Seminar Psikologi Transpersonal

Seminar Psikologi Transpersonal.

Asesmen Pegawai

Asesmen Pegawai.

Proses Rekrutmen Karyawan

Proses Rekrutmen Karyawan.

Pelatihan Pembelajaran Bahasa Inggris Menggunakan Flash Card

Pelatihan Pembelajaran Bahasa Inggris Menggunakan Flash Card.

Pelatihan Psikologi Transpersonal Dalam Menjawab Realita Kehidupan

Pelatihan Psikologi Transpersonal Dalam Menjawab Realita Kehidupan.

Sabtu, 19 Januari 2013

Makalah Dating



BAB I
PENDAHULUAN

Masa remaja (adolescence) yaitu masa topan badai (strum and drang); yang mencerminkan kebudayaan modern yang penuh pertentangan nilai-nilai. Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Ia tidak termasuk golongan anak maupun golongan orang dewasa atau orang tua. Remaja ada di antara golongan anak dan golongan orang dewasa. Di dalam pikiran dan jasmaninya, remaja mewarnai dan mengeksplorasi dunianya dengan penuh keberanian. Remaja mulai berjerawat dan kikuk, mereka juga mulai mengenal seks. Mereka berusaha sekuat tenaga memainkan permainan – permainan orang dewasa (adult games) tetapi mereka dibatasi oleh komunitas teman-teman sebaya mereka sendiri. Remaja memiliki beberapa kebutuhan yang mendukung dalam perkembangannya, yaitu :
1.      Kebutuhan akan pengendalian diri
2.      Kebutuhan akan kebebasan
3.      Kebutuhan akan rasa kekeluargaan
4.      Kebutuhan akan penerimaan sosial
5.      Kebutuhan akan penyesuaian diri
6.      Kebutuhan akan agama dan nilai-nilai sosial
Setiap perkembangan mempunyai pola perilaku yang memiliki karakteristik. Menurut Havighurst, tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar suatu periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas berikutnya. Akan tetapi jika gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan mengalami kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya (Psikologi Perkembangan, Elizabeth B. Hurlock, h : 9-10). Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja menurut Havighurst, yaitu:
1.      Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik laki-laki maupun perempuan
2.      Mencapai peran sosial laki-laki dan perempuan
3.      Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif
4.      Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab
5.      Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya
6.      Mempersiapkan karier ekonomi
7.      Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
8.      Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi
Salah satu tugas perkembangan yang harus dicapai pada masa remaja adalah mampu menjalin hubungan yang dekat, baik dengan sesama jenis ataupun dengan lawan jenis. Karakteristik dari hubungan dekat yang harus diperhatikan adalah daya tarik fisik. Dalam menentukan sahabat, remaja lebih cenderung untuk memilih sahabat yang lebih memiliki kesamaan dari pada hal-hal yang tidak sama, hal yang sama juga berlaku pada proses kencan pada remaja.
Kenakalan atau perilaku menyimpang pada remaja mengacu pada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial, pelanggaran hingga tindakan-tindakan kriminal (Live Span Development Jilid II, John W. Santrock, h : 22). Ada beberapa perilaku menyimpang pada remaja, yaitu :
1.      Seks bebas di kalangan remaja, yang bisa menyebabkan terjangkitnya penyakit AIDS.
2.      Kecanduan akan narkoba yang menyebakan kematian dan AIDS.
3.      Kecanduan alkohol / minuman keras.
4.      Tawuran.
5.      Sering berkunjung ke diskotik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku menyimpang pada remaja :
1.      Kelalaian orangtua dalam mendidik anak (memberikan ajaran dan bimbingan tentang nilai-nilai agama).
2.      Sikap perilaku orangtua yang buruk terhadap anak.
3.      Kehidupan ekonomi keluarga yang morat marit (miskin/fakir).
4.      Diperjualbelikannya minuman keras/obat-obatan terlarang secara bebas.
5.      Kehidupan moralitas masyarakat yang bobrok.
6.      Beredarnya film-film atau bacaan-bacaan porno.
7.      Perselisihan atau konflik orangtua (antar anggota keluarga).
8.      Perceraian orangtua.
9.      Penjualan alat-alat kontrasepsi yang kurang terkontrol.
10.  Hidup menganggur.
11.  Kurang dapat memanfaatkan waktu luang.
12.  Pergaulan negatif (teman bergaul yang sikap dan perilakunya kurang memperhatikan nilai-nilai moral).
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, remaja akan menghadapi bermacam-macam konflik kehidupan. Konflik-konflik tersebut dapat muncul ketika remaja berinteraksi dengan teman sebaya mereka, dengan keluarga mereka atau pun dengan lingkungan sekitar mereka. Dan beberapa konflik yang dialami remaja tersebut adalah :
1.      Konflik antara kebutuhan untuk mengendalikan diri dan kebutuhan untuk bebas dan merdeka
2.      Konflik antara kebutuhan akan kebebasan dan kebutuhan akan ketergantungan kepada orang tua.
3.      Konflik antara kebutuhan seks dan kebutuhan agama serta nilai sosial.
4.      Konflik antara prinsip dan nilai-nilai yang dipelajari oleh remaja ketika ia kecil dulu dengan prinsip dan nilai yang dilakukan oleh orang dewasa di lingkungannya dalam kehidupan sehari-hari.
5.      Konflik menghadapi masa depan.
Banyak remaja putra dan putri saling mempengaruhi secara sosial melalui teman sebaya yang dimilikinya baik dalam kelompok formal maupun informal, namun melalui kencan kontak yang serius antara dua orang yang berlainan jenis kelamin muncul (Dowdy & Horward, 1993; Feiring, 1994, 95; Levesque, 1993). Bagi remaja laki-laki, banyak masa-masa yang sulit dihabiskan dengan sibuk memikirkan dan khawatir dengan hal-hal seperti, ketika mereka harus menghubungi seorang gadis dan mengajaknya keluar atau tidak.
Pengalaman romantis pada masa remaja dipercaya memainkan peran yang penting dalam perkembangan identitas dan keakraban (Erikson,1968). Kencan dimasa remaja membantu individu dalam membentuk hubungan romantis selanjutnya dan bahkan pernikahan pada masa dewasa. Pada suatu penelitian, remaja yang terlibat dalam satu hubungan romantis melaporkan pengucilan sosial yang lebih sedikit dan rasa kesepian yang rendah daripada teman mereka yang tidak terlibat dalam satu hubungan romantis (Connoly & Johnson, 1993).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Masa remaja adalah masa transisi dalam rentang kehidupan manusia, menhubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa. Masa remaja (adolescence) yaitu masa topan badai (strum und drang) ; yang mencerminkan kebudayaan modern yang penuh pertentangan nilai-nilai. Remaja cenderung banyak menghabiskan waktu bersama teman sebayanya, sehingga tingkah laku dan nilai-nilai yang dipegang banyak dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya. Remaja masa kini menghadapi tuntutan dan harapan, demikian juga bahaya dan godaan, yang tampak lebih banyak dan kompleks daripada yang dihadapi remaja masa lalu (Feldman dan Elliot, 1990 ; Hamburg, 1993 ; Hechinger, 1992).      
Salah satu tugas perkembangan yang harus dicapai pada masa remaja adalah mampu menjalin hubungan yang dekat, baik dengan sesama jenis ataupun dengan lawan jenis. Karakteristik dari hubungan dekat yang harus diperhatikan adalah daya tarik fisik. Dalam menentukan sahabat, remaja lebih cenderung untuk memilih sahabat yang lebih memiliki kesamaan dari pada hal-hal yang tidak sama, hal yang sama juga berlaku pada proses kencan pada remaja. Dalam beberapa kasus khusus dan pada sejumlah kasus dengan karakteristik yang berbeda, ketertarikan antara dua hal yang berbeda terjadi

