Seminar Psikologi Transpersonal

Seminar Psikologi Transpersonal.

Asesmen Pegawai

Asesmen Pegawai.

Proses Rekrutmen Karyawan

Proses Rekrutmen Karyawan.

Pelatihan Pembelajaran Bahasa Inggris Menggunakan Flash Card

Pelatihan Pembelajaran Bahasa Inggris Menggunakan Flash Card.

Pelatihan Psikologi Transpersonal Dalam Menjawab Realita Kehidupan

Pelatihan Psikologi Transpersonal Dalam Menjawab Realita Kehidupan.

Minggu, 15 Mei 2016

Sheila

About Dream and Sheila’s Story

“Ran.. gue pengen lanjut kuliah di UI”. “emang kenapa harus di UI, entar kalau lo masuk UI gue gak bisa nyusul dong. Gue kan gak sepinter lo”. Jawabku agak pesimis. “duh rani, gue pengen banget nikmatin perpustakaannya, disana kan udah lengkap perpustakaannya. Kalo soal lo masuk sana sih gampang, entar gue bantu ajarin deh” jawabnya.

Tret.. tret.. tret
Kulihat jam wekerku yang dari tadi berbunyi, ternyata pukul 02.00 dini hari. Rupanya aku salah menyetelnya sebelum tidur tadi. Sudah beberapa hari ini aku selalu bermimpi tentang sahabatku Sheila yang tak tahu dimana, dia dikabarkan menghilang dan sampai sekarang belum ada yang menemukannya. keluarganya sudah menganggapnya meninggal sejak empat tahun yang lalu, dia memang tinggal dengan ibu kandungnnya bersama ayah tirinya. Semua mimpi-mimpiku berisi kenangan-kenangan yang pernah kulalui bersamanya sewaktu SMA, beruntung aku hanya punya kenangan indah bersamanya.

Perpustakaan UI, ini adalah tempat impian Sheila. Sekarang aku sudah kuliah di UI fakultas Hukum. Aku mencoba untuk melanjutkan impian sahabatku itu. “Mba.. novel yang judulnya Diatas Awan ada yang minjem gak?”. “entar ya saya cek dulu.. em.. belum ada yang minjem kok de”. “oh iya makasih” jawabku putus asa, padahal aku sudah sangat ingin membaca kelanjutan cerita dari novel itu. Saat hendak kembali mengambil buku-buku yang akan kupinjam, gantungan tempat pensilku jatuh. Aku menunduk dan melihat sekitar kolong meja, dan gantungan itu jatuh dekat sebuah buku tebal yang sepertinya familiar. Betapa bahagianya ternyata buku yang kucari-cari itu ada di bawah meja tempatku membaca tadi. Kuputuskan untuk meminjam buku itu.

Keluar dari perpustakaan, aku mengecek hpku. Ada sebuah pesan dari “My Reno: Ran, ak gak bsa jemput. Tp ntar mlam ak k rmah kmu skalian ktmu orangtua kmu. Oke? See u”. Dulunya reno adalah pacar sheila, namun setelah sheila pergi dia mulai menjalin hubungan spesial denganku. Itu pun baru berjalan satu tahun. Sebenarnya aku belum terlalu yakin, dulu sheila pernah bilang padaku jika suatu hari dia pergi, aku harus menggantikannya untuk merawat dan menyayangi reno.

“sheila.. apa sih yang bikin lo bisa pinter” Tanyaku bego. “Cinta mungkin, hahah bercanda”. “Reno lagi ya… ganteng sih, cocok buat lo, si pinter dan si ganteng. Perfect banget”. “apaan sih”. Kami diam sesaat sebelum sheila angkat bicara “Ran, entar kalau gue udah pergi, lo harus sama reno. Dia cowok baik-baik gak sama kaya cowok lo tuh sih Ditan”. “emang kenapa sama ditan?”. “ditan tuh bukan cowok baik-baik, gue bisa lihat kok dari gerak-gerik dia. Sorot mata dia, dan segala yang ada sama dia itu wrong! Percaya deh”. “tau deh..” jawabku tak memperdulikan perkataannya. “lo janji kan bakal sama reno, gue percaya Cuma sama lo. Gue gak bisa bayangin bakalan bahagia di alam baka kalau dia jadi milik orang lain”. “iya-iya, kalau lo mati duluan, gimana kalau yang mati duluan itu gue? Mau gak nikah sama ditan?”. “gak deh, makasih”.

Lagi-lagi mimpi tentang sheila. Kupikir apa yang membuatku terbangun kali ini. Ternyata suara mama yang membangunkanku. “sayang.. reno udah datang tuh. Mandi gih. Tadi kamu ketiduran di sofa, jadi mama pindahin ke sini”.
“Ren udah lama nunggu ya?”. “em.. lumayan sejam kali” jawabnya sambil memperhatikan novel yang kubaca di sofa sampai ketiduran. “Ini novel…”. “iya.. novel kesukaan sheila, kamu masih ingat?”. “ya.. dulu dia sering cerita, kutipannya tentang ‘apa yang kau lihat dengan matamu, belum tentu dapat menjelaskan keadaan’” jawabnya santai. “Eh.. ren gue mau cerita sesuatu sama lo. Udah beberapa hari gue terus mimpiin tentang sheila. Tentang kejadian-kejadian waktu di SMA dulu. Dari pertama ketemu, tentang pesan-pesan dia dulu, tentang mimpi-mimpi dia, dan tentang pikiran-pikiran dia tentang ditan yang sering dia ceritain. Gue gak ngerti kenapa” jelasku panjang lebar. “mungkin lo rindu kali sama dia, biasanya kalau kita udah mulai rindu sama orang-orang yang udah gak ada, kita bakal bawa dia ke dalam mimpi. Gak usah terlalu dipikirin, entar dia sedih loh. lo gak boleh capek, ingat Seminggu lagi acara tunanagan kita”. “ya.. aku ingat”.

Bebarapa hari kemudian masih sama, aku tetap memimpikan tentang sheila. Awalnya aku bahagia bisa mengingat wajahnya kembali tanpa melihat fotonya, namun lama-kelamaan aku merasa ada yang aneh. Apalagi dengan perpustakaan kampus. Aku selalu merasa ada yang mengikutiku, tapi bukan perasaan takut yang kurasakan melainkan perasaan rindu yang teramat dalam.

