Seminar Psikologi Transpersonal

Seminar Psikologi Transpersonal.

Asesmen Pegawai

Asesmen Pegawai.

Proses Rekrutmen Karyawan

Proses Rekrutmen Karyawan.

Pelatihan Pembelajaran Bahasa Inggris Menggunakan Flash Card

Pelatihan Pembelajaran Bahasa Inggris Menggunakan Flash Card.

Pelatihan Psikologi Transpersonal Dalam Menjawab Realita Kehidupan

Pelatihan Psikologi Transpersonal Dalam Menjawab Realita Kehidupan.

Tampilkan postingan dengan label Psikoterapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikoterapi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 April 2016

Unsur Psikologis dalam Karya Sastra

Bimo Walgito (dalam Fananie, 2000: 177) mengemukakan psikologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang objek studinya adalah manusia, karena perkataan psyche atau psicho mengandung pengertian “jiwa”. Dengan demikian, psikologi mengandung makna “ilmu pengetahuan tentang jiwa”.
Psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah yang berkaitan dengan unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam sastra. Aspek-aspek kemanusiaan inilah yang merupakan objek utama psikologi sastra sebab semata-mata dalam diri manusia itulah aspek kejiwaan dicangkokkan dan diinvestasikan. Penelitian psikologi sastra dilakukan melalui dua cara. Pertama, melalui pemahaman teori-teori psikologi kemudian diadakan analisis terhadap suatu karya sastra. Kedua, dengan terlebih dahulu menentukan sebuah karya sastra sebagai objek penelitian, kemudian ditentukan teori-teori psikologi yang dianggap relefan untuk melakukan analisis (Ratna, 2004: 344).
Siswantoro (2004: 31-32) menyatakan bahwa secara kategori, sastra berbeda dengan psikologi, sebab sastra berhubungan dengan dunia fiksi, drama, puisi, dan esay yang diklasifikasikan ke dalam seni (art), sedangkan psikologi merujuk kepada studi ilmiah tentang perilaku manusia dan proses mental. Meski berbeda, keduanya memiliki titik temu atau kesamaan, yakni keduanya berangkat dari manusia dan kehidupan sebagai sumber kajian. Bicara tentang manusia, psikologi jelas terlibat erat, karena psikologi mempelajari perilaku. Perilaku manusia tidak lepas dari aspek kehidupan yang membungkusnya dan mewarnai perilakunya. Psikologi sastra mempelajari fenomena, kejiwaan tertentu yang dialami oleh tokoh utama dalam karya sastra ketika merespon atau bereaksi terhadap diri dan lingkunganya. Dengan demikian, gejala kejiwaaan dapat terungkap lewat perilaku tokoh dalam sebuah karya sastra.
Istilah psikologi sastra mempunyai empat kemungkinan pengertian. Yaitu studi proses kreatif, psikologi pengarang baik sebagai suatu tipe maupun individual, studi tipe-tipe dan hukum-hukum psikologi dalam karya sastra, dan studi yang mempelajari dampak karya sastra terhadap pembaca atau psikologi pembaca. Dalam penelitian ini peneliti menggabungkan keempat kemungkinan pengertian dalam melakukan penelitian. terhadap pembaca atau psikologi pembaca.
Karya sastra merupakan karya seorang pengarang yang merupakan hasil perenungan dan imajinasi secara sadar dari hal-hal yang diketauhi, dihindari, dirasa, ditanggapi, dan difantasikan, disampaikan kepada khalayak melalui media bahassa dengan segala perangkatnya, sehingga menjadi sebuah karya yang indah. Itulah sebabnjya masalh-masalh yang te5rdapat di dalam karya sastra mempunyai kemiripan dengan keadaan diluar karya sastra. Sesuai pendapat yang menyatakan bahwa karya sastra merupakan cermin dari dunia nyata. Baik cermin dari dunia nyata yang sesungguhnya, maupun cermin dari dunia nyata yang sudah bercampur dengan imajinasi dan perunangan pengarang (Siswanto, 1993: 19).
Pendekatan adalah salah sau prinsip dasar yang digunakan sebagai alat untuk mengapresiasi karya sastra, salah satunya ialah ditentukan oleh tujuan dan pa yang hendak ditentukan lewat teks sastra, pembaca dapat menggunakan beberapa pendekatan, salah satunya adalah pendekatan psikologis. Semi (1993:76) menyatakan pendekatan psikologi sastra adalah pendekatan yang bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu membahas tentang kehidupan manusia yang senantiasa memperlihatkan perilaku yang beragam. Apresiasai sastra menggunakan pendekatan psikologi sastra pada mulanya diperkenalkan di Barat oleh L.A Richard, dan di Indonesia pertama kali dilakukan oleh M.S Hutahulung, Boen S. Oemarjati, dan Made Mukada.