A.   Dating / Kencan
Pacaran diidentifikasikan sebagai suatu tali kasih sayang yang terjalin atas dasar saling menyukai antar lawan jenis. Apabila kita lihat sepintas dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pacaran merupakan suatu yang wajar dilakukan di kalangan remaja.
Remaja perempuan memiliki keinginan yang lebih kuat untuk penjajakan keintiman dan kepribadian dalam berkencan daripada remaja laki-laki (Duck, 1975). Berkencan bagi remaja adalah suatu konteks dimana harapan-harapan peran yang berkaitan dengan gender meningkat (Life Span Development, J. W. Santrock, h : 48). Kencan merupakan bentuk rekreasi, sebagai sumber status sosial dan keberhasilan, sebgai bagian dari proses sosialisasi, melibatkan proses belajar tentang keakraban, menyediakan situasi untuk kontak seksual, menyediakan kebersamaan, memberikan sumbangan untuk perkembangan identitas dan menjadi sarana untuk memilih dan menyeleksi pasangan (Adolescence, John W. Santrock, hal : 245). Kencan (dalam kamus berbahasa Indonesia) adalah janji untuk saling bertemu(antara teman, kekasih), berkencan adalah mengadakan janji untuk saling bertemu.

B.   Fungsi dan Alasan  Kencan
Tujuan dasar dari kencan sendiri sebenarnya adalah penyeleksian dan pemilihan pasangan yang tepat. Sampai saat ini terdapat 8 fungsi dari kencan (Padgham dan Blyth,1991; Paul dan White, 1990 ; Dian dan Brooks, 1987 ; Skipper dan Nass, 1966) :
1.    Sebagai bentuk rekreasi atau sumber kesenangan
Remaja yang berkencan terlihat sangat menikmatinya dan melihat kencan sebagai sumber kesenangan dan sumber rekreasi.
2.    Sebagai sumber dari status dan keberhasilan.
Maksudnya disini adalah, kencan merupakan bagian dari proses perbandingan sosial mengenai status seseorang yang menjadi teman kencannya, mengenai orang seperti apakah yang dikencani di mata lingkungan.
3.    Sebagai proses sosialisasi.
Maksudnya disini adalah bahwa kencan merupakan salah satu jalan untuk dapat belajar mengenali sikap dan tingkah laku yang baik dalam lingkungan sosial.
4.    Kencan meliputi proses belajar tentang keakraban dan merupakan sebuah kesempatan untuk menciptakan hubungan yang unik dan berarti dengan seseorang dari lain jenis.
5.    Kencan dapat menjadi sarana untuk eksperimen dan penggalian hal-hal seksual.
6.    Kencan dapat memberikan kebersamaan dalam berinteraksi dan beraktivitas bersama-sama dalam hubungan dengan jenis kelamin yang berlainan.
7.    Pengalaman kencan memberikan kontribusi untuk mengenali proses pembentukan dan perkembangan identitas ; kencan membantu para remaja untuk memperjelas perkembangan identitas mereka dan untuk membedakan mereka dari keluarga mereka.
8.    Kencan dapat menjadi alat untuk memilih dan menyeleksi pasangan, sehingga juga tetap memainkan fungsi awalnya sebagai masa perkenalan untuk hubungan yang lebih jauh.
Berdasarkan penelitian, bagi remaja awal dan remaja akhir fungsi berkencan dititik beratkan atau menonjol pada egosentris atau memuaskan dirinya sendiri yaitu sebagai sarana rekreasi. Sedangkan pada remaja akhir fungsi berkencan sudah mulai dititik beratkan untuk menjalani keakraban ; adanya timbal balik dalam hubungan kencan. Terdapat beberapa alasan remaja masa kini untuk berkencan, diantaranya adalah :
1.      Ingin menjadikan kencan sebagai sarana hiburan.
Dimana diharapkan untuk pasangan dapat memberikan keinginan pasangannya dan selalu menyenangkan hatinya.
2.      Ingin tetap menjadi bagian dari anggota kelompok dan ikut dalam kegiatan sosial kelompok.
3.      Ingin menmdapatkan status sosial yang lebih baik, dimana pasangan kencan adalah orang yang memiliki status sosial atau ekonomi yang tinggi, hal tersebut dapat meningkatkan status dalam kellompok sebaya.
4.      Ingin merencanakan hubungan yang lebih matang dengan perkawinan.
5.      Ingin memilih seorang teman hidup yang terbaik.
Remaja menginginkan teman hidup yang cocok dengan dirinya, kesamaan minat, temperamen dan cara pengungkapan kasih sayang.

C.   Pola dan Aturan Kencan Pria dan Wanita
Secara umum dalam berhubungan seorang wanita lebih menitik beratkan pada perhatian dan kasih sayang dari pasangannya. Namun, remaja laki-laki lebih tertarik kepada minatnya terhadap hal-hal seksual. Tak dapat dipungkiri bahwa masing- masing dari mereka memiliki minat yang sama dalam hal seksual seiring dengan lamanya masa mereka berpacaran. Tetapi laki-laki lebih puas untuk melibatkan diri secara seksual dengan pasangannya.
Aturan Kencan (dating script) adalah suatu model kognitif yang digunakan oleh remaja dan dewasa dalam membimbing dan mengevaluasi interaksi kencan mereka. Dalam berkencan laki-laki dan wanita memiliki peranan yang berbeda, yaitu :
1.      Para pria mengikuti aturan kencan yang pro aktif(yang mengajak kencan, mempersiapkan tempat, sarana transport, dan memulai interaksi seksual.)
2.      Para wanita mengikuti kencan yang reaktif (yang diajak kencan, meperhatikan penampilan, dan menikmati kencan yang telah disiapkan.)
Konteks sosiokultural juga memberi pengaruh kuat dalam pola berkencan remaja (Xiaohe dan Whyte, 1990), dimana nilai-nilai dan keyakinan agama manusia dari berbagai kebudayaan sering kali mengatur usia berkencan dimulai, beberapa banyak kebebasan berkencan yang diperbolehkan, apakah butuh pengawasaan orang dewasa, serta peran laki-laki dan perempuan dalam berkencan. Misalnya, budaya Islam yang tidak memperbolehkan pacaran (yang pada umumnya identik dengan kontak fisik), melainkan sekadar proses saling mengenal satu sama lain, tanpa   adanya kontak fisik.