Tiba di hari pertunanganku dengan reno, aku merasa gugup. Aku memang mencintainya, namun aku belum sepenuhnya yakin dengan keputusanku ini. Acara ini dihadiri keluarga dan kerabat dekat kami. Saat hendak bertukar cincin, aku menarik nafas dan kulihat sosok gadis cantik berdiri di belakang reno. Itu Sheila, sheila menangis. Aku melihat dia menangis dan membuatku tak jadi memasangkan cincin di jari reno. Aku hanya mengatakan maaf dan berlari ke kamar. Sebelum kejadian ini, keponakanku datang bercerita padaku bahwa ada seorang kakak yang bercerita padanya bahwa sahabatnya akan bertunangan sebelum menemukannya dan hidup kekal sambil menangis tersedu-sedu. Kuyakin kakak yang dimaksud keponakanku itu sheila, dan sahabatnya adalah aku.

Pertunanganku bukannya gagal namun ditunda sampai aku benar-benar siap. Reno kecewa begitu pula keluarga kami. Untung reno adalah laki-laki yang benar-benar baik, dia tak juga meninggalkanku.

Saat duduk di perpustakaan aku berpikir tentang segala kejadian yang terjadi padaku, dari mimpi-mimpi itu sampai pesta pertunanganku. “Kenapa kau harus menggangguku?” kataku dalam hati. “Hey…” seseorang menepuk pundakku. “aku disini.. aku selalu ada untukmu”. Aku menahan tangisku, sheila datang menghampiriku. “Kenapa lo pergi?” tanyaku. “gue gak pergi kok, gue cuman istirahat doang”. “trus lo ngapain disini?”. “gue pengen liat lo, gue kangen banget sama lo”. “mba.. mba.. bangun mba…”. ternyata cuman mimpi, tadi aku ketiduran. “maaf ya, maaf”.

Sebuah pesan masuk di hpku membuatku terkejut “My Reno: Ran gw mau crita sesuatu, penting! Ktmuan d yummy skrg”. Ada apaan nih? Kayanya penting banget. “oke” balasku.
“ran.. kemarin gue dari kampung kakek gue, trus gue temenin dia ngambil susu kedelai di rumah tetangga. Gue liat foto sheila di rumah itu. Gue yakin itu emang beneran dia” jelasnya. “trus?”. “gue nanya ke kakek gue, katanya tuh cewek dia temuin di jalan, dengan tubuh yang lemas dan penuh darah, seperti habis diperk*sa. Tetangga kakek gue itu emang gak punya cucu, dan emang kesepian karena ditinggal anaknya. Jadi cewek yang gue yakin sheila itu dia rawat, tapi tragisnya cewek itu gak mau bicara. Dan beberapa hari kemudian bunuh diri”. “gak mungkin.. sheila pasti masih hidup, dia gak mungkin mati” aku mulai meneteskan airmata. “gimana kalau kita ke kampung sekarang? Siapa tau aja nenek tersebut bisa memberikan keterangan”. Aku tak menjawab namun kuikuti semua yang dia katakan.

Saat dalam perjalanan, aku memimpikan sheila. Dia berkata “Rani.. bukankah sudah kukatakan bahwa apa yang kau lihat dengan matamu belum tentu dapat menjelaskan keadaan? Kau tak juga mengerti? Hati-hati.. aku menyayangimu”.

“Nek.. nenek kenal dengan gadis ini?” tanya reno. “kenal, dia cucu saya yang udah meninggal empat tahun yang lalu”. “dia teman kami nek, apa nenek punya barang-barang yang dia tinggalkan?”. “ada, tunggu sebentar… ini”. Sebuah tas yang sering dia gunakan diberikan nenek itu padaku. “boleh saya bawa nek?” tanyaku. “boleh”. “makasih, sebenarnya kami ingin pergi melihat makamnya, tapi sudah malam. Besok kami akan datang lagi, bolehkan?” kata reno. “terserah kalian, kapan saja kalian bisa mampir”.

Karena sudah tengah malam, kami memutuskan untuk istirahat di rumah keluarga reno. Setelah membersihkan tubuh, aku membuka tas sheila. Ada pakaian yang terakhir kali dia pakai dulu sebelum dia meninggal, entah mengapa, saat mencium baju itu baunya sama seperti bau parfum sheila dulu. Aku lihat beberapa fotoku dan dia, dan foto-fotonya bersama… ditan. Kulihat semuanya, aneh, tak ada satu pun fotonya bersama reno. Dan sepucuk surat,

“Rani, maafkan aku. Sebenarnya aku sudah lama berpacaran dengan ditan. Oleh karena itu aku selalu bilang dia bukan cowok baik-baik. Maaf. Dia selalu melindungiku saat aku dipukuli dan disiksa ayah tiriku. Saat aku sedih, dia selalu meminjamkan pundaknya untukku. Dan tentang reno, kutarik kembali kata-kataku yang mengatakan bahwa dia adalah orang baik. Sebaiknya jangan kau dekati dia, dia berbahaya. Setelah surat ini sampai padamu, jangan pernah berhubungan dengan laki-laki yang bernama reno. Aku telah memutuskan untuk lari dari rumah, aku tak bisa terus hidup dengan ayah tiriku yang sangat kejam. Ingat apa yang kau lihat dengan matamu belum tentu dapat menjelaskan keadaan. Dengan kata maaf belum tentu bisa menghapus tentang kenangan buruk ini, namun skali lagi aku ingin tetap mengucapkan maaf yang sedalam-dalamnya. Love, Sheila”.

Aku menangis membaca surat itu, ternyata dia punya banyak rahasia dan pergumulan hidup yang dia simpan sendiri. Dan ditan, aku memutuskannya memang karena memergokinya selingkuh dengan adik kelasku, tapi itu terjadi sebelum sheila menghilang. Berarti pandangan sheila tentang ditan juga salah, dia juga tak sebaik apa yang dia pikirkan. Andai waktu dapat terulang ingin menjelaskan banyak kekeliruan di antara kita. Reno.. kenapa sheila bilang dia bukan orang baik? Apa yang salah?.