Budi Utama (2004:138)_ mengemukakah tiga alasan psikologi sastra masuk dalam kajian sastra adalah sebagai berikut (1) mengetahui perilaku dan motivasi para tokoh dalam karya sastra. Langsung atau tidak langsung, perilaku dan motivasi para tokoh nampak juga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian dalam kehidupan sehari-hari mungkin kita juga bertemu dengan orang-orang yang perilaku dan motivasinya mirip dengan perilaku dan motivasi para t tokoh dalam karya sastra, (2) mengetahui perilaku dan motivasi pengarang, dan (3) mengetahui reaksi psikologi pembaca.
Karya sastra merupakan hasil ungkapan jiwa seorang pengaran yang di dalamnya melukiskan suasana kejiwaan pengarang,baik suasana pikit maupun emosi. Roekan (dalam aminudin 1990:91). Psikologi sastra memandang bahwa karya sastra merupakan hasil kreativitas pengarang yang menggunakan media bahasa dan diababdikan untuk kepentingan estetik.
Melalui bagan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan manusia lain dan pengarang banyak melakukan pengamatan dengan manusia-manusia lain di sekitarnya, seperti yang dikemukakan oleh Freud, manusia sebagai sistem yang kompleks memiliki energi untuk berbagai tujuan seperti bernafas, bergerak, mengamati, dan mengingat. Mereka mempunyai kepekaan tinggi sehingga mereka mampu menangkap suassana batin manusia lain yang paling dalam.
Hubungan antara karya sastra dan psikologi juga dikemukakan oleh suwardi (2004:96) yang mengemukakah bahwa karya sastra dipandang sebagai gejala psikologis, akan menampilkan aspek-aspek kejiwaan melalui tokoh-tokoh jika kebetulan teks berupa prosa atau drama sedangkan jika dalam bentuk puisi akan disampaikan melalui larik-larik dan pilihan kata khas.
Sastra sebagai “gejala kejiwaan” yang didalamnya terkandung fenomena yang tampak melalui perilaku tokoh-tokohnya. Sedangkan psikologi (Pasaribu dan Simanjuntak, 1984:3-4), adalah ilmu jiwa atau studi tentang jiwa. Dengan demikian, teks sastra (karya sastra) dapat didekati dengan menggunakan pendekatan psikologi. Hal ini dikarenakan sastra dan psikologi memiliki hubungan lintas yang bersifat tak langsung dan fungsional (Darmanto yatman dan Roekhan dalam Aminudin, 1990:93).
Hubungan tak langsung yang dimaksudkan adalah baik sastra maupun psikologi sastra kebetulan memiliki tempat berangkat yang sama, yaitu kejiwaan manusia. Pengarang dan psikolog adalah sama-sama manusia biasa. Mereka menangkap kejiwaan manusia secatra mendalam, kemudian diungkapkan dalam bentuk karya sastr. Sedangkan hubungan fungsional antara sastra dan psikologi adalah keduanya sama-sama berguna sebagai sarana untuk mempelajari keadaan kejiwaan orang lain. Perbedaannya adalah adalah dalam karya sastra gejala-gejala kejiwaan dari manusia-masia imajiner sebagai tokoh dalam karya sastra, sedangkan dalam psikologi adalah gejala kejiwaan manusia-manusia riil (Suwardi,2004:97).
Fiksi psikologi sastra adalah salah satu aliran sastra yang berusaha mengeksplorasi pikiran sang tokoh utama, terutama pada bagian yang terdalam yaitu alam bawah sadar. Fiksi psikologis sering mengunakan teknik bernama “arus kesadaran”. Istilah ini ditemukan oleh William James pada tahun 1890 dan digunakan untuk mengambarkan kepingan-kepingan inspirasi, gagasan, kenangan dan sensasi yang membentuk kesadaran manusia ( Stanton, 2007: 134).
Ada beberapa kategori yang dipakai sebagai landasan pendekatan psikoanalisis, sebagaimana dikemukakan oleh Norman H. Holland (dalam Fananie., 2000: 181) adalah sebagai berikut: (1) Histeri, manic, dan schizophrenic, (2) Freud dan pengikutnya menambah dengan tipe perilaku birahi seperti anal, phallic, oral, genital, dan urethral., (3) ego-psikologi, yaitu cara yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan internal dan eksternal yang bisa sama dan juga berbeda untuk tiap-tiap individu., (4) Defence, exspectation, fantasy, transformation (DEFT). Maksud dari karegori tersebut dalam konteks sastra adalah apakah karakter pelaku dan permasalahan-pernasalahan yang mendasari tema cerita melibatkan pula unsur-unsur di atas.