D.   Ketertarikan Remaja Pria dan Wanita
Ada beberapa hal yang berpengaruh menggenai apa yang membuat remaja saling tertarik.
1.      Konsep Validasi Kelompok (Consensual Validation), menjelaskan bahwa remaja memiliki kecenderungan menyukai seseorang yang miriip dengannnya (bukan secara fisik). Aktifitas, sikap, dan tingkah lakunya akan di validasi atau didukung saat seseorang memiliki sikap tingkah laku yang mirip dengannya.
2.      Ketertarikan fisik.
Ada beberapa penelitian untuk mengetahui seberapa jauh fisik mempengaruhi ketertarikan. Secara umum, penelitian tersebut membuktikan bahwa daya tarik fisik sangat mempengaruhi hubungan keakraban para remaja. Mereka yang memiliki daya tarik fisik menarik, biasanya memiliki pengalaman kencan yang lebih banyak, lebih mudah dikenal, dan lebih mudah untuk memiliki pasangan hidup (Simpson, Campbell & Berscheid, 1986). Remaja beranggapan bahwa seseorang yang memiliki daya tarik fisik akan memiliki hal-hal yang menyenangkan juga yang membuat dia merasa nyaman bila berada dengannya.
3.      Konsep Hipotesa Kecocokan (Matching Hypothesis)
Menjelaskan bahwa walaupun remaja lebih memilih seseorang yang terlihat menarik, namun pada akhirnya mereka akan memilih seseorang yang lebih dekat dengan konsep kemenarikan mereka sendiri. Terdapat banyak hal lain yang lebih penting bagi suatu keakraban dan hubungan dibandingkan dengan hanya daya tarik fisik.

E.    Mitos-mitos dalam Pacaran
1.      Berhubungan seks dengan pacar merupakan bukti cinta.
Faktanya, berhubungan seks bukan merupakan cara untuk menunjukkan kasih sayang pada saat masih pacaran, melainkan lebih disebabkan adanya dorongan sensual yang tidak terkontrol dan keinginan untuk mencoba-coba. Rasa sayang dapat ditunjukkan dengan cara yang lain.
2.      Memberi hadiah berupa pakaian dan parfum sa\at masih pacaran bias menyebabkan putus.
Faktanya, itu hanyalah pemberian untuk pacar, tidak ada hubungannya dengan pemberian hadiah terhadap putusnya hubungan dalam pacaran.
3.      Pasangan yang memiliki persamaan hobi dalam berpacaran akan awet.
Faktanya, pacaran tidak hanya karena persamaan hobi, bisa saja karena hobinya sama. Kegiatan yang dilakukan jadi monoton dan menyebabkan kebosanan. Jika hobi yang dimilki berbeda biasanya kegiatan yang dilakukan akan lebih bervariasi.
4.      Pasangan baru jadian diwajibkan mentraktir teman agar awet.
Faktanya, tidak ada hubungannya antara mentraktir teman terhadap awet atau tidaknya pacaran.
5.      Memasang foto berdua dengan pasangannya di dompet menyebabkan cepat putus.
Faktanya, hal itu tidak ada hubungannya sama sekali, memasang foto bukanlah hal yang dapat membuat rusaknya hubungan.

F.      Sumbangan Pemikiran Mahasiswa
  1. Ciri-ciri pacaran yang sehat :
a.         Sehat fisik
Sehat fisik berarti tidak ada kekerasan dalam berpacaran. Biarpun laki-laki secara fisik lebih kuat, bukan berarti bisa seenaknya menindas kaum perempuan. Intinya, dilarang saling memukul, menampar, apalagi menendang.
b.         Sehat emosional
Hubungan  kita dengan orang lain akan terjalin dengan baik apalagi ada rasa nyaman, saling pengertian, dan keterbukaan. Kita tidak hanya dituntut untuk mengenali emosi diri sendiri, tetapi juga mengenali emosi orang lain. Dan yang lebih penting adalah bagaimana kita mengungkapkan dan mengendalikan emosi dengan baik. Kita juga tidak boleh melakukan kekerasan nonfisik, marah, apalagi mengumpat-umpat orang lain, termasuk pacar kita.
c.         Sehat sosial
Pacaran tidak mengikat. Artinya, hubungan sosial dengan orang lain harus tetap dijaga. Kalau pagi, siang, dan malam selalu bersama pacar, akan memberikan efek yang tidak baik dalam pergaulan luar. Kita tidak memiliki pergaulan luar yang seharusnya dialami remaja kebanyakan. Dan bukan tidak mungkin, kita akan merasa asing di lingkungan sendiri. Dalam sehat sosial termasuk di dalamnya adalah komunikasi.
Tiga model komunikasi:
                                       i.              Pasif
Kita sulit untuk mengekspresikan keinginan, perasaan dan pikiran kita. Hal ini akan berefek buruk karena apa yang kita harapkan yidak sesuai dengan kenyataan.
                                     ii.              Agresif
Dalam mengekspresikan keinginan, pikiran, dan perasaan, kita cenderung mendominasikan tidak ramah dan mengabaikan kepentingan orang lain. Model komunikasi seperti in bisa memicu keretakan hubungan kita dengan orang lain.
                                   iii.              Asertif
Ini gaya komunikasi yang paling baik. Kita bisa bersikap tegas dalam mengekspresikan keinginan, perasaan, dan pendapat, tetapi tetap menghargai orang lain juga menjadi pertimbangan sebelum kita mengungkapkan keinginan. Misalnya, menolak dengan sopan dan memberikan alas an yang masuk akal ketika pacar meminta hal yang aneh-aneh.
Cara berkomunikasi tidak mempengaruhi keberhasilan kita berinteraksi dengan orang lain, tetapi lebih jauh lagi, mampu berkomunikasi dengan baik menjadikan kita terampil berkomunikasi dengan menjadiakan kita terampil dalam mengambil keputusan.
d.      Sehat seksual
Secara biologis, pada masa remaja ini akan mengalami perkembangan dan kematangan seks. Tanpa disadari, pacaran juga mempengaruhi kehidupan seksual seseorang. Kedekatan secara fisik bisa memicu keinginan untuk melakukan kontak fisik. Kalau diteruskan, bisa tidak terkontrol atau keterusan. Jadi, dalam berpacaran kita harus saling menjaga. Artinya tidak melakukan hal-hal yang beresiko.

