Aku ini hanya lah seorang pemulung kecil yang terpaksa terjun ke hamparan tanah dengan kaki telanjang dan baju setia yang selalu melekat di tubuhku.  Tak ada ibu apa lagi bapak. Aku bagai butiran telur yang di biarkan menetas sendiri, tak ada kehangatan yang menyelimuti, hanya setitik cahaya yang mampu menerangi jalan hingga aku seperti ini.


       Tapi aku masih bisa tersenyum manis di atas kepahitan yang mendera hidupku. Sebab aku tak sendiri, Tuhan memberi ku teman untuk menyusuri petualangan hidup yang sesempit ini. Nina mampu membuatku tersenyum meski sengaja luka ku harus terselubung. Ya, dia adik ku yang ikut merangrang duka bersamaku. Usia nya masih enam tahun dan aku empat tahun lebih tua dari nya, kami sepasang kakak adik yang terlantar dari orang tua, ibu ku telah pergi sejak iya memperkenalkan Nina ke dunia. Sedang bapak ku. Ah aku tak peduli? Karna iya pun tak peduli dengan aku dan Nina. Setelah empat tahun ibu pergi meninggalkan kami, bapak telah menemukan penggantinya. Secepat itu memang bapak melenyapkan ibu dari memory otak nya. Mungkin dia layak di sebut sebagai orang yang tak memiliki otak. Sebab kala adik ku memasuki umur empat tahun dengan seenak hasrat nya iya meninggalkan kami. Dan bayangkan, kala itu usia ku masih delapan tahun, di mana usia seperti itulah aku membutuhkan kehadiran sosok ayah. Aku memang tak menuntut kehadiran ibu kala itu, karna aku menyadari bahwa ibu tak akan mungkin kembali bersama kami.


    Aku melihat ibu pergi saat detik-detik kelahiran adikku, dan itu nyaris membuat hidup ku pupus. Meskipun usiaku sangat belia tapi aku merasakan kedukaan itu. Dan saat orang-orang mengangkat jasad ibu hingga memasukan nya ke tanah liat yang terkesan berbentuk balok itu, aku hanya bisa melihat nya dari atas dengan sesekali aku menitihkan air mata. Kecil-kecil saja aku telah di perlihatkan dengan kematian. Sungguh ironi memang! Kendati begitu aku tak pernah mengeluh pada kehidupan, aku jalani sekuat ragaku, sepanjang hembusan nafas ku. Hingga akhirnya aku membesarkan nina dengan kedua tangan ku sendiri, meski aku terlahir sebagai seorang lelaki tapi aku mengerti bagaimana cara mengurus adikku. Dengan pekerjaan ku yang hanya seorang pemulung, ku rasa aku mampu memberi sebungkus nasi untuk Nina. Meski terkadang aku rela tak makan karna nya. Aku menyanyangi Nina melebihi segala nya. Dia adik satu-satu nya yang aku punya hingga kini. Dan kami hidup di sebuah gubuk kecil di pinggiran jalan. Hanya gubuk itu satu-satu nya tempat yang dapat kami tumpangi, meski terkesan tak layak untuk di tinggali, tapi aku rasa itu sangat layak untuk aku dan Nina hidup untuk masa ke depan nya.




     Kala awan gelap turun lebih cepat dan langit jingga tak tampak lagi menyinari, hingga matahari kembali beradu di ufuk barat. Aku masih berjalan diiringi kegelapan, aku melangkah menyusuri sampah demi sampah yang menggunung. Mencari sesuap nasi yang akan ku bekali untuk adikku, Nina. Meski kini aku tak bersama Nina. Iya sengaja ku tinggalkan sendiri di rumah tanpa iya harus mencariku, karna dari sejak iya berumur empat tahun itu aku telah mengajarinya kemandirian tanpa bergatung pada orang lain.  Mungkin kini iya hanya sedang berbaring menunggu kedatangan ku. Aku tau kalau tindakan aku ini tak sepantasnya ku lakukan pada nya. Tapi apa lah daya, aku ini tak memiliki apa-apa, tak mengerti apa-apa, kecuali hanya mencari tumpukan sampah.   Aku pun berjanji pada nya akan pulang jika aku telah membelikan makanan untuk nya. Oleh karna itu, aku masih menyusuri jalan dengan kedua kaki ku yang telanjang tanpa alas. Dan aku Singgah dari tempat satu ke tempat lain, mengharap mendapatkan tumpukan sampah yang bernilai guna.