Kamis, 22 Oktober 2015

Art Therapy

Definition

Definition: Art therapy is a form of expressive therapy that uses the creative process of making art to improve a person’s physical, mental, and emotional well-being. Skip to: What Does an Art Therapist Do?
The creative process involved in expressing one’s self artistically can help people to resolve issues as well as develop and manage their behaviors and feelings, reduce stress, and improve self-esteem and awareness.
You don’t need to be talented or an artist to receive the benefits, and there are professionals that can work with you to dive into the underlying messages communicated through your art, which will aid in the healing process.
Art therapy can achieve different things for different people. It can be used for counseling by therapists, healing, treatment, rehabilitation, psychotherapy, and in the broad sense of the term, it can be used to massage one’s inner-self in a way that may provide the individual with a deeper understanding of him or herself.

Additional Definitions of Art Therapy

Art therapy, sometimes called creative arts therapy or expressive arts therapy, encourages people to express and understand emotions through artistic expression and through the creative process. From The Free Dictionary
Art therapy is a form of expressive therapy that uses art materials, such as paints, chalk and markers. Art therapy combines traditional psychotherapeutic theories and techniques with an understanding of the psychological aspects of the creative process, especially the affective properties of the different art materials. From Wikipedia
Art therapy involves the creation of art in order to increase awareness of self and others. This in turn may promote personal development, increase coping skills, and enhance cognitive function. It is based on personality theories, human development, psychology, family systems, and art education. Art therapists are trained in both art and psychological therapy. From The New Medicine
And from the AATA, the definition of the profession:
Art therapy is the therapeutic use of art making, within a professional relationship, by people who experience illness, trauma or challenges in living, and by people who seek personal development. Through creating art and reflecting on the art products and processes, people can increase awareness of self and others, cope with symptoms, stress and traumatic experiences; enhance cognitive abilities; and enjoy the life-affirming pleasures of making art.
Art therapists are professionals trained in both art and therapy. They are knowledgeable about human development, psychological theories, clinical practice, spiritual, multicultural and artistic traditions, and the healing potential of art. They use art in treatment, assessment and research, and provide consultations to allied professionals. Art therapists work with people of all ages: individuals, couples, families, groups and communities. They provide services, individually and as part of clinical teams, in settings that include mental health, rehabilitation, medical and forensic institutions; community outreach programs; wellness centers; schools; nursing homes; corporate structures; open studios and independent practices.

Who Can Use Art Therapy?

For the most part, anyone can use art therapy. In a world where there is a multitude of ways to communicate and express one’s self, expressive arts therapy is yet another. One of the major differences between art therapy and other forms of communication is that most other forms of communication elicit the use of words or language as a means of communication. Often times, humans are incapable of expressing themselves within this limited range.
One of the beauties of art as therapy is the ability for a person to express his/her feelings through any form of art. Though there are other types of expressive therapies (such as the performing arts), expressive art therapy as discussed here typically utilizes more traditional forms of art…such as painting, drawing, photography, sculpture, or a variety of other types of visual art expression.

What Does an Art Therapist Do?

Art therapists are trained in both therapy and art, and have studied and mastered both psychology and human development, having received a Master’s Degree. There are various requirements for becoming an art therapist as well as certifications which means they are masters when it comes to using art as a springboard for everything from a general assessment of another person’s state to treatment for aiding serious illness. Art therapists can work with people of all ages, sex, creed, et al. They can help an individual, a couple, a family, or groups of people and depending on the situation, there may be numerous therapists working together as a clinical team.
Art therapists are trained to pick up on nonverbal symbols and metaphors that are often expressed through art and the creative process, concepts that are usually difficult to express with words. It is through this process that the individual really begins to see the effects of art therapy and the discoveries that can be made.

Why Would I Use Art Therapy?

As with most any therapy, art as therapy is generally used as a treatment for something – usually as a way to improve one’s emotional state or mental well-being. Expressive arts therapy doesn’t have to be used only as a treatment though. It can be used to relieve stress or tension, or it can be used as a mode of self-discovery. Many people can stand to use some sort of creative outlet.

Do You Need to be Talented?

Absolutely not. And you need not be “afraid” of expressing yourself through art. Though it may seem different and unnatural at first, it is typically because the individual is not used to communicating via the arts. The creative process can be one of the most rewarding aspects. Coupled with an art therapist, you should gradually, if not immediately, feel comfortable with this newfound form of expression. After all, the goal is not necessarily to create an art masterpiece.

Art: A Wonderful Form of Therapy

Expressive art therapy is the use of creative arts as a form of therapy and is a fantastic field that has proven to work wonders in many people’s lives. It can help someone express themselves, explore their emotions, manage addictions, and improve their self-esteem. It really helps children with developmental disabilities, however; art therapy is awesome because it can help anyone!
Have you ever noticed how much music, or doing an activity like drawing relaxes you after a long day? That is because it is very therapeutic. If you see a professional art therapist, they can help you interpret the feelings that pour into your design, and even help work through and resolve problems. Studies have also proven that colouring, even as an adult, has tremendous benefits. Unfortunately, colouring, drawing, painting, and playing music is very taboo in the adult world. Break away from that social expectation, and see how freeing it is to let your creativity flow.
Music, art, and dance are the main expressions for this variety of therapy. Music therapy can be a mix of playing instruments, listening to music, and singing. Dance therapy utilizes dance and movement. It makes sense that it is so effective–lots of endorphins are released into your body when you shake it! Art therapy can be a mixture of drawing, colouring, painting, sculpting and pretty much everything else you can think of that is artistic. These are all things people love to do as hobbies, so why not use it to better yourself and show yourself some love?
Besides helping someone better their emotional being, art therapy is great for many other things. It can help general illness. Art is a fabulous escape from feeling icky. Art therapy can help someone who has a cancer diagnosis. Battling cancer takes both a very physical and emotional toll, and is even a struggle accepting the diagnosis. Art and dance are powerful expressions of these emotions, and can help relieve a lot of stress, anger, and sadness. Someone in need of therapy to have some relief after a disaster would also be an excellent candidate for artistic therapy.
There are so many uses and benefits to expressive arts therapies, that can help drastically improve people’s lives for a plethora of reasons. Even if you don’t need serious help, it can be a great way to release stress after a long work week. Art therapy is a growing field that is being more widely accepted, so it is also an opportunity as a career field! Be bold, be creative, and be expressive and give art therapy a try!