Tok.. tok.. tok..
“siapa…” tiba-tiba mulutku disekap. “lo udah baca suratnya? Dia menderita sendirian, dan lo dimana? Dia selalu lari ke cowok lo, bukan ke gue? Dia ngehianatin gue sama lo tau gak. Makanya gue paling malas ngeliat lo nangis karena dia. Dan satu hal yang sama dari lo berdua, yaitu mudah gue bohongin. Sama-sama masuk perangkap gue, dasar bego. Dia juga pernah nangis disini sama kaya lo. Bedanya dia nangis karena bokap tirinya dan pengen putus dari gue. Oh ya lo dulu putus sama ditan itu karena gue, gue yang ngatur semua itu, lo gak perlu tahu lah detailnya. Yang gue pengen lo jadi millik gue saat itu. Ditan tuh anak yang baik-baik, saking baiknya dia tuh sama begonya sama lo sama sheila” dia tertawa. Aku kaget mendengar semuanya, aku memberontak, kutendang dia dan sesegera mungkin lari. Untung pintunya belum dikunci. Aku berlari di jalan yang gelap dan becek, dan aku menyadari inilah yang dimaksudkan sheila dalam mimpi.

Aku terus berlari, dan jurang di depan mata. Aku bingung, reno sudah tinggal selangkah lagi akan meraihku. Aku berdoa “ya Tuhan lindungilah aku”. Dan kuputuskan melompat ke jurang. Sakit.. aku tak ingat apakah aku merasakan sakit itu. “Rani.. ini aku sheila. Maaf terlambat, namun lebih baik terlambat daripada tidak sama skali. Aku selalu mencoba mengatakan rahasia itu saat kau di perpustakaan, namun dunia kita begitu jauh walau kau selalu lewat di depan mataku. Maaf aku selalu menyelinap di dalam mimpimu. Aku sedih tiap kali kau tak memperdulikan kata-kataku. Namun aku bahagia kau bisa melihatku saat hari pertunangan itu. Pulanglah rani, sekarang aku sudah tenang. Masih banyak masalah yang harus kau selesaikan”. Begitu terang, aku tak bisa melihat, tapi kuyakin itu adalah malaikat yang menolongku.
“rani.. kau sudah sadar. Sudah tiga bulan kau koma”. “minum ma…”. “ini sayang”. “reno mana ma?”. “reno? dia dalam pemeriksaan, dia sudah dalam status tersangka. Tinggal menunggu kamu sadar untuk memberikan keterangan. Apakah dia yang mencoba membunuhmu?”. “ma…” kata-kataku tertahan. “gak usah dilanjutin, istrahat aja dulu”.

Akhirnya reno dipenjara, dengan kasus percobaan pembunuhan padaku dan sheila. Aku tak menyangka dialah penyebab semua ini. Dengan rapi empat tahun dia menyembunyikannya dariku dan dialah yang membongkar semuanya. Makam sheila terpaksa dibongkar untuk melakukan pemeriksaan ulang. saat memberitahukan semuanya pada orangtua sheila, ibunya sempat pingsan. Namun akhirnya dia bisa menerima semuanya. Ayah sheila juga dalam pemeriksaan, karena didapat beberapa bukti yang membuktikan bahwa ayahnya melakukan penganiyayaan pada sheila. Ditan, aku bertemu ditan sebulan yang lalu. Dia berada di rumah sakit jiwa, bukan karena menjadi dokter atau perawat namun dia mengalami gangguan mental empat tahun yang lalu. Menurut orangtuanya dia menjadi seperti itu karena ditinggalkan kekasihnya. Yang kuyakin kekasih yang dimaksud orangtuanya itu adalah sheila, karena dia terus memanggil-manggil namanya. Kasihan dia, aku akan mencoba mengembalikan ingatannya.

Sesering aku mengurus urusanku di kantor polisi, sesering itu pula aku bertemu dengan joe kakak tiri sheila. Aku mulai jatuh cinta padanya. Setahun kemudian aku menikah dengannya. Dan sekarang telah mempunyai anak kembar sepasang, ini adalah hadiahku untuk sheila.
“Apa yang kau lihat dengan matamu, belum tentu dapat menjelaskan keadaan”