  1. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih pacar
Dalam hal memilih Sesutu memang terkadangmembuat kita pusing, apalagi soal memilih pacar, masing-masing orang memiliki idealisme, atau criteria yang paling cocok, yang perfeksionis, yang sempurna atau malah yang bis apa adanya, memang tidak  ada manusia yang sempurna.
  1. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih pacar:
                         i.            Bentuk Fisik
                       ii.            Materi
                     iii.            Agama
                     iv.            Intelektual
                       v.            Kedewasaan
                     vi.            Hobi dan Minat
                   vii.            Pola pergaulan
                 viii.            Emosi
                     ix.            Orang tua

BAB III
KASUS DAN PEMBAHASAN

Contoh Kasus:
Kasus pada Masa Pacaran Cukup Tinggi
Sabtu, 20 Desember 2008 | 01:00 WIB
YOGYAKARTA, KOMPAS - Kasus kekerasan dalam pacaran masih cukup tinggi, baik bersifat psikis maupun fisik. Berdasarkan catatan Rifka Annisa—organisasi yang memiliki kepedulian terhadap masalah kekerasan pada perempuan—kasus ini urutan kedua setelah kekerasan pada istri.
Kekerasan dalam bentuk fisik, yaitu seperti memukul dan menendang. Adapun kekerasan dalam bentuk psikis bisa berupa pemaksaan, menghina, mengekang, hingga cemburu berlebih yang berujung pada membatasi tindakan positif pasangan. Kekerasan lain yang kerap muncul dalam pacaran adalah menyangkut soal seksual.
Manajer Pendampingan Rifka Annisa, Mei Shofia Romas, Jumat (19/12), mengatakan, setidaknya ada tiga penyebab mengapa kekerasan ini terjadi. Penyebabnya adalah kurangnya kesadaran remaja bahwa yang dialami merupakan tindak kekerasan, adanya ketergantungan emosi dan anggapan masyarakat bahwa remaja harus punya pacar, serta hubungan yang sudah telanjur jauh.
”Karena hubungan (pacaran) sudah telanjur jauh, tak mungkin lepas satu sama lain. Ketika kekerasan itu terjadi, korban pun memilih tak bersikap,” katanya.
Data kasus kekerasan terhadap pacar yang terjadi di DIY dan masuk ke Rifka Annisa sejak 1994 hingga 2007 mencapai 703. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan kekerasan pada istri, 2.425. Kasus kekerasan pada perempuan lainnya adalah perkosaan 281 dan pelecehan seksual 174.
”Hingga November 2008 tercatat 19 kasus kekerasan dalam pacaran, sedang tahun 2007 ada 37,” katanya. Menurut Shofia, data ini belum mencerminkan kondisi sesungguhnya. Jumlah kekerasan tak terlaporkan jauh lebih besar. (WER)
Sumber:


Pembahasan Kasus
 Kebanyakan remaja yang berpacaran saat sedang jatuh cinta, menganggap bahwa pacarnya adalah segalanya dan membuatnya rela diperlakukan atau melakukan apapun untuk pacarnya. Hal tersebut dapat dilihat pada kasus di atas, misalnya kekerasan dalam bentuk fisik, yaitu seperti memukul dan menendang. Adapun kekerasan dalam bentuk psikis bisa berupa pemaksaan, menghina, mengekang, hingga cemburu berlebih yang berujung pada membatasi tindakan positif pasangan. Kekerasan lain yang kerap muncul dalam pacaran adalah menyangkut soal seksual.
Oleh karena itu, sebesar apapun cinta yang kita rasakan pada mereka yang melakukan kekerasan, tetap saja kita tidak dapat membiarkan hal ini terjadi. Kekerasan adalah suatu hal yang harus kita laporkan, dengan demikian pelaku dapat memperoleh penanganan yang tepat (konseling dan terapi). Karena dengan mendiamkan atau tidak melaporkan kekerasan yang terjadi, baik yang kita alami maupun yang dialami oleh teman kita, sama saja artinya kita membiarkan kekerasan itu terjadi, dan hal tersebut tentu bukan sesuatu hal yang kita inginkan. Peran orang tua sangat diperlukan dalam kasus tersebut, antara lain :
1.      memenuhi kebutuhan fisik yang paling pokok; sandang, pangan dan kesehatan
2.      memberikan ikatan dan hubungan emosional, hubungan yang erat ini merupakan bagian penting dari perkembangan fisik dan emosional yang sehat dari seorang anak.
3.      Memberikan sutu landasan yang kokoh, ini berarti memberikan suasana rumah dan kehidupan keluarga yang stabil.
4.      Membimbing dan mengendalikan perilaku.
5.      Memberikan berbagai pengalaman hidup yang normal, hal ini diperlukan untuk membantu anak anda matang dan akhirnya mampu menjadi seorang dewasa yang mandiri. Sebagian besar orang tua tanpa sadar telah memberikan pengalaman-pengalaman itu secara alami.
6.      Mengajarkan cara berkomunikasi, orang tua yang baik mengajarkan anak untuk mampu menuangkan pikiran kedalam kata-kata dan memberi nama pada setiap gagasan, mengutarakan gagasan-gagasan yang rumit dan berbicara tentang hal-hal yang terkadang sulit untuk dibicarakan seperti ketakutan dan amarah.
7.      Membantu anak anda menjadi bagian dari keluarga.
8.      Memberi teladan.