Psikoterapi Transpersonal

Aliran ini dikembangkan oleh tokoh dari psikologi humanistik antara lain : Abraham Maslow, Antony Sutich, dan Charles Tart. Sehingga boleh dikatakan bahwa aliran ini merupakan perkembangan dari aliran humanistik.
Sebuah definisi yang dikemukakan oleh Shapiro yang merupakan gaubungan dari berbagai pendapat tentang psikologi transpersonal : psikologi transpersonal mengkaji tentang potensi tertinggi yang dimiliki manusia, dan melakukan penggalian, pemahaman, perwujudan dari kesatuan, spiritualitas, serta kesadaran transendensi. Rumusan di atas menunjukkan dua unsur penting yang menjadi telaah psikologi transpersonal yaitu potensi-potensi yang luhur (potensi tertinggi) dan fenomena kesadaran manusia. The altered states of consciousness adalah pengalaman seorang melewati kesadaran biasa misalnya pengalaman memasuki dimensi kebatinan, keatuan mistik, komunikasi batiniah, pengalaman meditasi. Demikian pula dengan potensi luhur manusia menghasilkan telaah seperti extra sensory perception,transendensi diri, ectasy , dimensi di atas keadaran, pengalalman puncak, daya batin
Psikologi transpersonal seperti halnya psikologi humanistik menaruh perhatian pada dimensi spiritual manusia yang ternyata mengandung potensi dan kemampuan luar biasa yang sejauh ini terabaikan dari telaah psikologi kontemporer. Perbedaannya dengan psikologi humanistik adalah bila psikologi humanistik menggali potensi manusia untuk peningkatan hubungan antar manusia, sedangkan transpersonal lebih tertarik untuk meneliti pengalaman subjektif-ransendental, serta pengalaman luar biasa dari potensi spiritual ini. Kajian transpersonal ini menunjukkan bahwa aliran ini mencoba mengkaji secara ilmiah terhadap dimensi yang selama ini dianggap sebagai bidang mistis, kebatinan, yang dialami oleh kaum agamawan (kyai, pastur, bikhu) atau orang yang mengolah dunia batinnya. Hasil dari beberapa penelitian tranpersonal menunjukkan bahwa bidang kebatinan bisa menjadi bidang ilmu dan dapat dikaji secara ilmiah sehingga hal tersebut penting untuk di kaji lebih dalam dan tidak dianggap sebagai suatu syirik yang akhirnya membelenggu ilmuwan psikologi untuk mempelajari potensi yang tertinggi ini
A.    Tokoh-tokohnya Psikologi Transpersonal
Anthony Sutich dan Abraham Maslow. seringkali dilekatkan dengan psikologi transpersonal. Memang mereka berdualah yang berjasa dalam pendirian aliran baru ini. Upaya yang timbul dari ketidakpuasan pada teori yang tidak mampu menjelaskan hal-hal baru yang mereka temukan. Sebut saja ketika Maslow mulai meneliti aspek-aspek kehidupan religius, dan saat itu pemikiran ilmiah Amerika sedang didominasi oleh behaviorisme yang kurang simpati dengan eksplorasi dimensi batiniah. Menghadapi situasi ini, Maslow tidak terburu-buru memperkenalkan pengalaman mistis. Langkah pertama yang ditempuhnya adalah memperkenalkan istilah pengalaman-pengalaman puncak
 Sigmund Freud dipandang sebagai pelopor ke arah psikologi
  Transpersonal Hampir semua tokoh-tokoh dari psikologi aliran ini, berusaha sedapat mungkin memberikan arti bernuansa spiritual terhadap kata psikologi. Mereka seringkali merujuk kepada akar katanya, yakni psyche. Jika definisi modern mengarah kepada proses mental, maka definisi awal psyche sebenarnya adalah napas kehidupan, ekuivalen dengan makna soul, atau jiwa.
Sigmund Freud dipandang sebagai pelopor ke arah psikologi transpersonal atas jasanya memetakan ketidaksadaran sebagai komponen penting kepribadian manusia. Tiga puluh tahun sebelum Freud menyusun teorinya, tepatnya di tahun 1869, von Hartmann menerbitkan buku Philosophy of The Unconscious.
Dalam buku tersebut ia menjelaskan filsafat Schopenhauer, di mana Schopenhauer sendiri secara eksplisit mengambil konsep tersebut dalam khazanah mistik Timur : Buddha dan Upanishad. Dijelaskannya bahwa di bawah kesadaran individu terletak kesadaran kosmis, yang dalam sebagian besar orang masih dalam bentuk ketidaksadaran, yang bisa dibangkitkan. Dengan membuat ketidaksadaran ini menjadi sadar, seseorang tersebut akan menjadi sosok hebat. Sedangkan Freud sendiri mengambil konsep Id dari buku George Groddeck, The Book of the It, yang mengambil konsep eksistensi Tao Kosmos atau Ruh (spirit) Universal.
 Apa yang dirintis Freud saat itu, setidaknya membuka jalan bagi suatu pandangan bahwa apa yang nampak dalam perilaku manusia, sebenarnya hanyalah bagian kecil dari kepribadian. Manusia tetaplah memiliki aspek yang tersembunyi dalam dirinya, yang justru sebagian besar perilaku yang nampak hanyalah manifestasi dari apa yang tidak nampak, yang disebut sebagai ketidaksadaran. Meskipun Freud menempatkan hal-hal yang negatif bagi konstruksi ketidaksadaran, tapi ia berhasil membuka jalan bagi penerusnya—dalam hal ini Jung—untuk menempatkan aspek spiritual terhadap ketidaksadaran manusia.