Cerpen Karangan: Sherly Yulvickhe Sompa


Sihir Hitam

Sihir Hitam

Belum sempat Mia menaruh tas yang dijinjingnya, terdengar suara teriakan dari rumah sebelah. Rumah yang ditinggalkan pemiliknya sebulan lalu.
“Tolong, tolong, tolong…!!!”
Mendengar suara itu dia lantas bergegas menuju asal suara. Mia melihat rumah itu dengan pintu yang terbuka. Ketika hendak masuk, Mia dikejutkan dengan seonggok tubuh manusia yang tergeletak di ruang tamu dengan darah segar yang mengalir. Terlihat jelas dari posisi Mia yang terpaku tepat di tengah pintu. Refleks dia menjerit sejadi-jadinya.
“Aaaaaaaa…!!!”
Darah masih mengalir dari lehernya, sehingga lantai putih itu menjadi merah bersimbah darah. Mengalir di sela-sela ruang dan menggenang di sudut tembok. Ada sebuah pisau dapur mengkilap tepat di muka mayat. Barangkali pisau itu yang telah digunakan untuk menghabisi nyawanya. Mia sangat takut dengan kejadian ini apalagi orangtuanya baru saja dia antar hendak pergi ke luar kota. Dia panik, lantas dia ke rumah Pak RT berharap secepatnya kasus ini terselesaikan.
“Pak tolong, ada mayat di rumah nomer 13”, bibirnya yang masih bergetar, dengan nafas yang tidak teratur.
“Benarkah?”
“Iya Pak, benar”
“Ayo kalau begitu kita bergegas ke tempat kejadian”
Pak RT lekas menghidupkan mesin motornya. Mereka buru-buru menuju tempat kejadian. Motor Pak RT sudah tua ngambek, sehingga kami terpaksa jalan kaki dengan langkah sangat cepat. Selama ini Mia belum kenal dengan pemilik rumah itu. Pemilik rumah yang sangat tertutup. Tapi sebenarnya warga komplek ini telah hafal dengan tabiatnya. Pemilik rumah itu datang dan pergi begitu saja. Wajar jika tidak ada yang mengenalnya. Aku memperkirakan pembunuhan ini berlatar belakang perampokan.
Mereka sudah sampai di depan rumah. Tapi Mia heran dengan pintu yang sekarang tertutup, tadi dia yakin pintu itu terbuka. Ketika Pak RT membukanya, sontak mereka dikejutkan dengan sesosok wanita yang tengah duduk di sofa dengan buku di tanganya. Kontras dengan pemandangan yang Mia lihat tadi. Kontras dengan apa yang Mia katakan pada Pak RT. Dia tampak terkejut melihat kedatangan Mia dan Pak RT. Bukan wanita itu yang membuat Mia tercengang, terlebih karena di samping sofa itulah tadi Mia melihat sesosok mayat terbaring bersimbah darah.
“Oh ada tamu ya ternyata, silahkan masuk!”, wanita itu menyapa sambil berdiri membenarkan rok lebarnya. Suara wanita itu aneh, terdengar menakutkan meski dengan suara yang lembut.
“Mmm… Maaf, tadi ada pembunuhan di rumah ini, apa Ibu sudah tahu?”
“Saya dari tadi duduk di sini, jangan mengada-ada dong”
“Saya tidak mengada-ada Bu, benar tadi ada. Mayatnya tadi ada di lantai tepat di samping sofa itu…” , Mia menunjuk tempat yang dia yakin di sanalah mayatnya tergeletak.
“Kenyataanya tidak ada. Tidak ada apa-apa di sini!”, wanita itu mulai meresa terusik dengan kelancangan Mia.
“Sudah! biar saya periksa dulu”, ujar Pak RT menengahi pembicaraan.
Mia berfikir sejenak hendak membenarkan apa yang wanita itu katakan. Tapi dia belum pikun, dan dia benar-benar masih ingat mayat itu mati di samping kursi tempat wanita itu duduk. Pak RT masuk ke dalam rumah. Memeriksa semua ruang yang ada di rumah itu. Ruang yang sangat lebar. Dia lihat semua sisi dari ruangan itu. Dan Mia masih terpaku di tempatnya dia takut masuk ke dalam, hanya terpaku di pintu masuk. Beberapa saat kemudian Pak RT kembali.
“Tidak ada apa-apa”, Pak RT berbicara pada Mia, tapi dengan mimik muka yang berbeda dengan tadi sebelum dia memeriksa rumah. Mia merasa ada yang aneh dengan sikap Pak RT.
“Yakin Pak tidak ada?”
“Iya. Tidak ada”
Lalu Mia dan Pak RT hendak pergi dari rumah itu. Setelah meminta maaf pada wanitu itu. Tapi sebenarnya bukan karena mereka telah yakin tidak apa-apa di sana. Bukan itu, tapi seperti ada sesuatu yang masuk pada pikiran mereka, sesuatu yang membuat mereka tidak berani untuk lebih jauh mencurigainya.
“Loh tidak duduk dulu?”, sahut wanita itu dengan nada yang masih aneh, lembut tapi menakutkan.
Saat Mia menoleh, dia jadi salah tingkah sendiri melihat sorot mata itu menusuk dan secara perlahan-lahan menggerogoti kejengkelannya. Ia merasa seperti ada yang memukuli jantungnya untuk berdegup lebih cepat dan lebih keras lagi. Apalagi ketika wanita itu berkata, “Loh tidak duduk dulu?”
Mia takut dia segera pulang begitu pula Pak RT. Tapi tetap saja wajah dan sikap Pak RT berubah semenjak dia masuk ke rumah itu. Entah apa yang dia lihat. Mia tidak tahu apa yang dia lihat, sebab tidak ada kata yang Pak RT ucap untuk menjelaskannya.

Gelap mulai merayap menyelimuti rumah-rumah yang ada di komplek itu. Tak terkecuali rumah yang penuh misteri. Misteri yang baru Mia peroleh beberapa jam yang lalu. Dan masih meninggalkan bekas yang mendalam di benaknya. Wanita dengan tatapan aneh.
Mia duduk di sofa ruang tengah. Tampak kedinginan meski sebenarnya hawanya tidak sedingin itu. Dia mulai jengah menanti Rina yang berjanji menemaninya malam ini, sekedar untuk mengurangi rasa takutnya.
Pintu rumah Mia diketuk keras dan tidak sabaran. Mungkin itu Rina yang berjanji akan menemaninya malam ini. Hati Mia mulai rada tenang, meski belum tahu siapa yang sedang berada di balik pintu.
“Ya, sebentar!”, teriak Mia.
Sebelum membuka pintu, Mia membuka gorden meyakinkan siapa yang datang. Tidak kelihatan, mungkin dia di sisi yang tidak terlihat dari dalam. Lantas Mia buka pintunya. Berdiri seorang wanita pemilik rumah itu menyodorkaan rantang dengan tatapan yang sama ketika terakhir melihatnya tadi siang.
“Untuk Mia…”
Mia hanya diam terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa kecuali meraih rantang yang ada di depanya. Tenggorokan Mia tertahan tidak bisa dia mengucap sepatah kata pun. Perempuan itu menatapnya sejenak lalu membalikan badan melangkah pergi perlahan meninggalkan Mia yang sedang ketakutan.
Ketika perempuan itu sudah menghilang ditelan gelap. Barulah Mia sadar ada rantang di tangannya. Dia takut bukan main, lalu dia lempar rantang itu ke tanah. Sungguh mengejutkan ratang itu berisi sepasang bola mata dan sepasang telinga dengan kuah darah berwarna merah pekat. Berbau anyir.
Pemandangan yang menjijikan, darah itu mulai meresap ke tanah.
Rasanya Mia mau muntah, tetapi tidak ada yang keluar dari perutnya. Ia berjuang keras meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang terlihat, dan terbaui olehnya itu, sebetulnya hanyalah sesuatu yang hanya dia khayal saja. Tapi tidak, darah itu masih merah, bola mata itu masih di tanah seperti menatap tajam, dan dua telinga yang terserak.
Mia meuntup pintu dengan keras berharap rasa takutnya rontok bersama dengan hentakan pintu. Dia kembali ke sofa, tubuhnya menggigil, wajahnya pucat pasi. Dia gigit kain selimutnya, tak terasa keringat dingin menetes melalui pori-porinya. Mia sangat ketakutan.
Angin malam berhembus pelan masuk melalui cela dan menerpa tubuh Mia. Bulu romanya mulai bergidik. Jantungnya terpompa, keringat dingin membasahi pakainya.
“Grrrhhhuuekkhhh…”
Ada suara berdahak di dalam kamar mandi. Padahal hanya Mia yang berada di rumah ini.
“Grrrhhhhuuekkkhhh…” lagi-lagi saura itu terdengar diikuti suara air kran yang mengucur.
Mia tidak tahan dengan kejadian-kejadian ini. Dia berusaha bangkit dan memberanikan diri, memeriksa siapa yang ada di kamar mandi. Dengan langkah yang mengendap-ngendap. Tubuhnya masih menggigil, dia lihat ada sesosok perempuan di balik pintu kaca kamar mandi yang transaparan. Dia semakin mendekat, dia buka pintu itu meski ragu-ragu.
“Grrrhhhuuekkkhhh…”, seorang wanita berpakaian serba putih berdahak memuntahkan darah merah. Dengan spontan menatap Mia, sorot mata yang merah merembas darah dari matanya. Sorot mata yang sangat menakutkan. Kran juga mengalir darah. Kamar mandi itu menjadi banjir darah. Mia hafal wajah itu, dia adalah pemilik rumah yang menakutkan tapi dia sudah berubah semakin manakutkan.
“Bruuk”, Mia banting pintunya dia lari sekuat tenaga hendak keluar rumah. Namun lampu-lampu rumah satu per satu padam, hanya beberapa lampu remang berwarna kuning yang masih menyala.
Pintu untuk keluar terkunci, entah siapa yang menguncinya. Dia tarik sekuat tenaga tapi tidak berguna. Hanya sia-sia, pintu tetap terkunci, lantas Mia menangis sejadi-jadinya bersandar di tembok dekat pintu. Tubuhnya menggigil hebat. Hanya keringat dingin yang menerjemahkan keadaannya.
Wanita itu muncul dari balik kegelapan dan mulai mendekat, wanita dengan rambut berantakan dan pakaian serba putih. Pakaian yang pajang, sehingga wanita itu melangkah dengan menyeret pakaianya. Wajahnya penuh luka, kadang terdengar suara merintih, kadang suara tawa keluar dari mulutnya.
“Aku butuh bola matamu, aku butuh telingamu, aku butuh darahmu…”, suaranya pelan tapi jelas terdengar di telinga Mia.
“Tidak, tidak, tidak…!!!”, teriak Mia ketakutan.
Wanita itu semakin dekat sangat dekat, Mia palingkan mukanya dia takut menatap wanita dengan darah yang merembes dari matanya, mata yang merah. Tapi tiba-tiba wanita itu menghilang. Lampu-lampu menyala kembali.
Dan pintu yang disandarinya tiba-tiba terbuka. Sontak dia terkejut.
“Aaaaaaaa…!!!”
“Hey Mia, ada apa?”, ternyata dia adalah Rina, lantas dia goyang-goyangkan tubuh Mia yang kaku ketakutan.