BAB  IV
PENUTUP

            Pacaran pada hakekatnya adalah sebagai suatu tali kasih sayang yang terjalin atas dasar saling menyukai antar lawan jenis. Sehingga dalam menjalani hubungan pacaran seharusnya sesuai pada hakekat sebenarnya.
            Salah satunya dengan menghindari kekerasan dalam pacaran, baik fisik maupun psikis. Pacaran adalah media untuk mengenal lawan jenis sebaiknya dilakukan secara sehat agar tidak meninggalkan luka fisik maupun psikis, yang mengakibatkan rasa trauma, yang nantinya rasa trauma itu akan menghambat berbagai tugas perkembangan seseorrang atau individu tersebut.
            Pacaran yang merupakan salah satu tugas perkembangan remaja, sebaiknya dilakukan sesuai norma dan aturan yang berlaku di lingkungan. Diperlukan kesadaran untuk saling menghargai dan menghormati satu sama lain agar hubungan pacaran dapat berjalan sesuai dengan hakekat pacaran itu sebenarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, E. B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga
Monks, F. J; Knoers, A.M.P; Haditono, S.R. 2006. Psikologi Perkembangan : Pengantar Dalam Berbagai Bagianya. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Santrock, J. W. 2002. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup  Jilid 2. Jakarta : Erlangga
Santrock, J. W. 2003. Adolescence. Jakarta : Erlangga
Sarwono, S. W. 2004. Psikologi Remaja. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
            diakses pada tanggal 14 April 2009 pukul: 14.05 WIB
diakses pada tanggal 12 Mei 2009 pukul 10.21 WIB






Makalah Perkembangan Sosial


BAB I
TEORI

Perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Menjadi orang yang mampu bersosialisasi (sozialed), memerlukan tiga proses. Dimana masing-masing proses tersebut terpisah dan sangat berbeda satu sama lain, tetapi saling berkaitan, sehingga kegagalan dalam satu proses akan menurunkan kadar sosialisasi individu. Menurut Hurlock (1996) tiga proses dalam perkembabangan sosial adalah sbb:
Berperilaku dapat diterima secara sosial
Setiap kelompok sosial mempunyai standar bagi para anggotanya tentang perilaku yang dapat diterima. Untuk dapat bersosialisasi, seseorang tidak hanya harus mengetahui perilaku yang dapat diterima, tetapi mereka juga harus menyesuaikan perilakunya sehingga ia bisa diterima sebagain dari masyarakat atau lingkungan sosial tersebut.
Memainkan peran di lingkungan sosialnya
Setiap kelompok sosial mempunyai pola kebiasaan yang telah ditentukan dengan seksama oleh para anggotanya dan setiap anggota dituntut untuk dapat memenuhi tuntutan yang diberikan kelompoknya.
Memiliki Sikap yang positif terhadap kelompok Sosialnya
Untuk dapat bersosialisasi dengan baik, seseorang harus menyukai orang yang menjadi kelompok dan aktifitas sosialnya. Jika seseorang disenangi berarti, ia berhasil dalam penyesuaian sosial dan diterima sebagai anggota kelompok sosial tempat mereka menggabungkan diri.
Berikut ini akan dijelaskan mengenai perkembangan sosial pada remaja. Akan tetapi sebelumnya akan dibahas tentang pengertian masa remaja menurut para ahli, adalah sebagai berikut:
  • Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif.
  • Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi.
  • Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental.
  • Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikap-sikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu.
  • G. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan).
Pada masa ini tingkat ego seseorang cukup tinggi. Tingkat ego ini atau yang sering disebut egosentrisme adalah penggambaran meningkatnya kesadaran diri remaja yang terwujud pada keyakinan mereka bahwa orang lain memiliki perhatian amat besar, sebesar perhatian mereka, terhadap diri mereka, dan terhadap perasaan akan keunikan pribadi mereka. Hal ini termasuk pemahaman diri seorang remaja dan juga pada akhirnya dilakukan pencarian identitas yang membutuhkan waktu dan tenaga. Tak heran kadang dalam pencarian identitas disertai konflik dengan lingkungan, baik lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, ataupun teman sebaya. Untuk lebih jelasnya, berikut akan dijelaskan lebih rinci.

A.   PEMAHAMAN DIRI
1.     Pengertian
Ø  Gambaran kognitif remaja mengenai dirinya, dasar dan isi dari konsep diri remaja (Santrock, 2003, halaman 333)
2.     Dimensi-dimensi dari Pemahaman Diri Remaja
  1. Abstrak dan Idealistik
Ketika seseorang sudah mulai menginjak usia remaja, cara berpikir mereka sudah mulai berubah menjadi lebih abstrak dan idealistik. Akan tetapi tidak semua remaja menggambarkan diri mereka dengan idealis, namun sebagian remaja membedakan antar diri mereka yang sebenarnya dengan diri yang diidamkannya. Dan untuk dapat membedakan antara cara berpikir abstrak dan idealis, berikut contohnya.
Perhatikan deskripsi abstrak dari Laurie yang berusia 14 tahun, mengenai dirinya: “Saya seorang manusia. Saya tidak dapat memutuskan sesuatu. Saya tidak tahu siapakah diri saya”. Perhatikan juga deskripsi idealistik dari diri Laurie: “Saya orang yang sensitf yang sangat peduli tentang perasaan orang lain. Saya rasa, saya cukup cantik”
    1. Terdiferensiasi
Remaja dalam memahami dirinya bias berbeda-beda tergantung dalam situasi atau konteks apa remaja tersebut berada. Inilah yang disebut dengan terdiferensiasi. Hal ini dicontohkan jika seorang remaja berada dalam lingkungan keluarga, dia akan memberikan karakteristik misal A, sedangkan dalam lingkungan teman sebaya dia akan memberikan karakteristik B. Karakteristik yang dibrikan akan berbeda-beda tergantung situasinya
    1. Kontradiksi dalam diri
Kebutuhan untuk mendiferensiasikan diri ke dalam banyak peran dalam konteks yang berbeda-beda ada dalam diri remaja, lalu munculah kontradiksi antara diri-diri yang terdiferensiasi ini. Terdapat sejumlah istilah yang kontradiktif  yang digunakan remaja dalam mendeskripsikan dirinya ( Saya adalah remaja yang berubah-ubah perasaan hatinya dan mudah memahami, jelek dan menarik, mudah bosan dan penuh ingin tahu, peduli dan tidak peduli, tertutup dan suka bersenang-senang dan sebagainya )
    1. Fluktuasi Diri
Adanya sifat kontradiktif dalam diri pada masa remaja membuat munculnya fluktuasi diri remaja dalam berbagai situasi dan waktu tidaklah mengejutkan. Diri remaja akan terus memiliki cirri ketidakstabilan hingga tiba suatu saat dimana seorang remaja berhasil membentuk teori mengenai dirinya yang lebih utuh, dan biasanya tidak terjadi hingga masa remaja akhir atau bahkan diawal masa dewasa.
    1. Diri yang nyata dan ideal, diri yang benar dan yang palsu
Munculnya kemampuan remaja untuk mengkonstruksikan diri mereka yang ideal disamping diri yang sebenarnya menjadi sesuatu yang membingungkan bagi remaja.

f.        Perbandingan Sosial
Beberapa ahli perkembangan meyakini bahwa remaja, dibandingkan dengan anak-anak, lebih sering menggunakan perbandingan social untuk mengevaluasi diri mereka sendiri.
g.      Kesadaran Diri
Remaja lebih sadar akan dirinya dibandingkan dengan anak-anak dan ebih memikirkan tentang pemahman dirinya.
h.     Perlindungan Diri
Mekanisme untuk mempertahankan diri sendiri merupakan bagian dari pemahaman diri remaja.
    1. Ketidaksadaran
Pemahaman diri melibatkan adanya pengenalan bahwa komponen yang tidak disadari termasuk dalam dirinya, sama seperti halnya dengan komponen yang disadari.
j.        Integrasi Diri
Pamahaman diri remaja, terutama di masa remaja akhir, menjadi lebih terintegrasi dimana bagian yang berbeda-beda dari diri secara sistematik menjadi suatu kesatuan.

