Seminar Psikologi Transpersonal

Seminar Psikologi Transpersonal.

Asesmen Pegawai

Asesmen Pegawai.

Proses Rekrutmen Karyawan

Proses Rekrutmen Karyawan.

Pelatihan Pembelajaran Bahasa Inggris Menggunakan Flash Card

Pelatihan Pembelajaran Bahasa Inggris Menggunakan Flash Card.

Pelatihan Psikologi Transpersonal Dalam Menjawab Realita Kehidupan

Pelatihan Psikologi Transpersonal Dalam Menjawab Realita Kehidupan.

Selasa, 01 Desember 2015

Tahun 2010, saya melakukan survey dengan bertanya kepada beberap perempuan bekerja. Pertanyaan saya sangat sederhana, “Bu, bagaimana perasaan ibu dengan kondisi ibu bekerja saat ini, lebih merasa cukup dengan suami saja bekerja atau merasa lebih cukup dengan ibu ikut bekerja?

90% perempuan bekerja menjawab, “Saya merasa cukup dengan hanya suami saja yang bekerja ketimbang saat ini saya ikut bekerja.”

Para istri yang saya survei itu mengaku justru dengan dirinya bekerja, utang keluarga justru bertambah, padahal niat awalnya agar utang suami tidak bertambah parah. Dulu semua yang diinginkan selalu bisa terpenuhi tapi dengan ikut bekerja menjadi selalu kurang, tidak ada yang cukup.

Setelah para istri ini curhat tentang kondisinya, lalu saya bertanya kepada, “Ibu tahu tidak penyebab mengapa dulu saat suami ibu yang bekerja semuanya tercukupi dan sekarang ibu bekerja justru selalu kurang?”

Ibu-ibu itu menggeleng. Mereka hanya heran harusnya dengan ikut bekerja kebutuhan rumah tangga menjadi lebih dari cukup.
Saya sampaikan begini kepada ibu-ibu itu:

Keberkahan rezki ibu telah hilang, ibu-ibu tahu mengapa hilang? Begini, dulu saat suami ibu saja yang bekerja ibu masih sempat mengurus anak-anak berangkat sekolah. Ibu masih sempat membangunkan suami untuk shalat malam. Ibu masih sempat membuatkan sarapan untuknya. Dan ketika suami ibu pulang kerja, ibu sudah cantik berdandan rapi untuk menghilangkan kelelahan suami ibu sore itu. Ibu masak yang terenak untuk suami dan masih sempat membacakan dongeng untuk anak-anak ketika akan tidur dan masih “fresh” saat suami ibu mengajak bercinta.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/09/17/74674/perempuan-bekerja-hentikan-ustadz-aku-tak-tahan-lagi

Pohon

Pohon

Dalam sebuah perjalanan seorang ayah dengan puteranya, sebatang pohon kayu nan tinggi ternyata menjadi hal yang menarik untuk mereka simak. Keduanya pun berhenti di bawah rindangnya pohon tersebut.

“Anakku,” ucap sang ayah tiba-tiba. Anak usia belasan tahun ini pun menatap lekat ayahnya. Dengan sapaan seperti itu, sang anak paham kalau ayahnya akan mengucapkan sesuatu yang serius.

“Adakah pelajaran yang bisa kau sampaikan dari sebuah pohon?” lanjut sang ayah sambil tangan kanannya meraih batang pohon di dekatnya.

“Menurutku, pohon bisa jadi tempat berteduh yang nyaman, penyimpan air yang bersih dari kotoran, dan penyeimbang kesejukan udara,” jawab sang anak sambil matanya menanti sebuah kepastian.

“Bagus,” jawab spontan sang ayah. “Tapi, ada hal lain yang menarik untuk kita simak dari sebuah pohon,” tambah sang ayah sambil tiba-tiba wajahnya mendongak ke ujung dahan yang paling atas.

“Perhatikan ujung pepohonan yang kamu lihat. Semuanya tegak lurus ke arah yang sama. Walaupun ia berada di tanah yang miring, pohon akan memaksa dirinya untuk tetap lurus menatap cahaya,” jelas sang ayah.

“Anakku,” ucap sang ayah sambil tiba-tiba tangan kanannya meraih punggung puteranya. “Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran,” ungkap sang ayah begitu berkesan.**

Keadaan tanah kehidupan yang kita pijak saat ini, kadang tidak berada pada hamparan luas nan datar. Selalu saja ada keadaan tidak seperti yang kita inginkan. Ada tebing nan curam, ada tanjakan yang melelahkan, ada turunan landai yang melenakan, dan ada lubang-lubang yang muncul di luar dugaan.