Pagi yang kelabu, awan berwarna abu-abu. Sesekali terdengar suara gagak melintasi rumah. Mereka duduk di serambi dan Rina masih memeluk Mia. Tubuhnya kaku, masih terlihat semburat pucat di wajahnya. Mia tidak mengucap sepetah kata pun pada Rina semenjak dia datang. Mulutnya kaku.
Bukan hanya langit yang kelabu, bukan hanya awan yang berwarna abu-abu. Warga komplek pun dikejutkan dengan kabar yang kelabu. Pak RT meninggal dengan cara yang tragis. Sepasang bola mata dan telinganya hilang. Dan pisau dapur berada tepat di depan mayatnya sebelum polisi memeriksa.
Pagi itu bukan hanya Pak RT yang membuat warga komplek terkejut. Terpampang dalam surat kabar diberita utama bahwa.
Ditemukan mayat wanita dan laki-laki di lereng gunung Merapi. Diperkirakan mayat itu sudah mati sebulan yang lalu. Tapi anehnya kelopak mata dan telinga mayat wanita masih terlihat segar meskipun anggota tubuh yang lain sudah membusuk. Dan juga ditemukan sebuah kitab sihir di sisi perempuan itu.
Setengah misteri Mia mungkin telah terungkap. Namun tidak pula membuat rasa takutnya berkurang. Justru dia semakin takut. Dia merasa mungkin saja berikutnya dialah yang kehilangan bola mata dan telinga. Dengan apa dia akan melihat warna dunia ini jika matanya hilang. Dan dengan apa pula dia mendengar deburan ombak jika telinganya hilang. Oh biarlah. Biar Mia saja yang menanggung ketakutan.
Cerpen Karangan: Rendi Mahedra


Kamis, 12 Mei 2016

SEJARAH DITEMUKANNYA RUBELLA


Pada tahun 1814, George Maton, pertama kali menemukan suatu penyakit dengan gejala ringan yang ditandai dengan ruam, adenopati, dan demam. Henry Veale, pada tahun 1866, menamai penyakit dengan gejala tersebut, dengan nama “rubella”. Penyakit ini menarik perhatian dunia kesehatan sampai tahun 1942. Pada tahun itu Norman Gregg menemukan kejadian ibu hamil pada trimester pertamanya mengalami gejala penyakit rubella, melahirkan bayi dengan cacat bawaan. Dampak rubella pada embrio belum dapat diklarifikasi dan dibuktikan dengan penelitian. Tahun 1962, penelitian kultur jaringan dilakukan oleh dua kelompok peneliti secara independen : Parkman, Buescher, dan Artenstein; dan Neva dan Weller. Penelitian ini dilakukan untuk mengisolasi virus rubella.
Banyak peneliti berkonsentrasi melakukan studi epidemiologi terhadap penyakit rubella atas dasar ditemukannya kejadian luar biasa (KLB) pada tahun 1964, yang mempengaruhi sekitar 1% dari kehamilan normal. Manifestasi sementara infeksi rubella pada janin prenatal dan neonatal, meliputi ; thrombocytopenic purpura, hepatitis, lesi tulang, dan meningoencephalitis yang menimbulkan gejala sisa seperti diabetes mellitus, katarak, penyakit jantung, keterbelakangan mental, dan tuli. Penelitian terhadap virus rubella menghasilkan suatu pemahaman mekanisme kerja virus dan keterkaitannya dengan sistem kekebalan tubuh. Virus ini dapat dikendalikan pada tahun 1969 dalam upaya mencegah terjadi penyebaran yang lebih luas.

Rabu, 04 Mei 2016

Perkembangan Menurut Teori Freud

Perkembangan merupakan perubahan psikologis atau mental yang dialami individu dalam proses menjadi dewasa. Perubahan tersebut terbentuk semakin tedeferensiasinya seluruh aspek keperibadian individu tetapi segala aspek yang berkembang itu terorganisasi menajdi satu totalitas.