B.   PENCARIAN IDENTITAS
      Erikson mendefinisikan pencarian identitas sebagai konsepsi tentang diri, penentuan tujuan, nilai, dan keyakinan yang dipegang teguh oleh seseorang menjadi fokus pada masa remaja.
Erikson : Identitas vs Kebingungan Identitas
      Menurut Erikson (1968), tugas utama masa remaja adalah memecahkan “krisis” identitas versus kebingungan identitas, untuk dapat menjadi orang dewasa ini dengan pemahaman akan diri yang utuh dan memahami peran nilai dalam masyarakat. Merujuk kepada Erikson, remaja tidak membentuk identitas mereka dengan meniru orang lain, sebagai mana yang dilakukan anak yang lebih muda, tetapi dengan memodifikasi dan menyintesis identifikasi lebih awal kedalam struktur psikologi baru yang lebih besar.
      Erikson melihat bahaya utama tahap ini adalah kebingungan identitas, yang dapat memperlambat pencapaian kedewasaan psikologis. Identitas terbentuk ketika remaja berhasil memecahkan tiga masalah utama : pilihan pekerjaan, adopsi nilai yang diyakini dan dijalani, dan perkembangan seksual yang memuaskan.
        Marcia: Status Identitas-Krisis dan Komitmen
Ø  Krisis adalah istilah yang digunakan Marcia bagi periode pengambilan keputusan yang disadari, yang berkaitan dengan pembentukan identitas.
Ø  Komitmen adalah istilah yang digunakan Marcia bagi investasi personal dalam pekerjaan atau system kepercayaan. Marcia menemukan 4 tipe status identitas :
1.     Identity Achievment: status identitas, dideskripsikan oleh Marcia, yang ditandai dengan komitmen untuk memilih menjadikannya sebuah krisis, sebuah periode yang dihabiskan untuk mencari alternatif.
2.     Foreclosure : status identitas, yang dideskripsikan oleh Marcia, dimana seseorang tidak menghabiskan banyak waktu mempertimbangkan berbagai alternative (dan arena itu, tidak pernah berada dalam krisis) dan melaksanakan rencana yang disiapkan orang lain untuk dirinya.
3.     Moratorium : status identitas, dideskripsikan oleh Marcia, dimana seseorang sedang mempertimbangkan berbagai alternative (dalam krisis) dan tampaknya mengarah kepada komitmen.
4.     Identity Difusion : status identitas, yang dideskripsikan oleh Marcia, yang ditandai oleh keadaan komitmen dan kurangnya pertimbangan serius terhadap berbagai alternatif yang tersedia.

C.    PEER GROUP
1.     Pengertian
Peer group atau kelompok teman sebaya adalah kelompok yang memiliki kesamaaan status sosial, tingkat usia atau tingkat kedewasaan yang sama, dan persamaaan minat. Pada umumnya, individu memiliki hubungan kekuatan yang sama ketika mereka berinteraksi dengan teman sebayanya. Teman sebaya adalah individu yang tingkat dan kematangan serta umurnya kurang lebih hampir sama. ( Santrock, 2003, h.219 )

2.     Fungsi
Ø  Kelompok teman sebaya merupakan sumber afeksi, simpati, pemahaman, dan panduan moral;
Ø  Kelompok teman sebaya juga merupakan tempat bereksperimen
Ø  Setting untuk mendapatkan otonomi dan independensi dari orang tua.
Ø  Untuk menyediakan berbagai informasi mengenai dunia diluar keluarga.
Ø  Remaja menerima umpan balik mengenai kemampuan teman dalam satu kelompok

3.     Peranan Peer Group
Pengaruh teman sebaya mencapai puncaknya pada awal masa remaja. Mereka cenderung memilih teman yang mirip dengan diri mereka, dan teman menjadi saling mempengaruhi untuk menjadi semakin mirip. Mereka mampu mengekspresikan pemikiran dan perasaan pribadi mereka. Mereka juga lebih siap mempertimbangkan sudut pandang orang lain, dan lebih mudah untuk memahami dan pemikiran dan perasaan teman. Kepercayaan terhadap teman dapat membantu mereka untuk mengeksplor perasaan mereka sendiri.
Hubungan teman sebaya yang baik mungkin diperlukan untuk perkembangan sosial yang normal pada masa remaja. Ketidak mampuan remaja untuk masuk kedalam suatu lingkungan sosial pada masa remaja dihubungkan dengan berbagai masalah dan gangguan. Jadi, pengaruh teman sebaya dapat positif maupun negatif. Menurut Piaget maupun Sullivan, menekankan bahwa teman sebaya memberikan konteks untuk mempelajari pola hubungan yang timbale balik dan setara.

4.     Bentuk Hubungan Teman Sebaya
ü  Kerumunan : bentuk yag terbesar, yang diartikan secara luas, dan hubungannya paling tidak bersifat personal dilingkungan teman sebaya remaja. Anggota kerumunan bertemu karena minat yang sama dalam suatu aktifitas.
ü  Klik : Kelompok dengan jumlah yang lebih kecil, melibatkan keakraban yang lebih besar diantara anggota dan lebih cohesive daripada kerumunan. Namun, Klik memiliki ukuran yang lebih besar dan tingkat keakraban yang lebih rendah daripada resahabatan.
Menurut Papalia ( 2008, h. 618 ) Kelompok teman sebaya didefinisikan menjadi lima status kelompok :
1.      Popular yaitu remaja yang menerima banyak nominasi positif.
2.      Ditolak yaitu remaja yang menerima begitu banyak nominasi negatif
3.      Diabaikan yaitu remaja yang hanya menerima sedikit kontribusi baik positif dan negatif.
4.      Kontriversial yaitu remaja yang menerima banyak kontribusi baik positif maupun negatif.
5.      Rata-rata yaitu remaja yang menerima jumlah normal nominasi dari kedua jenis tersebut.