Pepohonan, seperti yang diucapkan sang ayah kepada puteranya, selalu memposisikan diri pada kekokohan untuk selalu tegak lurus mengikuti sumber cahaya kebenaran. Walaupun berada di tebing ancaman, tanjakan hambatan, turunan godaan, dan lubang jebakan.

“Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran.”

“Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria.” (HR. Muslim).

Kebahagiaan adalah Pilihan

Seorang lelaki berumur 92 tahun yang mempunyai selera tinggi, percaya diri, dan bangga akan dirinya sendiri, yang selalu berpakaian rapi setiap hari sejak jam 8 pagi, dengan rambutnya yang teratur rapi meskipun dia buta, masuk ke panti jompo hari ini. Istrinya yang berumur 70 tahun baru-baru ini meninggal, sehingga dia harus masuk ke panti jompo. Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa jam di lobi, dia tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya telah siap.
Ketika dia berjalan mengikuti penunjuk jalan ke elevator, aku menggambarkan keadaan kamarnya yang kecil, termasuk gorden yang ada di jendela kamarnya. “Saya menyukainya”, katanya dengan antusias seperti seorang anak kecil berumur 8 tahun yang baru saja mendapatkan seekor anjing. “Pak, Anda belum melihat kamarnya, tahan dulu perkataan tersebut.”

“Hal itu tidak ada hubungannya”, dia menjawab. “Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan di awal. Apakah aku akan menyukai kamarku atau tidak, tidak tergantung dari bagaimana perabotannya diatur tapi bagaimana aku mengatur pikiranku. Aku sudah memutuskan menyukainya. Itu adalah keputusan yang kubuat setiap pagi ketika aku bangun tidur. Aku punya sebuah pilihan; aku bisa menghabiskan waktu di tempat tidur menceritakan kesulitan-kesulitan yang terjadi padaku karena ada bagian tubuhnya yang tidak bisa berfungsi lagi, atau turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-bagian yang masih berfungsi.”

Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi bahagia :
1. Bebaskan hatimu dari rasa benci.
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran.
3. Hiduplah dengan sederhana.
4. Berikan lebih banyak.
5. Jangan terlalu banyak mengharap.

Pesan Buat Para Suami

Ingatlah jantung rumahtangga adalah seorang isteri. Jika hati isterimu tidak bahagia maka seisi rumah akan jadi muram. Sepi kerana tiada canda tawa, manja, perhatian. Sayangi isterimu agar dia bahagia. Maka engkau akan merasa seperti di taman syurga.

1. Istri adalah manusia
Mereka adalah kaum wanita yang penuh dengan perasaan emosi. Ketika mereka bahagia dengan setiap hal yang mereka lakukan, maka perasaan mereka tenang dan gembira. Namun jika mereka tertekan dengan apa yang terjadi, maka emosi mereka mulai berkecamuk dan sering ingin mencari jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi.

2. Dengar pendapat istri
Harus sering bertukar pendapat entah itu tentang pendidikan atau profesionalisme. Kemudian, bicarakan tentang hal rumahtangga dan masa depan. Suami bisa menanyakan pandangan istri tentang masalah kerjanya. Bahkan istri tentu tertarik ingin mengetahui 'gosip' kantor setelah seharian berhempas pulas di rumah. Dari situ istri dapat mengenali karakter rekan-rekan kantor suami secara tidak langsung.

3. Berikan pujian kepada istri
Jangan pelit memberi pujian kepada istri dengan mengatakan dia cantik dan rapi. Pujian ini penting untuk menaikkan semangat istri tatkala semangatnya hilang dan luntur. Memanglah wajar istri penat jika dia terpaksa bangun pagi sejak jam lima pagi untuk memastikan semuanya beres demi kemudahan suami dan anak. Kemudian tidur awal karena sibuk menyediakan persiapan untuk esok hari.

4. Menganggap pasangan seperti diri sendiri
Menganggap pasangan sebagai diri sendiri yang harus dihargai, dibelai, dihormati, disayangi dan dicintai. Semua orang suka dibelai dan dikasihi lebih-lebih lagi pasangan suami dan istri. Mengapa setelah menikah cinta tidak sehangat sewaktu pacaran? Inilah yang sering diabaikan oleh banyak pasangan.
Sedangkan pasangan Anda adalah cerminan diri Anda sendiri. Kemana pun Anda pergi bawalah potret wajahnya bersama. Jika ini diamalkan selalu, rumahtangga akan menjadi bahagia.