Sigmund Freud dalam teori perkembangan psikoseksual (1856-1938), ia menjelaskan bahwa fase-fase perkembangan individu didorong oleh energy psikis yang disebut libido. Libido adalah energi psikis yang bersifat seksual dan sudah ada sejak bayi. Freud membagi perkembangan manusia menjadi lima fase.

Fase Oral (0-1 tahun)

Pada fase ini seorang anak memperoleh kepuasan dan kenikmatan yang bersumber pada mulutnya. Hubungan social pada fase ini lebih bersifat fisik, seperti makan atau minum susu. Objek social terdekat adalah ibu, terutama saat menyusu. Bila anak tidak menyusu pada ibunya, maka anak akan memperoleh kepuasan oral dengan memasukan jari-jari tangannya ke mulut.

Fase Anal (1-3 tahun)

Pada fase ini pusat kenikmatan seorang anak terletak didaerah anus, terutama saat defekasi. Pada fase inilah saat yang paling tepat untuk mengajar disiplin pada anak (termasuk toilet traning). Anak sudah menjadi individu yang mampu bertanggung jawab atas beberapa kegiatan tertentu.

Fase Falik (3-5 tahun)

Anak memindahkan pusat kepuasannya pada daerah kelamin. Anak mulai tertarik pada perbedaan anatomis antara laki-laki dan perempuan. Ibu menjadi tokoh yang memberikan kasih saying, perlindungan terhadap rasa aman dan tempat melarikan diri bila menghadapi persoalan. Pada laki-laki keterdekatan pada ibunya menimbulkan gairah seksual dan perasaan cinta yang disebut Oedipus kompleks. Tetapi perasaan ini kemudian diikuti oleh kecemasan kostrasi (takut dopotong alat kelaminnya) hal ini menimbulkan perilaku menurut dan meniru tindak-tanduk tokoh ayah yang dianggap sebagai saingan.

Periode Laten (5-12 tahun)

Fase ini adalah fase tenang, walaupun seorang anak mengalami perkembangan pesat pada spek motorik dan kognitif. Kecemasan dan ketakutan yang timbul pada masa sebelumnya ditekan (repressed). Anak laki-laki lebih banyak bergaul dengan teman sejenis, demikian pula anak perempuan oleh karena itu fase ini disebut juga periode homoseksual alamiah. Anak mencari figure ideal diantara orang dewasa berjenis kelamin sama dengannya.

Fase Genital (>12 tahun)

Pada fase ini alat-alat reproduksi sudah mulai masak, dan pusat kepuasan berada pada daerah kelamin. Energi psikis (libido) diarahkan untuk hubungan heteroseksual. Rasa cintanya pada anggota keluarga dialihkan pada orang lain yang berlawanan jenis. Pengalaman di masa lalu menjadi bekal yang amat berpengaruh pada remaja yang sedang menapak ke dunia dewasa, dunia karier dan rumah tangga.

REFERENSI:

Keliat, Budi Anna;Panjaitan;Helena. 2005. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Ed.2. Jakarta: EGC

Suliswati, Simijatun dkk, 2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC


Selasa, 03 Mei 2016

Teori Kepribadian Erick Erikson

A. Biografi Tokoh

Erik H. Erikson adalah salah satu tokoh psikoanalisa yang lahir di Frankurt,
Jerman, 15 Juni 1902. Ayah kandung Erikson adalah seorang pria kebangsaan
Denmark yang meninggalkan Erikson pada usia tiga tahun sehingga ibu Erikson
yang bernama Karla Abrhamsen menikah lagi dengan Theodore Homberger yang
menjadi ayah tiri Erikson dan nama Hamberger kini menjadi bagian dari nama
Erikson. Setelah lulus SMA, Erikson menjadi seniman namun tidak mengambil kuliah
seni dan memelih berkeliling Eropa untuk menikmati dan belajar seni.
Erikson menjadi guru pada sekolah yang dikelolah Dorothy Burlingham, teman
Anna Freud yang direkomendasikan oleh Peter Blos pada usia 25 tahun. Tahun 1927
– 1933, Erikson belajar sebagai Child Analyst di Vienna Psycholoanalytic Institute
bersama Anna Freud dan menikahi Joan Serson pada tahun 1930 serta memiliki tiga
orang anak. Selama tahun tersebut, Erikson mendapat sertifikan dari Motessori
Education dan Vienna Psychoanalityc Society. Tahun 1933 ketika Nazi berkuasa,
Erikson Pindah ke Copenhagen, lalu pindah ke Denmark dan ke Boston, Amerika.
Erikson mengajar di Harvard Medical School dan membuka praktik psikoanalisis
anak-anak. Di sinilah Erikson bertemu Henry Murray dan Kurt Lewin serta tokoh-
tokoh besar lainnya. Selanjutnya, Erikson mengajar di University of California di
Berkeley dan melakukan penelitian tentang kehidupan modern dalam suku Lakota
dan Yurok. Tahun 1939, Erikson mengubah namanya dari Erik Homberger menjadi
Erik H. Erikson. Pada tahun 1950, Erikson membuat Childhood and Society, analisis
Maxim Gorky dan Adolph Hitler, diskusi “Kepribadian Amerika”, beberapa ringkasan
teori Freudian, dan Gandhi’s Truth yang memenangkan Award dan National Book
Award.
Beberapa tahun kemudian, Erikson meninggalkan Berkeley kemudian bekerja
dan mengajar di sebuah klinik di Massachussets selama 10 tahun, dan 10 tahun
kemudian kembali ke Harvard. Tahun 1970, Erikson menulis dan melakukan
penelitian bersama istrinya dan akhirnya meninggal pada tahun 1994.