D. KONFORMITAS PADA REMAJA
1.     Pengertian
v  Penyesuaian diri dengan masyarakat dengan cara mengindahkan norma dan nilai masyarakat.( Soerjono Soekanto, 2000 )
v  Seseorang berperilaku terhadap orang lain sesuai dengan harapan merupakan bentuk interaksi yang di dalamnya kelompok ( Kamanto Sunarto, 2004 )
v  Konformitas tidak hanya bertindak atau bertingkah laku seperti yang orang lain llakukan tetapi juga terpengaruh bagaimana orang lain bertindak.(Kiesler,1969)
v  Laki-laki cenderung berperilaku sesuai dengan apa yang diharapkan dari laki-laki dan perempuan berperilaku seperti harapan orang dari perempuan. Berperilaku sebagai laki-laki atau perempuan lebih disebabkan karena identitas diri sebagai laki-laki atau perempuan yang diberikan kepada kita melalui sosialisasi. Bayi laki-laki dan bayi perempuan diperlakukan berbeda, diberikan pakaian berbeda, diberi mainan berbeda (Henslin,1997).
v  Muzafer Sherif (1966) yang dikutip oleh Zanden (1979) melakukan eksperimen di Columbia University, para subyek penelitian adalah 2 orang mahasiswa yang diminta memperkirakan jarak gerak suatu titik cahaya di layar dalam suatu ruang gelap. Di kala eksperimen dilakukan dengan masing-masing subjek secara terpisah, jawaban-jawaban yang diberikan cenderung berbeda satu dengan yang lain. Namun manakala eksperimen dilakukan dengan beberapa orang subyek sekaligus dan para subjek dimungkinkan untuk saling mempengaruhi, maka jawaban subyek cenderung sama. Dari eksperimen ini Sherif menyimpulkan bahwa dalam situasi kelompok orang cenderung membentuk suatu norma sosial. Dari hal itu pula disimpulkan bahwa menurut M. Sherif, konformitas berarti keselarasan,kesesuaian perilaku individu-individu anggota masyarakat dengan harapan-harapan masyarakatnya, sejalan dengan kecenderungan manusia dalam kehidupan berkelompok membentuk norma sosial.
Contoh : Pola memberi sumbangan, pelanggaran lalu lintas, dan lain-lain. Dari  uraian mengenai berbagai pengertian “konformitas” di atas, dapat disimpulkan bahwa konformitas adalah suatu bentuk sikap penyesuaian diri seseorang dalam masyarakat/kelompok karena dia terdorong untuk mengikuti kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang sudah ada.
           
2.     Jenis-jenis Konformitas
a. Compliance : Konformitas yang benar-benar bertentangan dengan keinginan kita, dilakukan untuk mendapat hadiah atau menghindari hukuman.
b. Acceptance : Ada beberapa hal yang dapat kita jadikan alasan untuk melakukan konformitas tersebut, tidak sepenuhnya kita ingkari.

3.     Kapan manusia melakukan konformitas?
ü  Ketika keputusan sudah dibuat atau pokok bahasan yang dibicarakan dirasa  tidak kompeten
ü Konformitas tinggi pada saat tiga atau lebih orang dalam grup kohesif, unanimous mempunyai status sosial yang tinggi. (kohesi=merasa/mengikat, unanimous = suara bulat/kesepakatan)

4.     Alasan orang melakukan konformitas :
a.      Keinginan seseorang untuk memenuhi harapan orang lain atau mengupayakan penerimaan/ penyesuaian diri (normative influence).
b.      Perilaku orang lain memberikan informasi yang bermanfaat (informational influence).

5.     Hal-hal yang mempengaruhi adanya Konformitas
(David O. Sears, Jonathan L.Freedman, L.Anne Peplau , 1985)
                                                                                              
a.      Kurangnya Informasi
Orang lain merupakan sumber informasi yang penting. Seringkali mereka mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui; dengan melakukan apa yang mereka lakukan, kita akan memeperoleh manfaat dari pengetahuan mereka.
b.     Kepercayaan terhadap kelompok
Dalam situasi konformitas, individu mempunyai suatu pandangan dan kemudian menyadari bahwa kelompoknya menganut pandangan yang bertentangan. Individu ingin memberikan informasi yang tepat. Oleh karena itu, semakin besar kepercayaan individu terhadap kelompok sebagai sumber informasi yang benar, semakin besar pula kemungkinan untuk menyesuaikan diri terhadap kelompok.
c.      Kepercayaan diri yang lemah
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi rasa percaya diri dan tingkat konformitas adalah tingkat keyakinan orang tersebut pada kemampuannya sendiri untuk menampilkan suatu reaksi. Semakin lemah kepercayaan seseorang akan penilaiannya sendiri, semakin tinggi tingkat konformitasnya. Sebaliknya, jika dia merasa yakin akan kemampuannya sendiri akan penilaian terhadap sesuatu hal, semakin turun tingkat konformitasnya.
d.     Rasa takut terhadap celaan sosial
Celaan sosial memberikan efek yang signifikan terhadap sikap individu karena pada dasarnya setiap manusia cenderung mengusahakan pesetujuan dan menghindari celaan kelompok dalam setiap tindakannya. Tetapi, sejumlah faktor akan menentukan bagaimana pengaruh persetujuan dan celaan ibi terhadap tingkat konformitas individu.
e.      Rasa takut terhadap penyimpangan
Rasa takut dipandang sebagai orang yang menyimpang merupakan faktor dasar hampir dalam semua situasi sosial. Kita tidak mau dilihat sebagai orang yang lain dari yang lain, kita tidak ingin tampak seperti orang lain. Kita ingin agar kelompok tempat kita berada menyukai kita, memperlakukan kita dengan baik dan bersedia menerima kita.
f.        Kekompakan kelompok
Konformitas juga dipengaruhi oleh eratnya hubungan antara individu dengan kelompoknya. Kekompakan yang tinggi menimbulkan konformitas yang semakin tinggi.
g.      Kesepakatan kelompok
Orang yang dihadapkan pada keputusan kelompok yang sudah bulat akan mendapat tekanan yang kuat untuk menyesuaikan pendapatnya. Namun, bila kelompok tidak bersatu akan tampak adanya penurunan tingkat konformitas.
h.     Ukuran kelompok
Konformitas akan meningkat bila ukuran mayoritas yang sependapat juga meningkat, setidak-tidaknya sampai tingkat tertentu. Namun, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wilder (1977) disimpulkan bahwa pengaruh ukuran kelompok terhadap tingkat konformitas tidak terlalu besar, melainkan jumlah pendapat lepas (independent opinion) dari kelompok yang berbeda atau dari individu merupakan pengaruh utama.
i.        Keterikatan pada penilaian bebas
Orang yang secara terbuka dan bersungguh-sungguh terikat suatu penilaian bebas akan lebih enggan menyesuaikan diri terhadap penilaian kelompok yang berlainan. Atau dengan kata lain keterikatan sebagai kekuatan total yang membuat seseorang mengalami kesulitan untuk melepaskan suatu pendapat.
j.        keterikatan terhadap Non-Konformitas
Orang yang, karena satu dan lain hal, tidak menyesuaikan diri pada percobaan-percobaan awal cenderung terikat pada perilaku konformitas ini. Orang yang sejak awal menyesuaikan diri akan tetap terikat pada perilaku itu.