B.     Cabang-cabang Psikologi transpersonal
A. Kelompok Mistis magis
                Kelompok pertama adalah kelompok mistis-magis. Menurut kelompok ini kesadaran transpersonal bersesuaian dengan kesadaran para dukun dan shaman masa lalu. Pandangan ini dianut oleh para aktivis New Age, dan salah satunya gerakan teosofi yang dipimpin oleh Helena Blavatsky. Seringkali romantisme dari kelompok ini menyulitkannya untuk berinteraksi dengan arus utama psikologi.
B. Kelompok psiko-fisiologis
                Kedua adalah kelompok tingkat kesadaran alternatif yang biasanya menolak konsep-konsep perkembangan, tahap-tahap dan praktik peningkatan kesadaran. Mereka lebih suka meneliti keadaan kesadaran sementara secara psiko-fisiologis dengan memelajari keadaan-keadaan fisik seseorang yang berada dalam keadaan transpersonal. Kelompok ini bersama kelompok ekoprimitivisme menganjurkan penggunaan media (seperti zat-zat kimia atau psikotropika) untuk pencapaian keasadaran transpersonal. Tokoh yang cukup penting dalam kelompok ini adalah Stanislav Grof yang menggunakan LSD untuk psikoterapinya. Setelah penggunaan LSD dilarang pemerintah, Grof kemudian menggunakan teknik pernapasan (pranayama) dari tradisi Timur, yang disebutnya sebagai Holotrophic Breathwork.
C. kelompok transpersonalis postmodern
                Kelompok ketiga, kelompok transpersonalis posmodern. Mereka menganggap keasadaran transpersonal, sebenarnya merupakan keadaan yang biasa. Kita, manusia modern, menganggapnya seolah luar biasa, karena kita membuang kondisi kesadaran seperti ini. Kelompok ini menerima kisah-kisah para dukun shamanisme dan mistikus dalam semangat relativisme pluralistik. Mereka justru mengecam filsafat perennial yang mengungkapkan pengalaman mistik sebagai totaliter dan fasistik karena mengagungkan hierarki.
D. Kelompok integral.
                Kelompok psikologi transpersonal yang keempat adalah kelompok integral. Kelompok ini menerima hampir semua fenomena kesadaran yang diteliti oleh ketiga kelompok tadi. Yang berbeda, kelompok ini juga menerima konsep-konsep psikologi transpersonal dari aliran pramodern dan posmodern. Salah seorang tokohnya adalah Ken Wilber, yang nanti akan dibahas pada bab khusus. Kelompok pertama, kedua dan ketiga merupakan kelompok yang berada–bahkan bersebarangan–dengan agama formal. Helena Blavastky, yang berada pada kelompok yang pertama, misalnya, mengharuskan para anggotanya untuk tidak memiliki kecenderungan kepada agama tertentu.
A.    Perbedaan Psikoterapi dalam Psikologi Modren dan Psikoterapi Psikologi Transpersonal
                Dengan kata lain, jika dalam psikologi modern, terapi yang diberikan akan bersinggungan dengan biomedis, dalam psikologi transpersonal, terapi yang dikembangkan akan berhubungan dengan ritual-ritual yang dijalankan dalam tradisi-tradisi keagamaan. Cara pandang yang holistik, terutama dari mistik Timur, pada akhirnya membawa siginifikansi akan adanya pengaruh yang sangat kuat antara tubuh, pikiran dan jiwa. Apa yang memanifetasi dalam tubuh fisik, sebenarnya gambaran keadaan tubuh mentalnya. Demikian juga sebaliknya, gangguan fisik yang terjadi seringkali memengaruhi kondisi mental seseorang.
                Dari sini kemudian penurunan lebih lanjut dari terapi dalam psikologi transpersonal adalah bagaimana agar si pasien bisa menyadari kondisi dirinya sendiri, kondisi pikiran dan tubuhnya. Langkah penyadaran diri ini ditempuh dengan pertama kali seorang klien mengidentifikasi proses dan mekanisme di dalam tubunya secara sadar. Terapi seperti ini dinamakan biofeedback. Pada daerah-daerah tertentu dipasang sensor elektronik, misalnya pada otot-otot tubuh. Sinyal elektronik ini diamplikasi menjadi bunyi atau nyala lampu, sehingga klien bisa melihat dan mendengar perubahan-perubahan yang terjadi, baik dalam kondisi normal ataupun abnormal, manakala ia memberikan semacam perubahan dalam proses fisiologi internal dirinya. Dalam beberapa penelitian, terbukti biofeedback sangat efektif untuk tujuan relaksasi tubuh. Menurunkan tingkat stress, dan gangguan-ganguan psikosomatis. Jantung berdebar, napas tidak teratur, tekanan darah tinggi adalah jenis-jensi penyakit psikosomatis yang berhasil disembuhkan dengan terapi ini. Jenis terapi lainnya dengan tujuan yang sama, untuk relaksasi, ialah meditasi. Tentunya ada beberapa tingkatan meditasi, mulai dari hanya mengatur irama napas, sampai kepada meditasi tingkat tinggi yang membuka kesadaran-kesadaran di luar kondisi normal (altered states of consciousness).