       Tak lama aku menyusuri jalan yang tajam ini, keranjang sampah ku terasa berat. Ku rasa ini sudah cukup untuk membelikan sebungkus nasi untuk Nina. Dengan hati sedikit lega, ku langkahkan kaki  untuk menukarkan sampah itu agar menjadi lembaran uang. Ya, aku melihat di seberang jalan ada pasar yang menerima sampah-sampah bekas seperti ini. Segera ku susuri jalan dengan hati yang senang. Namun aku merasakan gelagat lain, jantung ku tiba-tiba berdenyut kencang, kaki ku mendadak kaku, dan tubuhku terasa sangat dingin. Aku pun tak meneruskan langkah, aku berhenti sejenak di pinggiran jalan. Tapi mata ku tak tahan untuk segera menyebrangi jalan itu, aku terbayang sosok adikku yang menunggu kelaparan, hingga akhir nya  ku turuti kehendak mataku itu. Aku mulai menggerakan kaki ke ruas jalan. Dan apa yang ku dapat! Tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna biru metalik melaju dengan kencang nya hingga mampu membuat mataku menjadi suram. Aku seperti berada di depan cahaya yang teramat terang. Kaki ku kini menjadi mengeras bagai es di kutub utara, aku tak bisa bergerak, mata ku samar menatap, tubuhku mendadak lemas, dan aku terhempas. Semua orang berbondong-bondong menghampiri jasad ku. Aku melihat banyak mata memandang duka ke arah ku. Aku tak mengerti? Aku seperti telah terbang, kaki ku yang tadi nya bersentuh tanah kini tak ku rasa lagi. Badan ku terasa ringan. Aku pun mengawang, terbang ke atas langit. Pertanda apakah ini? Dimanakah aku sekarang? Dan sekelebat cahaya putih menghampiri ku. Wajah nya terlalu bersih berseri, iya mengenakan baju putih suci. Dia berkata padaku :

Sekarang sudah waktunya kamu ikut bersamaku?

Ikut bersamamu?

Iya.

Memang kita mau kemana?

Kita akan menuju hidup yang abadi?

Tidak! aku tak ingin ikut dengan mu, masih ada seorang adik yang sangat membutuhkanku, aku tak akan mungkin ikut dengan mu.

Tapi ini sudah saat nya, kamu bukan lagi manusia seutuh nya. Kamu adalah roh yang keluar dari jasad mu itu? Kata nya sembari menunjuk ragaku yang terbaring bersimbah darah di tengah jalanan.

Apa? Jadi aku telah mati?

Ya.

Tapi, berilah aku waktu untuk kembali menemui adik ku. Dia pasti sedang menungguku.

Baiklah, tapi waktumu hanya sebentar.


      Aku pun segera berlari meski kaki ku tak menyentuh tanah, bisa di bilang aku seperti terbang. Sesampai aku di gubuk tua itu. Aku melihat sepasang bola mata yang sangat redup terpancar dari raut adikku. Aku coba mendekati nya hingga hasrta ku ingin sekali mendekap nya. Namun sia, tangan ku menembus badannya. Aku sedih, hingga aku menangis di hadapan nya. “Maafkan, aku dik! Aku tak bisa lagi menemanimu seperti dulu, Aku tak bisa lagi membelikanmu sebengkus nasi, kini dunia kita telah berbeda . Tapi aku janji akan selalu menjaga mu dari atas sana.” Aku berucap sembari minitihkan air mata. Aku merasa kehilangan sosok nya. Dan ku lihat adik ku seperti kelaparan iya meremas perut nya dan berbaring sampai akhir nya aku melihat jasad nya untuk yang terakhir kali. Dan aku kini telah pergi jauh mengangkasa.