Suami...Sayangilah istri kita dengan sebaiknya.

Seekor kuda terperosok ke dalam sumur yang sudah kering. Karena sudah tidak mungkin menolong kuda tersebut, maka orang-orang di kampung memutuskan untuk menutup sumur itu. Mereka ingin mengubur kuda itu hidup-hidup supaya bangkainya tidak mengganggu dan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Merekapun bergotong royong mengangkut tanah dan memasukkannya ke dalam sumur. Lalu, apa yang terjadi? Setiap ada tanah yang mengena punggungnya, kuda itu selalu membuangnya ke bawah lalu memindahkan kakinya ke atas tanah tersebut. Semakin tinggi tanah menutupi sumur, maka semakin tinggi pula posisi kuda itu. Sehingga akhirnya ia bisa keluar dari sumur dengan selamat.
Pesan Moral Ke 1:
Begitulah gambaran kita dalam hidup ini. Ketika perjalanan hidup melemparkan beban dan masalah ke punggung kita, maka kesampingkanlah lalu berdirilah dengan kokoh di atasnya, maka suatu saat nanti semua itu akan menaikkan posisi kita ke puncak.
Pesan Moral Ke 2:
Ketika orang-orang meremehkanmu, menghinamu bahkan berusaha menjatuhkanmu... mencelakaimu... justru upaya itu berbalik memberi keberuntungan kepadamu yang terus berjuang, bertahan & pantang menyerah.

~ Moment Change Your Life ~

Mendidik Anak Agar Percaya Diri

Cara mendidik anak dengan baik dan benar tidak cukup hanya dengan memberikan kasih sayang yang pada saat ini banyak diakukan dengan cara menyediakan fasilitas sebanyak mungkin pada anak yang justru tidak semua fasilitas tersebut benar- benar dibutuhkan oleh sang anak. Sebagai contoh yang terjadi di beberapa kota besar saat ini yang mana para orang tua terutama dari kalangan orang yang mampu lebih cenderung memberikan fasilitas yang sesungguhnya tidak perlu seperti memberikan gadget mahal kepada sang anak, yang tentu berdampak pada perkembangan kehidupan sosial mereka. Meskipun orang tua beralasan bahwa hal tersebut dilakukan untuk menyenangkan hati anak, namun secara tidak langsung orang tua telah mengajarkan satu hal yang kurang baik kepada anak, yakni anak menjadi manja dan bergantung dengan gadget yang ia miliki. Sebagai dampaknya, banyak anak dengan fasilitas tersebut menjadi cenderungintrovert dan antisosial karena mereka cenderung lebih suka menyendiri dan asyik dengan gadget yang ada di genggamannya tanpa mempedulikan keadaan sosial yang akan menjadi tempat hidup sesungguhnya bagi sang anak suatu saat nanti.

 Dampak jangka panjang yang ditimbulkan dari terlalu memanjakan anak dengan gadget adalah mereka menjadi tidak percaya diri ketika mereka harus berinteraksi dengan dunia sosial yang baru karena mereka merasa takut untuk tidak diterima di lingkungan yang belum pernah dijamahnya tersebut. Lantas, adakah cara yang tepat untuk memupuk rasa percaya diri pada anak sejak dini? Jawabannya, tentu saja ada. Rasa percaya diri pada anak sesungguhnya dapat dipupuk sejak dini namun, sekali lagi bukan dengan memberikan fasilitas lengkap yang tak semestinya pda mereka sehingga percaya diri mereka timbul karena benda, bukan dari dalam diri mereka sendiri. Terdapat beberapa cara yang disarankan untuk diterapkan pada anak sejak dini agar percaya diri mereka terbentuk dengang benar. Beberapa cara tersebut antara lain sebagai berikut.