                Ada juga terapi medan energi, seperti chikung, chkara, aura, yang merupakan badan energi atau benda mental yang juga sekaligus menggambarkan kondisi kesehatan mental seseorang. Biofeedback dan meditasi adalah jenis-jenis psikoterapi yang sangat umum dipakai oleh para ahli psikologi transpersonal. Tapi ada kecenderungan belakangan ini, terapi yang dipakai sudah agak meluas. Misalnya di Anand Ashram, selain meditasi dan yoga, juga dibarengi dengan terapi menggunakan musik, terutama musik-musik religius, wangi-wangian (aromaterapi) dan visualisasi. Bahkan lebih jauh lagi, teknik-tenik yang biasa digunakan oleh para mistikus dari agama-agama lainnya, juga digunakan untuk terapi mental, seperti zikir, bacaan Kitab Suci, mantra, doa dll.
B.     Konsep Siklus Kehidupan
                Sebenarnya banyak jenis sintesa teoritis yang diajukan oleh psikolog-psikolog transpersonal, akan tetapi disini  hanya akan mengajukan tiga macam sintesa yang merupakan representasi pemikiran dunia Barat pada umumnya: yang modernis, yang posmodernis dan yang integralis. Psikologi transpersonal yang modernis diwakili oleh Psikoanalisis Transpersonal oleh Michael Washburn. Yang posmodernis diwakili oleh Spriritualitas Partisipatif yang diajukan oleh Jorge Ferrer. Sedangkan yang integralis, yaitu yang memadukan sintesa modernis dengan sintesa posmodernis diajukan oleh Ken Wilber dalam Psikologi Integral.
                Ken Wilber sendiri, sebenarnya di tahun 1980, telah mensitesakan psikologi perkembangan Barat modern dengan psikologi mistik Timur dalam suatu konsep yang disebutnya Spektrum Kesadaran. Wawasan spektrum kesadaran itu kemudian disempurnakannya dalam suatu konsep yang disebutnya Proyek Atman. Konon, menurut Ken Wilber muda, atman alias roh manusia terpisah dari Brahman alias Realitas Mutlak. Karena terpisah itu sang atman menginginkan kembali menyatu dengan Brahman. Keinginan ini disebut sebagai proyek Atman.
                Proyek Atman inilah yang menurut Wilber sebagai pendorong jiwa manusia untuk berkembang tahap demi tahap: tahap prapersonal, tahap personal dan tahap transpersonal. Tahap prapersonal ke tahap personal disebutnya jalur luar yang diteliti oleh psikologi perkembangan Barat modern. Sedangkan tahap personal ke tahap transpersonal disebutnya sebagai jalur dalam. Kedua jalur itu sinambung, menjadi suatu lingkaran dari Brahman ke Ego kembali ke Brahman. Lingkaran perkembangan dan pengembangan inilah yang disebutnya sebagai siklus kehidupan.
                Nah, konsep siklus kehidupan inilah yang juga digunakan okeh Michael Washburn dan John Ferrer. Hanya saja Washburn mengganti Brahman dengan istilah yang lebih netral: The Dynamic Ground. Sedangkan Ferrer menggunakan istilah yang lebih misterius: The Mystery. Dynamic Ground nya Washburn itu tak lain dari Collective Unconscious nya Jung yang diperluas. Mystery nya Ferrer, sepertinya, adalah Tao yang tak ternamakan nya Lozi dalam nama lain. Soalnya Mystery nya Ferrer melahirkan energi gelap dan energi kesadaran yang mirip Yin dan Yang dalam Taoisme.
                Dinamika yang menggerakkan sikus kehidupan Wasburn dan Ferrer itu berbeda dari Atman Project nya Wilber. Washburn mengatakan bahwa transisi fase prapersonal ke fase personal melalui fase represi primal terhadap energi insting alias Libido nya Freud. Sedangkan dalam teori Ferrer transisi yang sama terjadi melalui inhibisi dimensi-dimensi energi gelap berupa naluri, seks dan sebagian emosi. Sementara itu transisi fase personal ke transpersonal menurut Washburn yang modernis adalah melalui meditasi individual. Sedangkan menurut Ferrer yang posmodernis adalah melalui kegiatan keagamaan yang kolektif dengan dialog terbuka pluralistik.
                Wilber sendiri pemikiranya telah berkembang. Dia pun tak mau lagi menggunakan istilah transpersonal. Dia sekarang mengembangkan psikologi integral yang katanya pos-posmo. Sebagai pos-posmodernis dia mensintesakan psikologi tradisional yang pramodern dengan psikologi modern yang ilmiah dan dengan interpretasi pluralis posmodern dalam suatu model yang disebutnya AQAL singkatan dari All-Quadrant All-Level. Konsep kembali ke Brahman dalam teori spektrum kesadarannya telah ditinggalkannya.
                Lingkaran Siklus kehidupannya telah dibukanya menjadi suatu jalur spiral dalam kwadran subyektivitas. Kuadran ini adalah kuadran kiri atas. Kuadran kiri bawah adalah intersubyektivitas kultural yang digandrungi kaum posmodernis. Kuadran kanan atas adalah obyektivitas fisikal yang yang dianggap sebagai satu-satunya realitas oleh saintis modernis. Akhirnya, kuadran kanan bawah adalah interobyektivitas yang meliputi sistem obyek-obyek yang berinteraksi yang dipelajari sains posmodern tentang Chaos dan kompleksitas.
                Tahap-tahap dalam teori spektrum kesadarannya kini menjadi lingkaran-lingkaran konsentris yang disebutnya sebagai holon-holon. Holon-holon itu membentuk sebuah hirarki holon atau holarki yang dilukiskan sebagai lingkaran-lingkaran konsentris. Holarki itulah struktur kosmos, yang berbeda dari Tao yang hanya memiliki dua komponen, memiliki empat muka yang direpresentasikan oleh empat kuadran yang dibentuk oleh silang sumbu yang saling tegak lurus satu sama lainnya: Sumbu individu-sosial yang vertikal dan sumbu interior-eksterior yang horisontal.