B. Struktur Kepribadian

Erikson (Alwisol, 2009:85-88) menyatakan bahwa struktur kepribadian manusia
dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Ego Kreatif
Ego kreatif adalah ego yang dapat menemukan pemecahan kreativitas atas
masalah baru pada setiap tahap kehidupan. Apabila menemukan hambatan atau
konflik pada suatu fase, ego tidak menyerah tetapi bereaksi dengan menggunakan
kombinasi antara kesiapan batin dan kesempatan yang disediakan lingkungan. Ego
yg sempurna memiliki 3 dimensi, yaitu faktualisasi, universalitas dan aktualitas.
a. Faktualisasi adalah kumpulan sumber data dan fakta serta metode yang dapat
dicocokkan atau diverifikasi dengan metode yang sedang digunakan pada suatu
peristiwa. Dalam hal ini, ego berisikan kumpulan hasil interaksi individu dengan
lingkungannya yang dikemas dalam bentuk data dan fakta.
b. Universalitas adalah dimensi yang mirip dengan prinsip realita yang
dikemukakan oleh Freud. Dimensi ini berkaitan dengan sens of reality yang
menggabungkan pandangan semesta/alam dengan sesuatu yang dianggap konkrit
dan praktis.
c. Aktualitas adalah metode baru yang digunakan oleh individu untuk
berhubungan dengan orang lain demi mencapai tujuan bersama. Dalam hal ini,
ego merupakan realitas masa kini yang berusaha mengembangankan cara baru
untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi, menjadi lebih efektif,
progresif, dan prospektif.
Erikson (Alwisol, 2009:86) berpendapat bahwa sebagian ego yang ada pada
individu bersifat tak sadar, mengorganisir pengalaman yang terjadi pada masa lalu
dan pengalaman yang akan terjadi pada masa mendatang. Dalam hal ini, Erikson
menemukan tiga aspek yang saling berhubungan, yaitu body ego, ego ideal dan ego
identity, yang umumnya akan mengalami perkembangan pesat pada masa dewasa
meskipun ketiga aspek tersebut terjadi pada setiap fase kehidupan.
a. Body ego merupakan suatu pengalam individu terkait dengan tubuh atau
fisiknya sendiri. Individu cenderung akan melihat fisiknya berbeda dengan fisik
tubuh orang lain.
b. Ego ideal merupakan suatu gambaran terkait dengan konsep diri yang sempurna.
Individu cenderung akan berimajinasi untuk memiliki konsep ego yang lebih
ideal dibanding dengan orang lain.
c. Ego identity merupakan gambaran yang dimiliki individu terkait dengan diri
yang melakukan peran sosial pada lingkungan tertentu.
2. Ego Otonomi Fungsional
Ego otonomi fungsional adalah ego yang berfokus pada penyesuaian ego terhadap
realita. Contohnya yaitu hubungan ibu dan anak. Meskipun Erikson sependapat
dengan Freud mengenai hubungan ibu dan anak mampu memengaruhi serta menjadi hal terpenting dari perkembangan kepribadian anak, tetapi Erikson tidak
membatasi teori teori hubungan id-ego dalam bentuk usaha memuaskan kebutuhan
id oleh ego. Erikson (Alwisol, 2009:86) menganggap bahwa proses pemberian
makanan pada bayi merupakan model interaksi sosial antara bayi dengan
lingkungan sosialnya.
Lapar adalah menifestasi biologis, dan konsekuensinya akan menimbulkan kesan
terhadap dunia luar bayi ketika mendapat pemuasan id yang dilakukan oleh ibu.
Bayi belajar untuk mengantisipasi interaksi dalam bentuk basic trust pada saat
diberi makan oleh ibunya. Basic trust yang dimaksud yaitu suatu kepercayaan dasar
anak yang memandang kontak dengan manusia dan dunia luar adalah hal yang
sangat menyenangkan karena pada masa lalu (bayi) hubungan tersebut
menimbulkan rasa aman dan menyenangkan terhadap dirinya.
3. Pengaruh Masyarakat
Pengaruh masyarakat adalah pembentuk bagian tersebesar ego, mesikipun
kapasitas yang dibawa sejak lahir oleh individu juga penting dalam perkembangan
kepribadian. Erikson mengemukakan faktor yang memengaruhi kepribadian yang
berbeda dengan Freud. Meskipun Freud menyatakan bahwa kepribadian
dipengaruhi oleh biologikal, Erikson memandang kepribadian dipengaruhi oleh
faktor sosial dan historikal. Erikson (Alwisol, 2009:88) menyatakan bahwa potensi
yang dimiliki individu adalah ego yang muncul bersama kelahiran dan harus
ditegakkan dalam lingkungan budaya. Anak yang diasuh dalam budaya masyakarat
berbeda, cenderung akan membentuk kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai
dan kebutuhan budaya sendiri.

C. Dinamika Kepribadian
Feist dan Feist (2008, 215-217) menyatakan bahwa perwujudan dinamika
kepribadian adalah hasil interaksi antara kebutuhan biologis yang mendasar dan
pengungkapannya melalui tindakan-tindakan sosial. Hal ini berarti bahwa
perkembangan kehidupan individu dari bayi hingga dewasa umumnya dipengaruhi
oleh hasil interaksi sosial dengan individu lainnya sehingga membuat individu
menjadi matang baik secara fisik maupun secara psikologis. Erikson (Alwisol,
2009:87) menyatakan bahwa ego adalah sumber kesadaran diri indvidu. Ego
mengembangkan perasaan yang berkelanjutan diri antara masa lalu dengan masa
yang akan datang selama proses penyesuaian diri dengan realita.
Friedman dan Schustack (2006, 156) mengemukakan bahwa ego berkembang
mengikuti tahap epigenik, artinya tiap bagian dari ego berkembang pada tahap
perkembangan tertentu dalam rentang waktu tertentu. Menurutnya, semua yg
berkembang mempunyai rencana dasar, dan dari perencanaan ini muncul bagian-
bagian, masing-masing bagian mempunya waktu khusus utk menjadi pusat perkembangan, sampai semua bagian muncul untuk membentuk keseluruhan
fungsi.