Langak pertama yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak agar rasa percaya diri mereka terpupuk sejak dini adalah dengan mengevaluasi pola asuh yang telah dijalankan oleh orang tua selama ini. Yang perlu di evaluasi dalam hal ini adalah bagaimana cara anda mendidik anak anda selama ini. apakah anda tipe orang tua yang terlalu diktator yang entah dengan sengaja atau tidak selalu meminta anak untuk mematuhi semua yang anda katakan? Jika ya, maka besar kemungkinan anak anda akan mematuhi apa yang anda perintahkan karena mengingat bahwa anak- anak usia dini belum mengetahui mana yang benar dan yang salah sehingga mereka cenderung menuruti apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Jika anda termasuk tipe orang tua yang demikian, maka berhati- hatilah karena anak anda secara tidak langsung mengikis rasa percaya diri anak anda karena harus mematuhi semua perintah anda tanpa memberi kesempatan mereka untuk menanyakan apa, mengapa dan bagaimana kepada anda. Jika anda termasuk orang tua seperti ini, maka segeralah untuk mengubah pola asuh anda. Cara yang dapat anda lakukan adalah dengan mengubah pola asuh anda yang diktator menjadi lebih demokratis. Mendidik anak secara demokratis berarti bahwa anda bisa mengendalikan mereka, namun tetap memberikan kebebasan kepada mereka untuk mengemukakan pendapat atau pertanyaan- pertanyaan. Dengan menerapkan pola asuh seperti ini, anak akan cenderung merasa lebih dihargai di lingkungan terdekat dimana mereka tumbuh sehingga suatu saat nanti mereka akan lebih siap untuk menghadapi dunia luar. Dalam hal ini sangat penting bagi orang tua untuk menerapkan sikap realistis kepada anak dengan tidak memuji mereka terlalu berlebihan atau memarahi mereka, sehingga mereka akan lebih  leluasa melakukan hal- hal baru namun tetap dalam kendali anda. Hindari mencekoki anak dengan doktrin- doktrin atau larangan- larangan tertentu yang justru membuat nyali anak semakin menciut karena ketakutan atau ancaman yang telah diberikan dari orang tuanya. Hindari pula menakut- nakuti anak sebagai upaya agar anak tidak melakukan sesuatu yang seungguhnya masih wajar untuk mereka lakukan untuk menghindari anak dari terbentuknya trauma atau rasa ketakutan yang berlebih terhadap suatu hal yang sesungghnya tidak seseram yang mereka bayangkan atau yang telah orang tua mereka ucapkan. Dengan demikian, percaya diri anak akan lebih terpupuk jika dibandingkan dengan mendidik mereka dengan dikte- dikte dan ancaman yang anda berikan.

Cara mendidik anak yang kedua agar membantu mereka memupuk rasa percaya diri adalah dengan selalu memberikan pujian yang tepat. Dalam hal ini, hendaknya orang tua menghindari memuji anak secara berlebihan, namun lebih baik bagi orang tua untuk memuji dari apa yang telah diusahakan oleh sang anak. Jangan memuji anak dengan talenta yang dia miliki, namun pujilah usaha yang telah mereka lakukan seperti memuji usaha keras yang mereka lakukan daripada memuji anak pada saat mendapatkan kemenangan dalam suatu perlmbaan atau prestasi yang lain. dengan melakuka hal tersebut, maka anak akan terhindar dari rasa minder jika suatu saat dia mengalami kegagalan atau kemunduran dari apa yang telah mereka usahakan sebelumnya. Memupuk rasa percaya diri kepada anak dengan memberikan pujian yang teat tidak akan membuat anak merasa malas, namun mereka akan lebih mengetahui bahwa proses lebih penting daripada hasil, sehingga mereka akan terbentuk menjadi pribadi yang percaya diri dan tidak pernah takut dalam menghadapi kegagalan dalam hidupnya.

Cara ketiga yang dapat dilakukan orang tua dalam memupuk rasa percaya diri anak adalah dengan mengajak mereka atau memberikan jadwal sosialisasi kepada mereka. Hal ini penting untuk dilakukan agar anak terbiasa dengan lingkungan sosial di sekitar mereka. Dalam menjalankan agenda sosial pada anak, orang tu adapat menerapkannya dengan mengajak anak pergi ke taman bermain, bertemu dengan teman sebaya serta mengajak mereka jalan- jalan ke tempat yang ramai. Hal ini aka membantu orang tua dalam memupuk kesiapan anak menghadapi orang banyak sehingga mereka merasa lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial. Hal lain yang dapat diterapkan dalam berinteraksi sosial ini adalah dengan mengajarkan cara mengucapkan salam yang baik kepada orang lain sehingga akan terbentuk pribadi yang santun dan sopan terhadap orang lain. Dengan demikian, anak akan merasa diterima dimanapun mereka berada, baik di lingkungan terdekat mereka yakni di dalam keluarga mereka atau di lingkungan luar yang sebelumnya sangat asing bagi mereka.