C.    Pengertian Konseling Transpersonal
Konseling transpersonal adalah konseling yang berfokus pada kesadaran saat ini dan bagaimana pengalaman ini diselenggarakan dengan kurang penekanan pada diskusi intelektual. Ada perbedaan antara langsung mengalami sesuatu dan intellectualizing tentang hal itu. Terapis transpersonal dapat menggabungkan teknik seperti menulis jurnal dan seni ekspresif, serta teknik-teknik perilaku kognitif seperti citra dibimbing dan relaksasi untuk mengakses makna yang lebih dalam dan pengalaman daripada pemahaman verbal diri. konseling transpersonal berfokus pada pengembangan batin dan hubungan daripada menekankan kegiatan eksternal dan keprihatinan material.
Transpersonal dalam banyak literatur berarti melewati atau melalui “topeng”, dengan kata lain melewati tingkat personal.  Pendekatan transpersonal berbeda dengan pendekatan-pendekatan yang lain, yang pada umumnya hanya menjelaskan keadaan-keadaan transedensi diri yang sempit
            Transedensi diri (self transedence) dalam psikologi transpersonal mengacu pada keadaan kesadaran (states of consciousness) dimana self berkembang melewati batas-batas wajar, identifikasi-identifikasi, dan citra diri dari kepribadian individu serta merefleksikan suatu koneksi fundamental, harmoni, atau kesatuan dengan orang lain dan dunia (Walsh dan Vaughan, 1993 ).
D.  Konsep dasar konseling trans personal (Walsh & Vaughan, 1993) :
Ø  Pengalaman Puncak
Ø  Transendensi-Diri
Ø  Kesehatan Jiwa Optimal
Ø  Kedaruratan Spiritual
Ø  Spektrum Perkembangan
Ø  Meditasi
E.  Tujuan Konseling
Ø   Bukan berfokus pada meredakan gejala Melepaskan diri dari identifikasi dengan peran dan perilaku dan menyadari identitas yang sebenarnya dariseseorang.
Ø   Ada yang kurang fokus pada pemecahan masalah dan lebih pada pengembangan dan pembukaan sumber daya batin dan pengalaman dari beingness otentik yang unik.
F.     Fungsi & Peran Konselor
Konselor transpersonal dapat menggabungkan teknik seperti menulis jurnal dan seni ekspresif, serta teknik-teknik perilaku kognitif seperti citra dibimbing dan relaksasi untuk mengakses makna yang lebih dalam dan pengalaman daripada pemahaman verbal diri.
Konseling transpersonal berfokus pada kesadaran saat ini dan bagaimana pengalaman ini diselenggarakan dengan kurang penekanan pada diskusi intelektual. Ada perbedaan antara langsung mengalami sesuatu dan intellectualizing tentang hal itu. Terapis transpersonal dapat menggabungkan teknik seperti menulis jurnal dan seni ekspresif, serta teknik-teknik perilaku kognitif seperti citra dibimbing dan relaksasi untuk mengakses makna yang lebih dalam dan pengalaman daripada pemahaman verbal diri. konseling transpersonal berfokus pada pengembangan batin dan hubungan daripada menekankan kegiatan eksternal dan keprihatinan material.
Pendekatan transpersonal mencakup semua aspek manusia dan melihat pikiran, tubuh, dan semangat sebagai bagian dari keseluruhan yang terpadu. Daripada berfokus pada mengurangi gejala, tujuan terapi transpersonal adalah untuk melepaskan diri dari identifikasi dengan peran dan perilaku dan menyadari identitas yang sebenarnya seseorang. Ada kurang fokus pada pemecahan masalah dan lebih pada pengembangan dan pembukaan sumber daya batin dan pengalaman dari beingness otentik yang unik.
Pendekatan transpersonal memungkinkan sebuah visi yang lebih inklusif kemungkinan di mana seseorang bisa melepaskan masa lalu dan hidup lebih lengkap di masa sekarang. Dalam cahaya kebijaksanaan abadi dari ajaran spiritual, menegaskan kemungkinan hidup dalam harmoni dengan orang lain dan lingkungan, kurang didorong oleh ketakutan dan keserakahan, dan termotivasi oleh kasih sayang dan rasa tujuan. (Vaughan, 1993, hal 161)
Visi transpersonal mengakui bahwa melepaskan masa lalu memungkinkan kita untuk hidup lebih lengkap di masa sekarang dan akhirnya memfasilitasi akses ke level yang lebih dalam kebijaksanaan, kreativitas, dan potensi.
 sumber:
. Atkinson, Rita. L., et all, Introduction to Psychology, 11th ed, Harcourt Brace & Company
Wilber, Ken, Integral Psychology, Shambala, Boston & London, 2000
. Hall, Calvin S. dkk, Teori-teori Psikodinamik (Klinis), Kanisius, Cetakan kelima, 1995
. Hall, Calvin S. dkk, Teori-teori Sifat dan Behavioristik, Kanisius, Cetakan kedua, 1995
. Maslow, Abraham, Psikologi Sains, Teraju, Oktober 2004
. Tart, Charles T. et. all, Transpersonal Psychologies, Harper & Row Publisher. 1975
. Keyna, Ruth, Introduction to Indian Philosophy, TATA McGRAW HILL PUBLISHING CO. LTD, 1970
. Wilber, Ken, The Atman Project, The Theosophical Publishing House, 1980
. Keraf, Sony, Pragmatisme Menurut William James, Kanisius