D. Tahap Perkembangan
Teori psikososial dari Erik Erikson meliputi delapan tahap yang saling berurutan
sepanjang hidup. Hasil dari tiap tahap bergantung pada hasil tahapan sebelumnya,
dan resolusi yang sukses dari tiap krisis ego adalah pentingnya bagi individu untuk
dapat tumbuh secara optimal. Ego harus mengembangkan kesanggupan yang
berbeda untuk mengatasi tiap tuntutan penyesuaian dari masyarakat (Berk, 2003).
Berikut adalah delapan tahapan perkembangan psikososial menurut Erik Erikson
(Berk, 2003):
1. Tahap I : Trust versus Mistrust (0-1 tahun)
Dalam tahap ini, bayi berusaha keras untuk mendapatkan pengasuhan dan
kehangatan, jika ibu berhasil memenuhi kebutuhan anaknya, sang anak akan
mengembangkan kemampuan untuk dapat mempercayai dan mengembangkan asa
(hope). Jika krisis ego ini tidak pernah terselesaikan, individu tersebut akan
mengalami kesulitan dalam membentuk rasa percaya dengan orang lain sepanjang
hidupnya, selalu meyakinkan dirinya bahwa orang lain berusaha mengambil
keuntungan dari dirinya.
2. Tahap II: Autonomy versus Shame and Doubt (l-3 tahun)
Dalam tahap ini, anak akan belajar bahwa dirinya memiliki kontrol atas
tubuhnya. Orang tua seharusnya menuntun anaknya, mengajarkannya untuk
mengontrol keinginan atau impuls-impulsnya, namun tidak dengan perlakuan yang
kasar. Mereka melatih kehendak, tepatnya otonomi. Harapan idealnya, anak bisa
belajar menyesuaikan diri dengan aturan-aturan sosial tanpa banyak kehilangan
pemahaman awal mereka mengenai otonomi, inilah resolusi yang diharapkan.
Alwisol (2009:93) melanjutkan bahwa apabila anak tidak berhasil melewati fase ini,
maka anak tidak akan memiliki inisiatif yang dibutuhkan pada tahap berikutnya dan
akan mengalami hambatan terus-menerus pada tahap selanjutnya.
3. Tahap III : Initiative versus Guilt (3-6 tahun)
Pada periode inilah anak belajar bagaimana merencanakan dan melaksanakan
tindakannya. Resolusi yang tidak berhasil dari tahapan ini akan membuat sang anak
takut mengambil inisiatif atau membuat keputusan karena takut berbuat salah. Anak
memiliki rasa percaya diri yang rendah dan tidak mau mengembangkan harapan-
harapan ketika ia dewasa. Bila anak berhasil melewati masa ini dengan baik, maka
keterampilan ego yang diperoleh adalah memiliki tujuan dalam hidupnya.
4. Tahap IV: Industry versus Inferiority (6-12 tahun)
Pada saat ini, anak-anak belajar untuk memperoleh kesenangan dan kepuasan dari menyelesaikan tugas khususnya tugas-tugas akademik. Penyelesaian yang
sukses pada tahapan ini akan menciptakan anak yang dapat memecahkan masalah
dan bangga akan prestasi yang diperoleh. Keterampilan ego yang diperoleh adalah
kompetensi. Di sisi lain, anak yang tidak mampu untuk menemukan solusi positif
dan tidamencapa apa yang diraih teman-teman sebaya akan merasa
inferior.
5. Tahap V : Identity versus Identity Confusion (12-20 tahun)
Pada tahap ini, terjadi perubahan pada fisik dan jiwa di masa biologis seperti
orang dewasa sehingga tampak adanya kontraindikasi bahwa di lain pihak anak
dianggap dewasa tetapi di sisi lain dianggap belum dewasa. Tahap ini merupakan
masa stansarisasi diri yaitu anak mencari identitas dalam bidang seksual, umur dan
kegiatan. Peran orang tua sebagai sumber perlindungan dan nilai utama mulai
menurun. Adapun peran kelompok atau teman sebaya tinggi. Apabila anak tidak
sukses pada fase ini, maka akan membuat anak mengalami krisis identitas,
begitupun sebaliknya.
6. Tahap VI: Intimacy versus Isolation (masa dewasa muda, 20-30 tahun)
Dalam tahap ini, orang dewasa muda mempelajari cara berinteraksi dengan
orang lain secara lebih mendalam. Ketidakmampuan untuk membentuk ikatan sosial
yang kuat akan menciptakan rasa kesepian. Bila individu berhasil mengatasi krisis
ini, maka keterampilan ego yang diperoleh adalah cinta.
7. Tahap VII: Generativity versus Stagnation (masa dewasa menengah, 30-65 tahun)
Pada tahap ini, individu memberikan sesuatu kepada dunia sebagai balasan dari
apa yang telah dunia berikan untuk dirinya, juga melakukan sesuatu yang dapat
memastikan kelangsungan generasi penerus di masa depan. Ketidakmampuan untuk
memiliki pandangan generatif akan menciptakan perasaan bahwa hidup ini tidak
berharga dan membosankan. Bila individu berhasil mengatasi krisis pada masa ini
maka ketrampilan ego yang dimiliki adalah perhatian, sedangkan bila individu tidak
sukses melewatinya maka akan merasa bahwa hidupnya tidak berarti.
8. Tahap VIII: Ego Integrity versus Despair (masa dewasa akhir, 65 tahun ke atas)
Pada tahap usia lanjut ini, mereka juga dapat mengingat kembali masa lalu dan
melihat makna, ketentraman dan integritas. Refleksi ke masa lalu itu terasa
menyenangkan dan pencarian saat ini adalah untuk mengintegrasikan tujuan hidup
yang telah dikejar selama bertahun-tahun. Apabila individu sukses melewati faase
ini maka akan timbul perasaan puas akan diri, sedangkan apabila mengalami
kegagalan dalam melewati tahapan ini akan menyebabkan munculnya rasa putus
asa.

E. Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan:
1. Erikson menekankan kesadaran individu untuk menyesuaikan diri dengan Sri Utami Halman at 10/09/2014 04:27:00 am
pengaruh sosial.
2. Erikson memandang ego sebagai struktur kepribadian yang otonom, serta
berfokus pada kualitas ego yang muncul di setiap periode perkembangan.
3. Tahap perkembangan lebih kompleks karena mengembangkan teori insting
Freud. Namun Erikson tidak memusatkan seks sebagai hal yg mendasari manusia.
4. Menekankan bahwa perubahan pada setiap tahap perkembangan sangat penting
sehingga individu berusaha semampu mungkin untuk melewatinya.
Kekurangan
1. Nilai ilmiah penelitian yang dilakukan Erikson tidak begitu akurat. Observasi dan
analisis penelitian hanya dilakukan secara subjektif seperti halnya tokoh
psikoanalisis yang lain.

Daftar Pustaka
Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian (edisi revisi). Malang: UMM Press.Feist, J. &
Feist, G. (2008). Theories of Personality (Edisi keenam). Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Berk, L. (2003). Child Development. Berlin: Pearson Education, Inc.
Boeree, C. G. (1997). Personality Theories: An Introduction oleh Dr. C. George Boeree.
Psychology Department Shippensburg University.
Dworetzky, J. P. (1990). Introduction to Child Development. New York: West Publishing
Company.
Feist, J. & Feist, G. (2008). Theories of Personality (Edisi keenam). Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Friedman, H. S. & Schuctack M. W. (2006). Kepribadian: Teori klasik dan riset modern
(edisi ketiga). Jakarta: Erlangga.

jadwal-sholat