Kemudian, cara lain tang dapat dilakukan orang tua untuk memupuk rasa percaya diri pada anakn adalah dengan memberikan cerita pengalaman yang menyenangkan. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan membacakan cerita fiksi kepada anak dan mengenalkan beragam karakter yang ada di dalam cerita tersebut. dengan membiasakan anak mengenali berbagai macam karakter, maka anak akan lebih terbuka dalam mengekspresikan rasa senang atau ketidaksenangan mereka terhadap suatu karakter. Selain itu, anak juga akan lebih berani dalam mengemukakan pendapat terutama pada saat mereka diminta untuk menceritakan di depan kelas tentang pengalaman yang mereka alami tanpa ada rasa takut ataupun malu dengan teman- temannya.

Cara lain yang dapat dilakukan agar anak dapat memupuk rasa percaya diri mereka adalah dengan bermain peran. Bermain peran dengan anak akan sangat bermanfaat dalam melatih anak untuk berinteraksi dengan orang lain. melatih anak dalam bermain peran bisa dilakukan dengan mengajak mereka bermain telepon- teleponan dengan orang tua di rumah. permainan sederhana ini dapat membantu meningkatkan percaya diri anak ketika harus berintraksi dengan orang lain tanpa harus bertatap muka. Dengan demikian, rasa percaya diri anak akan semakin meningkat terutama dalam hal berinterakis sosial baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam menerapkan cara mendidik anak terutama untuk memupuk rasa percaya diri mereka sejak dini, orang tua juga hendaknya tidak memarahi anak atas kesalahan yang telah mereka lakukan. Membiarkan anak melakukan kesalahan dengan memberikan resiko teringan pada mereka akan membantu mereka untuk lebih percaya diri dan tidak takut dalam melakukan sesuatu hal baik yang sudah atau yang belum pernah ia lakukan. Dalam hal ini, orang tua bisa menerapkannya dengan membiarkan mereka melakukan hal- hal ringan dalam mmbantu pekerjaan orang tua di rumah dengan memberikan pekerjaan yang beresiko kecil bagi mereka seperti membiarkan mereka membantu kita menyiram bunga, membiarkan mereka membantu ibu dalam menyiapkan makanan di meja makan dengan memberikan mereka tugas ringan seperti membawakan sendok atau perkakas lain yang beresiko kecil terhadap mereka. dengan memberikantreatment seperti ini, anak akan cenderung merasa bahwa keberadaan mereka diakui bahkan dibutuhkan di lingkungan terdekat mereka yakni di dalam lingkungan keluarga. Sehingga, akan terpupuk dalam diri anak suatu rasa percaya diri untuk membantu orang lain dan tidak takut menghadapi resiko yang mungkin ditimbulkan.

Bebrapa cara di atas merupakan cara sederhana yang sangat membantu anak dalam meningkatkan rasa percaya diri mereka. Dalam memupuk rasa percaya diri pada anak, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. peran orang tua sangat penting dalam menemani proses pembentukan rasa percaya diri mereka terutama di usia pra sekolah yang mana usia ini sangat rentan terhadap perasaan trauma pada anak. Berikan kasih sayang yang sewajarnya sehingga anak akan mengetahui bahwa setiap tindakan pasti akan ada resiko yang mengikuti. Cengan mengenalkan anak pada hal- hal yang dapat memupuk rasa percaya diri mereka sejak dini, maka akan terbentuk pribadi yang lebih kuat dan tangguh pada diri anak sehingga ketika ia beranjak dewasa ia akan terbiasa dengan keadaan yang tidak melulu menyenangkan bahkan terkadang penuh dengan tantangan.

Dari beberapa cara di atas, hal terpenting yang tak boleh terlewatkan bagi orang tua dalam memupuk rasa percaya diri anak adalah dengan mengetahui kepribadian mereka terlebih dahulu. Dengan mengetahui tipe kerpibadian yang dimiliki anak, maka orang tua akan lebih mudah dalam mengembangkan rasa percaya diri pada anak sejak dini tanpa adanya suatu pertentangan yang ada pada diri anak tersebut. memupuk rasa percaya diri pada anak sejak dini merupakan salah satu hal terbaik sehubungan dengan cara mendidik anak.

jadwal-sholat