Sejarah Terapi Naratif

Pada subpokok bahasan ini, akan dijelaskan secara singkat sejarah perkembangan terapi naratif. Penjelasan ini diperlukan untuk memberikan wawasan pada terapis mengenai asal mula terbentuknya paradigma naratif dan penerapannya hingga saat ini. Paradigma naratif dalam bidang keilmuan mulai dikenal pada tahun 1980-an, sejalan dengan pergerakan konstruksi sosial dan pendekatan interpretif lainnya dalam ilmu sosial, dan mendapatkan dukungan dari tradisi hermeneutik serta psikologi pemahaman narasi (psychology of narrative knowing).
Dalam terapi naratif, terbentuk asumsi implisit tentang sebab-musabab munculnya pemikiran (the social nature of the mind), sebagaimana peran bahasa dalam mengembangkan pemahaman intersubjektif. Morgan (2002) menyampaikan bahwa ketika seseorang mendengar tentang terapi naratif maka ia akan mengarah pada beberapa cara memahami identitas seseorang, permasalahan, dan pengaruh permasalahan tersebut pada kehidupannya. Terapi ini menawarkan cara-cara untuk membuka pembicaraan dengan klien tentang hidup dan permasalahan yang dialaminya.
Pada awalnya, terapi naratif berkembang dalam tradisi terapi keluarga sebagaimana telah dipraktekkan oleh para terapis Palo Alto di California yang memodifikasi praktek di lingkup keluarga untuk mengolah makna yang diberikan oleh keluarga tersebut atas peristiwa kehidupan yang telah mereka jalani. Model narasi dalam penggalian inquiri telah memberikan sumbangan pada ketertarikan baru atas pendekatan ideografik, yang disebut pendekatan studi kasus dan penggunaan informasi dari sejarah kehidupan personal. Pendekatan ini sangat membantu dalam menggeneralisasikan hipotesis dalam penelitian dan penyusunan pola induktif yang diperlukan untuk pengembangan teori. Karena perlunya melibatkan pemahaman atas konteks, terutama terkait dengan studi kasus, maka metode ini dianggap memiliki kekayaan dalam upayanya memaknai sesuatu. Berdasarkan alasan ini, terapi naratif dianggap sesuai digunakan untuk memahami pengalaman manusia.
Ketika mengaitkan terapi naratif dengan terapi lain dalam konteks berkembangnya terapi keluarga, maka terapi naratif akan sejajar dengan terapi keluarga struktural (Minuchin), terapi keluarga sistemik (Bowen), terapi keluarga konstruktivis, terapi singkat/brief therapy, terapi solution-focused (de Shazer), pendekatan sistem linguistik, dan banyak lagi lain. Terapi naratif merupakan bidang baru dalam pengembangan kerangka kerja psikologi dan oleh karenanya, pemahaman tentang teori naratif perlu dilakukan untuk memantapkan pemahaman penggunaan terapi ini dalam praktiknya.
Inquiri naratif dapat diasosiasikan dengan etnographic-grounded theory dan metode fenomenologis, sebagaimana teori dan metode ini berbagi argumentasi dalam penalaran narasi, kaya akan dekripsi induktif, dan proses analisis interprasinya didasarkan pada pemahaman hubungan antarbagian dengan keseluruhan konteks faktual yang ada. Ketiganya pun setara dalam mengasumsikan keterkaitan kolaboratif antara peneliti, inquirer, atau terapis dan subjek manusia yang menjadi sumber pemaknaan pribadi. Kesemuanya ini telah menjadi bagian dari terapi naratif. Banyak terapis dalam terapi naratif berawal dari perspektif terapi keluarga sistemik atau terapi keluarga interaksional.
Terapi naratif merupakan bagian dari terapi keluarga, namun juga digunakan secara meluas oleh praktisi dari kalangan luas dengan latar belakang profesi dan perspektif yang beragam, mulai dari pekerja sosial dan komunitas, guru dan konselor di sekolah, akademisi, antropolog, pekerja untuk bidang pengembangan masyarakat, hingga pembuat film atau video dokumenter. Gagasan bahwa terapi adalah seni pembicaraan yang peduli pada isi pembicaraan dengan merekam dan memperluas jumlah narasi klien, telah menarik perhatian dalam bidang terapi keluarga dan terapi psikologis individual (Morgan, 2002). Hal ini lah yang mengarahkan pada pengembangan kreatif dalam pemikiran dan praktik naratif sebagai terapi untuk kasus individual.

jadwal-sholat