6.     Bentuk-bentuk Konformitas
a.      Konformitas negatif
contoh konformitas negatif seperti menggunakan bahasa yang jorok, mencuri, merusak, dan mengolok-olok orang tua dan guru.
b.     Konformitas Positif
Contoh dari komformitas positif seperti berpakaian seperti teman-teman dan keinginan untuk meloangkan waktu dengan anggota-abggota suatu klik.

7.     Contoh konformitas
Didalam sekolah, kelompok remaja sering juga dapat menimbulkan kesukaran bila para pemimpin nonformal dalam kelas bertentangan dengan peminpin formal atau gurunya. Bila pelajaran yang diberikan dipandang tidak ada artinya maka situasi konflik sosial tersebut dengan mudah dapat terjadi. Disini juga ketua kelas dapat memegang peranan yang tidak mudah. Ia secara setengah formal dan setengah tidak formal diserahi tugas untuk mengatur kepentingan kelasnya. Ketua kelas dapat terjepit antara guru dan pemimpin kelompok.
Konformitas terhadap perilaku merokok pada remaja terkait juga dengan proses perkembangan kepribadian dan sosial yang terjadi pada masa remaja awal, perhatian yang berkembang pada masa remaja adalah apa yang menurut mereka benar pada simbol status. Simbol status yang sering digunakan oleh remaja adalah rasa ingin dianggap sebagai orang yang dewasa. Untuk memperoleh pengakuan ini seorang remaja akan melakukan hal-hal yang mereka anggap lazim dilakukan oleh orang dewasa dan bila saatnya bagi mereka untuk memungkinkan hal ini. Hurlock (1980) menyebutnya dengan taboo pleasure atau kesenangan yang ditabukan, yaitu bentuk-bentuk perilaku yang dianggap tabu untuk dilakukan remaja, karena mereka masih terlalu muda.
Pada penelitian Hurlock (1980) yang mengungkapkan bahwa perilaku merokok bisa dimulai pada saat anak mulai duduk dibangku SMP tingkat pertama, sedangkan Sarafino (1994) mengungkapkan bahwa di Amerika Serikat remaja mulai mengenal rokok pada saat mereka berusia 11 tahun.

E.    LONERS
Loner memerlukan banyak waktu pribadi dan cenderung menghindari orang lain.  Seorang penyendiri adalah individu yang tidak aktif bergerak, menghindar, atau cenderung mengucilkan diri dari berinteraksi. Banyak alasan bagi kesepian, kesengajaan atau semacamnya. Beragam penyakit mental, kesulitan bersosialisasi dan anggapan pribadi bisa merupakan alasan untuk menyendiri. Meskipun penyendiri tidak memiliki sesuatu alasan yang jelas. Penyendiri biasanya di umpamakan sebagai hal negative dimana terdapat kepercayaan bahwa manusia adalah pencipta hubungan sosial dan tak ada satupun yang berbeda. Pen”cap”an oleh media sering kali merendahkan para penyendiri dianggap sebagai aneh dan kaku. Penyendiri mungkin bangga atau justru malu atas perilakunya.
Dalam beberapa kasus, terdapat romantisme tertentu dalam pemikiran penyendiri bahwa mereka adalah sosok yang special dan unik. Hal ini dapat menampilkan suatu catatan bahwa sesungguhnya orang hebat sering kali bersembunyi dibalik bayangan masyarakat yang buruk atau melebihi standart keberadaan. Sebagai hasilnya adalah konsep dimana seorang penyendiri merupakan pahlawan yang mucul belakangan.
Kemungkinan terjadi, beberapa individu menolak atau merasa tak mampu dalam berinteraksi dengan orang lain. Karena persepsinya atau justru akibat perasaan hebat secara intelek ataupun etis. Mereka hanya berhubungan dengan individu yang mereka percaya memiliki waktu dan perhatian untuk mereka. Oleh karena itu, penyendiri ini memiliki sedikit hubungan yang akrab. Banyak individu yang bukan penyendiri merasa aneh ketika berhadapan dengan penyendiri, karena mereka berpersepsi bahwa penyendiri menghina tanpa sepengetahuan mereka.
Penyendiri mungkin dapat bersosialisasi dengan orang yang membuat mereka percaya diri. Hal tersebut dapat menghabiskan banyak waktu akibat membangun tersebut. Jika seseorang yang tak dikenal memasuki kelompok penyendiri, maka kelompok penyendiri akan langsung menghindarinya. Malu atau merasa tidak percaya diri, terkadang beberapa penyendiri dapat bersosasialisasi hanya dengan orang yang mereka lihat seketika. Hal ini dapat terjadi karena banyak yang tidak menyadari dan percaya bahwa seseorang lebih membanggakan diri sendiri. Penyendiri merasa tidak aman karena dia berfikir bahwa mereka akan manghakiminya. Kegelisahan merupakan hal yang biasa dalam interaksi sosial mereka. Kebencian pada diri sendiri terkadang merupakan sebuah motivasi kenapa seseorang mengisolasi diri mereka sendiri. Sebuah pengertian mengasingkan diri dari kehidupan sosial dapat dijadikan sebagai alasan yang kuat.
Ketika mengutarakan keinginan untuk menyendiri, penyendiri sama sekali tidak perlu menolak kontak dengan orang lain. Contohnya, seseorang yang menjauhkan diri dari interaksi sosial dengan teman kerja yang  berlebihan yang merupakan kebutuhan untuk memenuhi pekerjaannya, tetapi seseorang yang memiliki kharisma yang lebih tinggi selama memiliki hubungan sosial dengan orang diluar pekerjaan atau sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, Elisabeth B. Perkembangan Anak. Jilid 1. Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.
Mönks, F. J. 2006. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Papalia, D. E., dkk. 2008. Human Development. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Santrock, John W. 2002. Perkembangan Masa Hidup. Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
-----------------------. 2003. Adolescence Perkembangan Remaja. Jakarat: Erlangga.
http:wangmuba.com/2009/02/22/perkembangan-sosial-pada-masa-anak-anak-akhir-dan-remaja
www.gunadarmacentraldigitallibrary.com
Wikipedia.com/2009/04/14

jadwal-sholat