Kamis, 22 Oktober 2015

Persahabatan Putri Mary dan Putri Lisa

Di negara binatang kota kucing, hiduplah seorang kucing kecil nan manis yang bernama Mary Catty. Ia adalah putri kerajaan kucing yang pasti terletak di kota kucing. Putri Mary adalah campuran kucing anggora dan persia. Raja kucing persia dan Ratu kucing Angggora. Semua kucing di kota kucing sudah terbiasa memanggil Mary Putri Perra -Persia Anggora. Ratu-Ratu Anggora dan Raja-Raja Persia.
Pada suatu hari, Mary diajak Raja dan Ratu berkeliling kota kucing. Mary menerima dengan hati yang sangat gembira. Ia sudah lama tidak berkeliling kota kucing. Ia bisa melihat keramaian kota Kucing dan bisa melihat kucing-kucing bermain. Dan, ia bisa ke Panti Asuhan dan rumah Dhuafa yang terbesar dan satu-satunya yang berdiri kokoh di Kota Kucing. Setelah berkeliling Kota Kucing, bukannya pulang ke kerajaan, mobil melaju ke sebuah jalan.
Beberapa menit kemudian ada tulisan di tugu ‘Selamat datang di desa kucing negara binatang’. Mary ternganga. Ia baru tahu kalau ada desa kucing.
“Ibunda Ratu, kenapa kita ke desa kucing? Dan aku baru tahu ada desa binatang. Aku hanya tahu kota binatang” tanya Putri Mary.
“Mary anakku, maaf Ibunda tidak memberitahu terlebih dahulu. Di setiap kota binatang, ada desa juga. Seperti desa beruang, desa harimau, desa penguin, desa kura-kura, dan lain sebagainya. Di desa juga sama seperti kota. Ada kerajaanya. Nanti kamu akan berkenalan dengan Putri Lisa, Putri kerajaan desa kucing. Ibunda dan Ayahanda ada urusan di kerajaan itu” kata Ratu Anggora.
Ekor Putri Mary bergoyang-goyang lucu sekali. Putri Mary turun di sebuah kerajaan yang terbuat dari tanah pilihan dan semen. Para wartawan sudah menunggu. Raja Persia dan Ratu Anggora disambut. Putri Lisa tersenyum malu. Putri Mary melambaikan tangan. Lalu mendekatinya.
“Namamu Lisa, ya? Aku tahu dari Ibunda Ratuku” kata Putri Mary sambil menjabat erat Putri Lisa.
“Benar, namaku Lisa. Namamu Mary bukan?” tanya Putri Lisa. Putri Mary mengangguk.
Akhirnya, Putri Lisa dan Putri Mary bersahabat. Dan mereka mendirikan sebuah kerajaan yang sangat megah. Putri Lisa dan Putri Mary bersahabat sampai akhir hidupnya.
Cerpen Karangan: Gabriella Aurenaya Jasmine

Ah!


Esok, aku genap berumur 17. Atau harus aku sebut ganjil? Aku yang tak bisa tidur bak setusuk sate yang dibolak-balik di atas panggangan. Gelisah. Perayaan ulang tahun yang marak diperingati anak-anak remaja, mengundang teman, yang terkasihi, berpesta pora sampai larut, mengenakan pakaian kurang bahan, Hedonisme. Kebodohan macam apa itu? Bersenang-senang untuk menikmati jatah umurmu yang berkurang setahun? Sudahlah, kutuk aku si tukang kritik, layaknya seorang Denmas pada sebuah monolog karya Agus Noor.
Aku hanya seorang siswi kelas dua sekolah menengah atas, lalu akan naik kelas tiga, lalu dapat KTP, lalu ikut pemilu, pesta demokrasi. Lalu bagaimana jika pesta demokrasi itu pada hakikatnya cuma sekedar propaganda politik berkerah putih? aku pernah sewaktu-waktu melihat iklan kampanye dan mengutip bahwa: “menang kalah bukan soal, kemenangan adalah milik seluruh rakyat Indonesia.”
Sungguh, itu mengacaukan hati seorang remaja berhati lemah, atau siapapun berhati lemah untuk sekedar memilihnya. Tahu apa aku soal politik?
Jika berbicara soal politik dan demokrasi, tak akan ada penyelesaiannya, tak akan ada habisnya. Semakin dibicarakan, semakin keruh. Seperti seekor anjing yang sedang mengejar ekornya, berputar-putar, terus, sampai akhirnya jatuh. Terguling. Terguling ya? Teringat pada penggulingan presiden Mesir, Mursi oleh rezim militer. Menyulut ketegangan GCC layaknya sebuah korek yang menyulut sumbu bom yang sangat panjang, dalam perjalanannya menuju bom, percik api itu melewati bahkan menyulut sumbu-sumbu bom lainnya. Bayangkan sebuah mekanisme, sistem. Ya! bom-bom tersebut Pasti akan menghasilkan ledakkan masif, super masif. Bukankah sudah jelas? ‘Mereka’ bahkan menarik duta-duta besar dari Qatar yang ter-hegemoni oleh Barat.
Masih terngiang-ngiang perkataan guru PKn yang cukup aku segani itu, “jika ada negara yang menarik duta besarnya, berarti kedua negara tersebut sedang tegang, atau bahkan akan perang.” katanya dengan tangan mengacung-ngacung ke udara. Entah kenapa, aku suka gayanya berbicara, ia menyelipkan entah apa ke dalam setiap kata-katanya. Yang tak akan buat kau berhenti mendengarnya.
Sungguh, sejak kapan dunia jadi begitu rumit? Bukankah perkembangan zaman menuntut segalanya lebih praktis? Aku bukan seorang antropolog, mana tahu? Tak ayal cuma seorang remaja naif, yang ingin tahu segalanya, ingin coba semuanya. Tahu apa aku soal dunia orang dewasa? Nihil.
Aku pernah bertanya pada temanku yang bukan seorang muslim.
“Bram, memang apa bedanya katolik dengan protestan?” Aku bahkan menyumpahi diriku saat itu.
Pembicaraan ini sedikit sensitif. Aku kira ia akan marah dan memberiku bogem seketika. Aku tidak menutup mata, karena kalau memang perkiraanku benar, akan terasa lebih sakit jika aku tak tahu kapan bogem tersebut mendarat. Bila aku tetap membuka mata, setidaknya aku hendak bersiaga dan bersiap-siap menerima rasa sakit itu.
Tapi ia memberikanku jawaban yang mengejutkan.
“Aku juga gak terlalu tahu tuh ya, bingung, kayak kau kalau ditanyai apa bedanya Islam dan Islam Muhammadiyah.”
Aku tercenung. Terhenyak.
Loh? Berhak apa seorang manusia berprasangka kalau-kalau manusia lain kafir? Kalau-kalau manusia lain sesat? Bukankah hubungan kerohanian itu terjalin antar seorang manusia dengan Tuhannya?
Ah tahu apa aku soal agama, aku hanya seorang remaja setengah matang yang salatnya masih kalang kabut, yang doa dan ngajinya masih bolong-bolong. Mana pantas bicara soal agama? ‘Tuhan memang satu, kita yang tak sama’ lagu Peri Cintaku-nya Marcell yang kerap disenandungkan oleh temanku, Lala (aku tak tahu pasti sebenarnya ia bersenandung, berteriak atau bernanyi). Sebuah pelarian dari kenyataan akan orang yang dikasihinya. Pertentangan agama, moral, budaya yang mungkin akan menghadang jika mereka memutuskan untuk melangkah lebih jauh.
Cinta ya? Selama 17 tahun kurang satu hari umurku ini, belum pernah aku merasakan cinta anak muda yang menggebu-gebu, kau pikir remaja tak menyenangkan dan berpikiran kolot ini mudah bergaul? Mana ada. Aku hanya bisa mendominasi percakapan, membunuh punch-line sama dengan mematikan api klimaks dari sebuah percakapan lucu. Aku tak bisa membuat orang tertawa. Aku hanya akan membuat mereka takut akan presepsiku, pandanganku, omonganku. Aku bahkan tak mencoba untuk menakuti mereka, mungkin aku akan lulus dari Monster University secara cumlaude.
Lalu bagaimana pendamping hidupku nanti? Ah sudahlah. Remaja macam apa aku ini yang menjadikan ini semua pemikiran sebelum tidur? Apa kalian juga merasakan pikiran kalian yang melayang liar saat kalian hendak tidur? Tak apalah, bukankah negara merdeka memerdekakan pikiran-pikiran rakyatnya juga? Sejak kecil, aku bahkan tak pernah memimpikan unicorn. Ah aku cuma sekedar stress menantikan hari esok, menjadikannya seperti kafein yang ikut mengalir dalam darah, membuat jantung lelah, bahkan bolak balik kamar mandi.
Esok hari, aku beranjak dewasa. Aku sungguh tak siap. Aku adalah contoh berhasilnya seorang Ayah mendoktrin putrinya, keluargaku dokter 2 turunan, bagaimana mungkin aku seorang putri sulung tak memikul beban yang sangat besar untuk melanjutkannya? Analogikanlah diriku ini sebagai seorang Atlas. Niscaya kau akan mengerti rasanya jika semuanya tak berhasil ku capai saat aku dewasa nanti.
Jika kalian mendapatkan apa yang kalian mau detik itu juga, apa gunanya kau cape-cape hidup? Setidaknya pemikiran itu membuatku merasa hidup. Ah sudahlah, aku hanya berharap umur yang panjang untuk membuat pemikiran itu berwujud, untuk dapat mengalami itu semua, merealisasikan pikiran-pikiran merdeka yang resah. Apa gunanya anekdot barusan jika umur panjang pun aku tak punya? Aku tak tahu persis kapan aku benar-benar terlelap.
Tamat
Cerpen Karangan: Tania Safira Rosalinda

jadwal-sholat